Sellena

Sellena
Baby Born : Tampan/ Cantik?


Di Kamar Ella dan Emma


"Sudah genap 9 bulan kan usia kandungan nenek sihir?"


"Ya. Sebentar lagi mungkin akan melahirkan. Tapi sama sekali tidak ada persiapan. Pakaian dan Perlengkapan bayi belum dibeli" Omel Ella


"Benar-benar tidak becus menjadi seorang ibu" Sindir Emma.


"Ayo pergi berbelanja mumpung ini hari sabtu" ajak Ella.


Pada akhirnya mereka berdua pergi ke mall naik taxi. Keluarga Roberto memang punya 3 mobil tetapi tidak akan pernah dipakai oleh Ella dan Emma. Kedua gadis itu merasa biasa saja sebab bukan hal yang penting.


"Warna biru bagus kan?"


"Yang merah ini juga bagus... Jangan yang kuning, menyilaukan"


"Popoknya, Emma...."


"Sarung tangan biru ini keren"


"Kaus kaki merah, selimutnya ambil saja yang hijau. Lalu topi bayinya dimana?"


"Di sebelah kaus tangan" Tunjuk Emma lalu lanjut mengambil bedak. "Bedak ini bagus. Membuat kulit bayi lembut dan senantiasa wangi. Ella, ambil minyak anginnya"


"Bantu aku mengambil perlengkapan mandinya. Aku ingin bak mandi bayi yang besar."


Para pelayan toko yang melihat kehebohan keduanya hanya bisa diam. Mereka tidak disuruh mengambil barang jadi diam adalah jalan terbaik agar pelanggan tidak marah.


Setelah puas berbelanja, keduanya mampir di sebuah restoran dan memesan menu yang cukup banyak. Selesai makan, mereka masih berbincang cukup lama sebelum Ella membayar tagihan dan memberikan tip pada pelayan.


Jangan tanya darimana Ella mendapatkan uang untuk membeli semuanya. Author pun tak tahu๐Ÿ˜‘ Itu rahasia milik Ella๐Ÿคซ


***


Saat tiba di rumah, secepat kilat mereka naik ke lantai 2 kemudian menuju kamar bayi yang letaknya bersebelahan dengan kamar Ella dan Emma. Saat mendekor kamar itu, tiba-tiba datanglah tamu tak diundang.


"Ella...."Panggilnya


"Iya, ada apa kak?" tanya Ella heran melihatnya.


"Aku ingin membantu" Jawabnya pelan.


"Boleh. Kakak bisa menempelkan ini di situ lalu menggeser mejanya sedikit ke sana"


Yang datang tadi adalah seorang gadis dan kalian pasti sudah tahu siapa dia kan? Putri sulung keluarga Roberto, Layla Roberto. Gadis yang selalu cekikikan bila Ella mengerjai Amber. Tahun ini umurnya 20 dan dia masih kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Swasta.


"Kak, mari kubantu" tawar Emma setelah melihat Layla kesusahan menggeser meja tersebut.


"Selesai"


Kata itu terucap bertepatan dengan teriakan Amber di lantai bawah. Ketiganya segera turun dan menghampiri Amber. Ada cairan yang mengalir di sela pahanya dan Layla paham apa itu.


Ketubannya sudah pecah. Bagaimana ini? Layla panik.


"Ayo bawa bibi ke Rumah Sakit" Usul Ella


"Rumah Sakit terlalu jauh dan mobil bannya kempes"


"Naik taxi" usul Emma lagi.


"Kompleks kita terpencil dan susah mencari taxi" Layla tampak frustasi.


"Kalau begitu, ayo bawa bibi masuk ke kamarnya dan mempersiapkan proses melahirkannya. Kakak kan calon dokter"


Dengan bantuan beberapa pelayan, mereka berhasil membawa Amber dan meletakannya dengan hati-hati ke atas kasur. Emma menelepon dokter, Tuan Larry dan Tuan Muda Henry.


"Bik Inah, siapkan air hangat di baskom, handuk, gunting, dan sarung tangan. Ambil di kamarku. Ella ikat kain di kiri kanan ranjang agar bibi bisa menariknya nanti"


"Sudah Pembukaan lima" Kata Layla ketika menengok sela paha Amber. Amber masih terus merintih dan terengah-engah.


"Kak, apa itu pembukaan lima?"


"Jalan lahirnya sudah terbuka sebesar ini" Layla menyodorkan telapak tangannya. "Harus penuh sepuluh baru bayinya bisa lahir" jelasnya lagi yang kemudian diangguki paham oleh Ella dan Emma.


"Aaaaa.... Ini sakit. Cepat keluarkan bayi ini dari perutku, aku tidak tahan lagi"


Bibi ini seperti belum pernah melahirkan saja? Bisa berbahaya jika kami sembarang membantu.


"Tarik napas lewat hidung, hembuskan lewat mulut.. hummmmm.... fuuuuuuu.....hummmm... fuuhhhh... begitu terus bibi" Emma mencoba membantu Amber bernapas.


"Diam kau gadis sialan" maki Amber membuat tiga gadis itu melonjak kaget.


Ibu hamil yang satu ini benar-benar galak. Semoga saja dia melahirkan anak-anaknya dengan lancar. Emma


Untung dokter serta beberapa asistennya datang 15 menit kemudian dengan peralatan lengkapnya. Mereka segera memeriksa keadaan Amber. Emma, Ella dan Layla segera menyingkir keluar kamar untuk memberi ruang pada mereka. Larry Roberto yang akhirnya datang, ikut masuk ke dalam kamar menemani istrinya.


"Dimana bibi Amber?" Tanya Henry pada Layla.


"Di kamar, sebentar lagi mau melahirkan" jawab Layla cepat.


"Lalu Adriana, Jay dan Carol?"


"Astaga, aku tidak tahu di mana mereka karena panik dengan teriakan bibi tadi"


"Aku akan pergi mencari mereka"


"Baik, pergilah"


***


Raut cemas dan khawatir terpatri jelas di wajah mereka yang menunggu di luar kamar. ini sudah 12 jam tapi bayi belum lahir. Informasi dari asisten dokter tadi bahwa kepala bayi hanya keluar masuk jalan lahir sehingga membuat Amber benar-benar kesakitan.


Ya Tuhan, mudahkanlah proses persalinan ini. Ampuni segala dosa bibiku dan lapangkanlah hatinya.


"Eaaakkkk... eakkkkk"


Tangisan bayi nyaring terdengar tak lama setelah Ella selesai berdoa. Semua terlihat lega. Pintu masih tak dibuka juga karena lahirlah lagi seorang bayi di dalam.


"Oh astaga, kita punya adik kembar. Aku tak sabar ingin melihatnya" Henry tampak antusias menyambut kelahiran adik kembarnya terlepas dari rasa bencinya terhadap Amber.


"Sabarlah sedikit, Ry. Bayinya masih dibersihkan dan dibiarkan menyusu untuk pertama kali" Layla berusaha menenangkan Henry yang ingin mendobrak pintu agar dapat melihat si kembar.


"Kenapa kakak sangat antusias?"


"Jika kedua bayi kembar itu berjenis kelamin laki-laki maka akan ada 4 lelaki tampan di rumah ini. Itu sudah cukup banyak bukan?"


Jadi Kakak takut menjadi minoritas?


"Bagaimana jika mereka berdua adalah gadis manis?Terpujilah Kakak di antara para wanita cantik nantinya"


"Aku yakin mereka tampan sebab suara tangisan mereka sangat kencang. Aku harap mereka menjadi penyanyi"


"Terserah Kakak. Kakak akan membayar sekolah mereka kalau begitu"


Percakapan sederhana itu mampu mengeratkan hubungan di antara mereka. Mengapa Emma diam? Dia memberi Ella kesempatan untuk mengenal kakak-kakaknya. Hanya saja ada satu manusia yang sama sekali tidak menyukai Ella. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya๐Ÿ™„


***


Yang menunggu up novel ini, nih aku kasih 2 episode untuk hari ini.๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Penebusan minggu kemarin gak up๐Ÿ˜“๐Ÿ˜“


Salam ELughta๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜