Sellena

Sellena
Nona Besar?


Aku penuhin permintaan seseorang tentang Nick. Happy Reading AllπŸ˜‰


.


.


"Berhenti berjalan seperti setrikaan!!" Jerremy melempar kepala adiknya dengan bantal karena merasa terganggu dengan Jackson yang sedari tadi mondar-mandir.


"Aku ini mengkhawatirkan Ella dan kekasihku. Bagaimana jika mereka diperlakukan tidak baik di sana? Belum lagi kita belum melakukan terapi apapun pada Ella. Aishhh, aku pusing"


"Aku lebih pusing lagi melihat kau berjalan sana-sini mondar-mandir tidak jelas. Duduk, atau kupatahkan kakimu sehingga kau bisa diam tenang?"


"Nasib punya kakak galak" Jackson mencibir lalu duduk diam sebab dia takut Jerry benar-benar melaksanakan ancamannya.


"Duduk tenang dan berpikirlah. Aku juga menghawatirkan mereka terlebih Ella yang masih diam terpaku seperti itu. Kita tidak bisa menjemput Ella karena kita akan dituduh melecehkan istri orang"


"Apa kita akan pasrah seperti ini? Mama sampai drop karena tensinya naik. Aku ingin minta bantuan Steven tapi itu justru akan memperkeruh suasana"


"Pilihan yang kita punya hanyalah biarkan Ella di sana terlebih dahulu sambil menunggu kesempatan membawa kabur Ella dan menyembunyikannya."


"Aku setuju"


Gia yang menguping segera memberi informasi itu pada Ella.


***


"Sudah seminggu kita di sini. Aku sangat bosan" Emma sama seperti J yang menjadi setrikaan. Kontak batin mungkin? Siapa tahu.


"Berhenti berjalan ke sana lalu ke sini. Aku pusing" Ella memijat pelipisnya melihat kelakuan Emma kayak cacing kepanasan tersebut.


"Ada apa?" Tanya Emma pada pelayan rumah itu begitu membuka pintu.


"Anda dan Nyonya Muda diminta ke ruang tengah"


"Katakan pada mereka tunggulah lima menit lagi"


"Baik Nona. Kalau begitu saya permisi" Pelayan membungkuk hormat dan berlalu.


Dia adalah salah satu pelayan yang Emma selamatkan dari terkaman harimau tua Jenko Derbaltroz sehingga dia sangat menghormati Emma.


"Kita disuruh ke ruang tengah. Mungkin akan ada sedikit drama lagi nanti jadi aku akan berdandan sedikit. Pandanganmu juga sudah oke. Mari bersandiwara"


"Emmm" Sahut Ella singkat.


Emma mendorong kursi roda Ella dengan semangat untuk menemui korban kecerewetannya nanti. Dia tersenyum senang melihat wajah Laura yang ditekuk.


"Halo tante, apa kabar? Semoga baik-baik saja ya?" Sapa Emma ramah.


"El, kita jalan-jalan yuk" Ajak Nick sambil berjongkok depan Ella.


Jalan-jalan? Tumben. Batin Ella curiga.


"Kita bertiga jalan-jalan ya? Sekalian refreshinglah. Aku tahu kamu bosan di sini" Erine mendorong Emma dan mengambil alih pegangan kursi roda.


"Wah, pelakor main dorong-dorong. Sini aku sudah siap buat tarik-tarikan" Emma menggulung lengan bajunya memperlihatkan otot yang sedikit kekar.


"Dia hanya bercanda. Kami akan membawa Ella berbelanja jadi kau bisa menemani mama di rumah" Nick menengahi segera, takut selingkuhannya itu babak belur.


"Aku sama tante rempong? Tidak takut rumah ini roboh karena pertengkaran kami?" Emma menunjuk Laura yang sedang duduk memperhatikan mereka dari tadi.


"Anak tidak tahu sopan santun!!!"


"Makanya tante juga sopan dong jadi orangtua biar saya juga sopan. Tante saja rempongnya minta ampun apalagi saya yang tukang meniru ini. Ya sudah bawa Ella sana. Pulang dengan selamat. Kalau tidak selamat pun cukup kalian berdua saja yang kena karma" Emma mengusir mereka dan segera duduk di depan harimau betina yang sedang menatapnya tajam.


"Auww... Takut sama tatapan tante. Tante lapar? Aku masakin makanan enak mau?" Emma mulai bicara ngawur.


"Apa ibumu tidak mengajarimu sopan santun?"


"Tidak tuh! Aku kan yatim piatu. Keluargaku hanya Ella seorang. Aish... Untuk apa memberitahu tante? Ujung-ujungnya kata jahat saja yang keluar. Tante, kata pepatah nih ya bukan kata saya, saya cuman copy paste saja... Mulutmu, harimaumu. Jaga mulut, jaga badan. Coba deh tante pake rem-rem itu mulut kalau nyerocos atau sesekali keluarin kata doa begitu biar ada sedikit pahala di surga kalau tiba-tiba tante koit" Emma menasihati Laura yang kini memerah wajahnya dengan memeragakan gerakan mencekik leher hingga lidah keluar.


Prang! Laura melempar vas bunga di dekatnya ke arah Emma yang segera dihindari Emma dengan mudah. Dan acara lempar melempar itu sukses memporakporandakan seisi rumah hingga semua bahan makanan berserakan di dapur.


Yesss horeeee bikin harimau betina ngamuk!!! Sambil menghindari lemparan Laura, Emma memvlog kegiatannya itu untuk dikirim ke Gio dan Vico sebagai hiburan mereka.


Emma segera berlari ke jalan sambil berteriak harimau ngamuk dan menahan taksi agar bisa pulang ke rumah Jackson.


***


Ella digendong oleh salah satu bodyguard kemudian di dudukkan di kursi belakang karena di depan ada Erine.


Aku adalah nyonya besar yang duduk di kursi belakang sedangkan mereka sopir dan pembantuku. Ella tertawa dalam hati melihat posisi mereka saat ini.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam membisu hingga tiba-tiba saja mobil itu berhenti di pinggir jalan. Erine dan Nick sama-sama turun lalu mengambil map dan memaksa Ella tandatangan.


"Yes, akhirnya. Sekarang kita bisa menikah" Erine melompat kegirangan kemudian mencium Nick mesra.


Pangutan itu menghasilkan suara-suara yang bising. Mereka sengaja menunjukannya depan Ella lagi tapi ekspresi Ella yang mereka dapatkan tetap sama.


"Sayang, cukup! Ayo pulang dan lanjutkan di rumah"


Ketika mobil itu memutar arah, sebuah sedan menabrak mereka tepat di samping Erine dan menggulingkan mobil itu ke tepi lereng yang curam.


Ella juga terbentur tapi memasang ekpresi sekaku mungkin karena kamera dasbor sedang merekam mereka saat ini.


Ella memposisikan diri di belakang Nick sehingga ketika mobil merosot menuruni lereng gunung, dia menekankan seluruh badannya ke tubuh Nick dan membuat Nick terjepit. Ella masih sempat melihat sedan yang menabrak mereka juga terbalik menuruni lereng.


Aku kembalikan perbuatanmu pada Edgar-ku. Mata ganti mata. Maka kaki ganti kaki. Ella menahan kesakitan di lengan kanannya karena berbenturan dengan kursi pengemudi. Mobil telah berada di bawah lereng gunung.


Mereka bertiga pingsan. Darah mengalir dari pelipis Ella tapi untungnya dia sudah sembuh dari penyakitnya sehingga nyawanya tidak terancam.


Ketika mereka dikeluarkan, Ella sudah sedikit sadar. Dia dengan jelas melihat pria itu. Lelaki yang sangat dirindukannya tapi ekspresi dingin yang terpancar membuat Ella menghalau segala kerinduannya.


Dia menatap pria itu lama hingga terik matahari mengaburkan pandangannya. Dia segera menutup matanya. Ketika membuka mata, bayangan itu menghilang.


Haih! Ternyata hanyalah halusinasi. Aku sangat merindukanmu, Ed!! Sebulir air mata jatuh ketika Ella menutup mata kembali dan tertidur.


***


"Ughhhh" Keluh Ella karena tangan dan kepala yang diperban kini berdenyut nyeri.


"Nona Besar sudah bangun?"


Ella menatap heran seorang pria paruh baya di samping tempat tidurnya. Kamera di matanya tidak memberikan informasi apapun.


"Saya akan segera memberitahu Tuan Besar"


Hah? Tumben Tuan Larry Roberto datang menjengukku di Rumah Sakit. Pikir Ella.


Namun dia sedikit merasa aneh dengan pria yang kini berada dihadapannya itu. Pria yang menjadi pemilik sekolahnya termasuk Perguruan Tinggi yang menjadi pilihannya.


"Sayang... Mana yang sakit?" Usapan lembut di kepala Ella membuat gadis itu menjatuhkan air mata.


Jadi inikah rasanya punya ayah? Maaf aku pinjam ayahmu sebentar saja untuk bersandar.


Ella mengambil tangan pria itu lalu menciumnya kemudian memeluk pria besar itu dan menangis sesegukan di pundaknya.


"Sayang, maafkan Ayah, Nak! Ayah janji tidak akan memaksamu untuk menikah dengan Steven lagi dan Ayah juga akan membiarkanmu masuk di Perguruan Tinggi yang kau suka"


Ella hanya mengangguk. Setelah meredakan tangisnya, Ella merasa sedikit pusing.


"Istirahatlah. Ayah akan menyuruh Steven menjagamu. Ayah akan keluar sebentar mengurus sesuatu. Patuhlah kepada Steven, mengerti?"


Ella mengangguk paham. Ketika pria tampan itu keluar, masuklah pria muda yang lebih tampan lagi. Jantung Ella seketika berdebar tidak karuan.


Astaga jantung bodoh. Kenapa berdebar begini. Tapi dia sangat mirip dengan Edgar. Jadi aku tidak berhalusinasi tadi. Dia memang nyata.


"Kau ini, menyusahkan saja. Kenapa ugal-ugalan bersama dua temanmu itu hah?"


Mendengar suara yang sama persis tersebut membuat Ella benar-benar merindukan Edgarnya.



Dasar bodoh. Kau sendiri yang mengantar Edgar ke pemakaman jadi untuk apa berkhayal dia adalah Edgar? Tapi jantungku ini kenapa?


Ella menatap Steven lama hingga Steven berdiri di sampingnya.


"Kenapa menatapku begitu? Seperti tidak pernah bertemu pria tampan. Lain kali jangan memandangi pria seperti itu"


Tingkat kepercayaan diri yang tinggi persis Ed. Tampan juga. Sayangnya dia kulkas kutub tanpa senyuman. Ella memujinya setinggi langit lalu menghempaskannya lagi ke bumi.


"Mau makan sesuatu?"


Ella menggeleng. Dia ingin memberitahu Steven bahwa dia butuh Emma saat ini tapi tenggorokannya tercekat.


"Tuan Muda, kami sudah menemukan Nona Besar" Ucap salah satu bodyguard yang tadi terburu-buru dan langsung masuk kamar tanpa mengetuk.


"Jaga sopan santunmu. Nona Besar ada di sana" Tunjuk Steven pada Ella.


"Tapi... Di sana..."


"Di sana apa lagi??. Keluarlah sebelum aku tendang"


Bodyguard tersebut menunduk takut lalu menatap Ella lama. Ella menganggukkan kepala tanda menyuruh orang itu bicara lagi pada Steven.


"Maafkan saya Tuan Muda, ikutlah dengan saya maka anda akan tahu bahwa di sana juga ada Nona Muda yang lain"


"Baik aku akan ikut. Jika kau berbohong maka kau tahu sendiri kan resikonya?"


"Saya siap menerima hukuman"


"Tunjukan jalan"


Ketika di pintu di berbalik dan menatap Ella lalu berkata, "Jangan kemana-mana! Lukamu masih membutuhkan perawatan ekstra"


Aku mau pergi kemana? Ke kamar mandi saja aku tidak sanggup. Aku butuh Emma.


Akhirnya Steven pergi dan Ella bernapas lega. Dia hanya merasa heran kenapa semua orang salah mengenalinya sebagai Nona Besar mereka.


Ada apa ini? Aku merasa akan bertemu orang penting dalam hidupku.