Sellena

Sellena
Kecoak 1: Toping


Kediaman Derbaltroz.


Richard berdiri ditumpu tongkat di kedua sisi tubuhnya. Senyum di wajahnya tidak pernah pudar sejak pulang dari pemakaman Edgar seminggu yang lalu. Dia merasa rivalnya sudah tidak ada sehingga dia bebas melakukan apa saja.


Bilang saja dia serakah tapi itulah sifat manusia. Dia tidak puas dengan kekayaan yang diterimanya sekarang. Dia masih ingin lebih agar bisa bermain-main dengan gadis bayaran di luar sana.


Dia sudah cukup bersabar untuk mengajak kencan gadis itu dengan cara biasa tapi gadis itu bahkan menolak untuk bicara padanya karena hasutan si brengs*k Dhawn. Jadi, mengajak Edgar balapan dan kecelakaan dapat menyelesaikan masalah.


Sebelum balapan, dia sudah menyeting jalur balapan. Dia memilih jalur rawan kecelakaan jadi dengan mudah Edgar kecelakaan. Awalnya dia pikir hanya patah saja tapi ternyata kematian itu lebih baik lagi. Kabar kematian Edgar menjadi sarapan yang cukup mengenyangkan.


Ancaman ibunya tentang surat perjanjian menjadi salah satu poin yang bisa membuatnya kaya raya. Sebenarnya tujuan perjanjian itu adalah membebaskan Edgar dari penjara. Sekarang Edgar sudah mati tapi dia masih bisa memiliki gadis itu dan harta kekayaan kakeknya karena perjanjian yang telah ditandatangani Ella tidak dapat dibatalkan walaupun Edgar telah mati.


"Tidak buruk juga hasil dari kecelakaan ini. Aku harus berterimakasih dengan kakak nantinya" Senyum puas terukir di wajahnya.


Dia mengambil handphone dan menelepon kakaknya.


"Hey, brother" sapanya begitu terdengar suara halo di ujung sana.


"Ada apa menelponku?"


"Aku ingin mengajakmu makan malam"


"Share lokasinya. Jangan bertingkah aneh-aneh lagi"


"Baiklah" Richard terlihat sangat antusias menemui saudaranya tersebut. Ada beberapa ide gila di dalam otak kecilnya tersebut.


***


"Ayo makan" bujuk Emma agak hati-hati sebab suasana hati Ella sedang tidak bagus.


"Kau bisa meletakannya di sana, Em. Edgar-ku juga pasti belum makan di sana"


"Dia sudah makan. Ini sudah tengah malam"


"Aku ingin tidur. Matikan lampunya saat kau keluar"


Jadi begitulah kegiatan mereka sekarang. Emma sibuk mengurus Ella dan juga si kembar. Mereka bahkan lupa dengan formulir pendaftaran di universitas yang harus segera diserahkan kembali.


"Apa dia sudah makan?" Tanya Henry. Entah kenapa dia ada di depan pintu malam itu.


"Belum kak. Aku kehabisan ide agar dia mau makan"


"Ambilkan makanan baru. Bubur saja kalau bisa. Aku yang akan menyuapinya"


"Kakak tunggu di sini" Emma segera melesat menuju dapur. Dia menuruni tangga dengan secepat kilat. "Ini, Kak. Awas masih panas"


Untung saja pelayan memasak bubur lagi takut-takut kalau nona mereka kelaparan dan itu berguna saat ini.


Cukup gesit juga gadis satu ini. Puji Henry dalam hatinya. Dia sedikit mengagumi Emma.


"Terimakasih" Senyumnya tulus dan Emma membalasnya dengan manis.


"Sama-sama. Aku akan ke kamar si kembar. Menemani mereka tidur"


"Baiklah" Henry mengangguk kemudian segera masuk. "El,,," Sapanya saat duduk di samping Ella. Dia membelai rambut Ella dengan sayang.


Henry menangis di samping Ella. Ella yang merasa ada sesuatu yang basah menjatuhi wajahnya, seketika bangun dengan terkejut.


"Huwaaahhhhhhhh"


"Sttttt.. Tenanglah. Ini Kak Henry" Henry segera menyalakan lampu.


"Kak Erry kenapa di sini? Mengagetiku saja. Dan Kakak menangis?"


"Hah? Oh iyah. Aku sedih karena kau tidak mau makan apapun"


"Aku belum mati Kak. Jadi jangan menangis dulu"


"Iya kau bahkan hampir mati. Tubuhmu ini sudah sangat kurus"


"Aku juga ingin cepat mati agar cepat bertemu dengan Edgar"


"Itu bukan perkataan yang baik. Aku yakin Edgar tidak akan suka mendengarmu bicara begitu"


"Apanya yang dia tidak suka? Dia bahkan sudah meninggalkanku"


" Kau butuh tenaga untuk mengomel. Ayo buka mulutmu"


" Biarkan aku makan sendiri. Kakak boleh beristirahat. Aku akan menghabiskannya. Aku janji"


Melihat dua jari yang membentuk huruf V, Henry tidak ingin banyak bicara lagi. Dia bangkit kemudian mengecup pucuk kepala Ella. Perhatian kecil yang baru berani ia berikan sekarang.


"Kakak pamit"


Ella hanya menganggukkan kepalanya kemudian menatap nanar bubur dihadapannya.


Ok Ella. Ini hanya bubur. Tidak ada hal mengerikan di dalamnya. Langsung telan saja.


Ella mencoba menguatkan diri. Kemarin buburnya ada banyak kecoak sehingga dia tidak mau makanannya disiapkan Emma. Entah ulah siapa tapi dia cukup jijik dengan bubur setelahnya. Dia yakin kali ini buburnya bersih.


Dia menyendok dan membolak-balikan buburnya, mencium aromanya. Setelah yakin, dia mulai makan sesuap demi sesuap secara perlahan hingga isinya tandas. Dia kelaparan tapi cukup takut memakan nasi yang mungkin ada kecoaknya.


Di kamar yang lainnya,


"Tangkap kecoak yang banyak untukku. Aku akan memberi makan orang dengan kecoak" perintahnya pada seseorang di dalam telpon.


"Baik nona"


Senyum puas tergambar jelas di wajahnya.


Berteman denganmu hanya membuang waktuku.


***


Jangan bayangkan bubur kalian ada kecoak di dasarnya. Pas nyendok mau hap, eh ada kecoak.. Yakin deh pasti pengen bunuh orang😅😅 dan malas mau makan makanan yang sama lagi🤔


Jangan lupa tinggalkan jejak


Salam ELughta😍😘