
Dokter keluar kamar dengan wajah sumringah. Membantu seorang ibu melahirkan membuatnya merasa seperti malaikat. Tapi setelah melihat ketidakpedulian Amber pada bayi kembarnya, dia merasa justru Amber adalah Iblisnya.
"Jenis kelamin kedua bayi adalah laki-laki, sehat, bobot bayi 2.75 Kg dan 2,50 Kg, tanpa cacat" Begitulah pengumuman dokter tersebut.
"Terimakasih atas bantuannya dokter"Larry segera menyalami dokter wanita itu dan si dokter menyambut uluran tangan Larry dengan rasa hormat.
"Kami pamit Tuan Roberto. Besok kami akan datang lagi untuk mengecek keadaan pasien"
Setelah dokter dan asistennya pergi, Layla dan adik-adiknya segera masuk. Setelah mendengar bahwa si kembar adalah laki-laki, Henry melompat kegirangan dan segera menengok bayi-bayi lucu tersebut.
"Nama mereka siapa, Ayah?" Tanya Henry bingung sebab dia ingin memanggil si bayi tapi tak tahu namanya.
"Kalian maunya siapa?"
"Elliaz dan Elliot" Jawab Ella santai.
"Nama yang bagus" Layla setuju sedangkan Amber sedang memberengut kesal karena bayi-bayinya diberi nama oleh Ella.
Terserahlah siapa yang memberi nama. Aku tak peduli. Aku hanya ingin masa nifas ini cepat selesai dan pergi shopping. Huh tanganku gatal sekali ingin membeli tas branded yang kemarin kulihat di OnlineShop. Amber hanya memikirkan tas branded dan lupa mengurus kedua bayinya yang baru lahir. Dia bukan ibu tapi iblis.
"Jadi bagaimana dengan nama lengkapnya?" Tanya Tuan Larry lagi.
"Elliaz Arqeno Roberto dan Elliot Arqen Roberto" Jawab Ella tanpa pikir panjang.
"Aku suka" Henry menyahut dari box bayi.
Tentu saja kalian suka. Kalian akan selalu mengingat diriku. Ella, Elli, Ello. Sebuah senyuman terbit di wajah cantik Ella. Bibinya yang ganas itu akan terus mengingat dirinya bila berhadapan dengan si kembar.
"Boleh. Itu nama yang sangat cocok dengan mereka berdua" Tuan Larry tersenyun tulus pada Ella dan Ella balas tersenyum misterius. Wajah imut seperti Ella tentu saja Innocent dan benar-benar tak tampak aura jahatnya.
"Aku ingin Ella yang mengurus bayiku mulai sekarang" Amber memberi perintah.
Tinggal di rumah ini tidak ada yang gratis.
"Tapi babysitter berpengalaman telah ku siapkan" Larry tidak ingin bayinya kenapa-kenapa karena diurus Ella.
"Aku yang melahirkan dua bayi ini tentu saja aku berhak memutuskan siapa yang berhak merawat bayiku. Kenapa kau ini cerewet sekali?" Bentak Amber yang membuat Larry bungkam.
Susisssss wo,ooo susisss suami takut istriπ€£π€£
Jangan salahkan aku bibiku tersayang bila kedua putramu ini justru memanggilku "Mommy". Malang sekali nasib kalian berdua. Ibu kalian hanya menghadirkan kalian ke dunia tanpa mau memberi kalian secuil cinta. Kejam bukan? Ella kembali bermonolog.
Aku tidak percaya ibu memberi kedua adikku untuk di asuh gadis kampungan itu. Tapi ide ibu lumayan juga sih. Uang untuk membayar babysitter lebih baik kami gunakan untuk shopping. Lebih bermanfaat. Adriana
Bermanfaat apaan? ππ Unfaedah adanya.
***
Kedua bayi yang masih terlelap kini telah dipindahkan ke kamar mereka. Ella sangat ingin membangunkan mereka dan bermain bersama tapi takut merengek. Emma, Carol dan Jay masih setia menemaninya.
"C,J, apakah kalian sudah makan siang?" Keduanya menggeleng. "Kenapa?" Tanya Ella lagi.
"Kami terlalu senang dengan kehadiran adik-adik bayi sampai lupa makan siang" jawab Carol.
"Ayo Carol, Jay, ikut kakak"
Sepeninggal Emma, Ella masih fokus memperhatikan wajah kedua bayi yang mirip sekali dengannya.
Hehehehe.... Apakah aku harus bersyukur karena bibi membenciku? Semakin dia membenciku, wajah anak-anaknya makin mirip denganku. Aku melihat diriku versi lelaki tampan.
Setelah bicara dalam hatinya, Ella memilih untuk duduk di karpet menunggu kedatangan Emma tapi dia malah ketiduran.
"El, bangun..." Emma menepuk pelan pipi Ella.
"Oh astaga. Kau mengagetkanku, Emma. Aku kira ada pangeran yang mau menciumku" Ella mencubit gemas pipi Emma yang berjarak 1 jengkal dari wajahnya.
"Hallu teruss..." Emma balas mencubit hidung Ella yang mancung.
"Aw. Sakit..." Rintih Ella
"Pipiku juga nyut-nyutan tahu?" Emma mempoutkan bibirnya imut.
"Tapi kenapa kau lama sekali? Aku sampai ketiduran"
"Maaf kalau lama. Tahu sendiri kan si nenek sihir banyak dramanya?"
"Iya aku tahu. Ayo rendam susunya di air hangat. Lihatkan, Ello sudah bangun"
Bagaimana mungkin Ella bisa membedakan mereka? Karena Ello punya tanda lahir kecil di lengan kirinya sedangkan Elli punya tahi lalat di ceruk lehernya.
Tak lama kemudian, Elli juga bangun. Mata beningnya menatap Emma dengan intens. Tapi anehnya mereka tidak menangis melihat Ella dan Emma yang bukan ibu mereka.
"Hey tampan berdua, ini susu kalian" Emma meletakan p*ting dot pada bibir Elli dan langsung disambut Elli dengan antusias.
"Hari pertama lahir langsung minum dari dot. Tapi tenang saja ini adalah ASI ibu kalian. Mulai sekarang, aku akan menjaga kalian jadi mohon kerjasamanya ya? Ini adalah Emma, sahabat terbaikku"
Emma ikut serta melambaikan tangan pada 2 bayi itu berharap mereka mengerti bahwa dia juga menyayangi mereka semenjak mereka masih di kandungan Amber.
"Oh Emma... Bayimu sangat menggemaskan" goda Ella
"Tentu saja. Ibunya cantik begini"
Lalu keduanya tertawa bersama berbarengan dengan mata Elli yang mulai menutup. Dia tidur lagi.
Mulai hari itu, Emma mengurus Elliaz dan Ella mengurus Elliot. Tapi jika sekolah, pengasuh profesional akan menggantikan tugas mereka.
Kasih sayang seorang kakak yang tampak seperti ibu kandung membuat kedua bayi itupun tak ingin jauh dari Emma dan Ella. Bahkan mereka lupa akan kehadiran Amber.
Tak terasa pula waktu berlalu begitu cepat tanpa mereka sadari. Meninggalkan beberapa kenangan di belakang mereka. Edgar yang makin posesif, Derbaltroz bersaudara yang masih mengejar cinta Ella dengan caranya masing- masing, Keluarga Simmons yang tanpa kabar hingga Adriana yang kini menjadi komplotan "Erena" Singkatan dari Ella, Emma, Renay dan Adriana. Jangan lupa juga si kembar yang saat ini berumur 4 tahun.
***
Part selanjutnya ada karakter baru lohππ