
Author kembali lagi dengan semangat hari iniπ Semoga kalian juga semangat menjalani hari ππ Nikmati alur ceritanya yah?? ππ
***
Kelopak matanya terbuka dan terpampanglah netra yang indah itu. Pupilnya masih mengkondisikan diri dengan cahaya yang tanpa permisi masuk melalui tirai jendela.
Ini masih pukul 5.30 pagi tapi sudah cukup terang. Gadis itu tak ingin beranjak beranjak tapi mengingat hari libur menyedihkannya ini sedang berlangsung dan menunggunya terdepak dari sini.
Dia menghela napas pelan untuk membuang kegundahan hatinya kemudian turun dan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. 10 menit kemudian dia keluar dan melihat 2 putri tidur itu masih di alam mimpi.
"Di mana ibu?" Tanya Ella ketika berpapasan dengan Asisten Rumah Tangga mereka.
"Nyonya Besar masih di kamar. Saya permisi Nona"
"Tumben? Biasanya Ibu selalu bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan buat kami"
"Selamat pagi, El" sapa Leon.
"Oh Kakak? Mimpi baik yah bisa bangun sepagi ini?" Ledek Ella.
"Tentu saja. Aku masih ingin melihatmu sampai puas" Kata Leon santai.
"Setiap hari kan bisa lihat"
Aneh Kak Leon ini.
"Kamu lupa hari ini kami berangkat ke negara A dan kamu kembali ke mansion Willem?"
Ella menepuk jidatnya. Astaga! Aku lupa akan kenyataan.
"Maaf aku lupa. Tapi apa harus melihatku seperti itu? Apa kakak mau minum susu punyaku?"
Ella menyodorkan segelas susu tapi Leon menggelengkan kepalanya.
"Aku berhenti minum susu saat umurku 2 tahun"
"Yayaya"
Ella malas bertengkar karena bukan itu keahliannya. Dia meminum susunya segera takut susunya dingin.
Emma dan Erine turun saat sarapan sudah disiapkan para Asisten. Ibu juga tidak mood memasak. Seketika suasana terasa begitu mencekam karena sangat hening. Bahkan denting garpu dan senduk yang beradu di atas piring juga diminamalisir.
Masing-masing menyelami pikirannya. Bahkan dua orang yang jahil dan cerewet itu juga duduk dalam diam. Sarapan pagi ini terasa hambar.
"Habiskan sarapan kalian dan mulailah berkemas. Rumah ini juga sudah laku terjual pagi ini"
*Secepat itukah? π€*
"Baik Ayah"
Mereka menjawab serempak kemudian menelan sarapan yang sialnya terasa begitu keras padahal itu adalah pancake. Napsu makan menguap entah kemana.
***
"Ini ATM untukmu, serta kodenya. Jangan khawatir tentang uang sekolah. Sudah Ayah lunaskan hingga lulus nanti. Maafkan Ayah nak!"
Ella ingin menolak kartu pemberian Ayahnya tapi tiba-tiba Tuan Simmons memeluknya erat sehingga dia tidak sempat menolak.
Arthur mengutuki kelalaiannya mengurus perusahaan. Bukti penggelapan dana itu sudah ditelan bumi. Harapan satu-satunya adalah anak perusahaan di negara A. Dia bertekad merebut Ella kembali.
"Putriku sayang, ibumu ini tidak bisa melihatmu tumbuh dewasa. Maafkan ibu" Ibu mengelus rambut Ella. Ibu juga memeluk Emma.
"Tunggu aku" bisik Leon di telinga Ella. Kemudian dia pindah ke samping Emma. "Jaga Matahariku".
Heh? Matahariku? Jangan-jangan Kak Leon ada perasaan tertentu pada Ella? Emma mencoba melirik Leon dan Leon mengedipkan sebelah matanya selah-olah menyetujui pikiran Emma.
"Kau tahu ini benar-benar berat untuk melepasmu. Perasaan aneh itu menjadi kenyataan sekarang. Kau akan selalu menjadi saudariku yang kusayang. Maafkan kami semua meninggalkanmu dan Emma di sini. Emma, terimakasih karena mau menjadi sahabatku"
Putri cerewet itu sudah berubah menjadi anak cengeng. Dia memeluk Emma dan Ella.
"Emma, kami titip Ella padamu. Semoga kamu bisa menjaganya dengan baik" Pesan Tuan Simmons.
"Baik, Tuan"
Ya Tuhan mengapa terasa sesak dan sakit di dalam sana? Aku bahkan tak bisa berkata-kata lagi. Terlalu perih perpisahaan ini membuatku bungkam. Air mata ini menjadi saksi atas rasa tersiksa ini.Aku berat berpisah dengan mereka tapi aku juga tahu diri dan tak mau menjadi beban. Apalagi ada Emma bersamaku. Emma menjadi tanggung jawabku mulai saat aku menyelamatkannya.
"Ayah, Ibu, Kakak, dan Erine. Terimakasih untuk hari-hari indah yang kita lalui bersama. Maafkan Ella karena Ella belum bisa menjadi seseorang seperti yang kalian inginkan. Ella tahu keadaan keluarga kita yang sedang krisis. Terimakasih juga karena mau menerima Emma. Entah kapan kita akan berjumpa kembali tapi Ella berjanji akan menjadi seorang yang kuat dan tegar serta sukses nantinya. Ella doakan kalian juga sukses di tempat yang baru dan jangan lupakan Ella. Jangan khawatir ada Emma yang akan selalu menemaniku"
Suaranya bergetar tapi ia mencoba menahan tangisnya tak ingin membuat mereka semua kembali bersedih.
Tiiin!!!! Klakson mobil menandakan semua sudah siap. Pelukan terakhir membuat Ella menitikan air matanya. Leon mendekat ketika Ella memanggilnya pelan. Saat pintu akn ditutup, Ella mengecup pipinya pelan.
"Aku menunggumu, Kak"
"Jangan lupa mengantar kami sebentar sore" Teriak Erine saat mobil sudah melaju disertai lambaian tangan keluarga Simmons mengantar Ella ke kediaman yang baru tapi rumah lamanya.
"Nona kita sudah sampai" Pemberitahuan dari pak Sopir membuyarkan lamunan keduanya. Ternyata 1 jam perjalanan mereka habiskan dengan menyelami pikiran masing-masing.
"Terimakasih. Letakan saja kopernya di situ"
Setelah menurunkan koper Ella, Supir pamit pulang kembali karena akan mengantar majikannya ke bandara setelah itu dia harus mencari majikan baru.
"Ayo masuk, anggap rumah sendiri karena kita hanya akan tinggal berdua"
Saat membuka pintu depan, pandangan tak biasa menghampiri netranya membuat tangan gadis itu mengepal.
"SIAPA KALIAN!!!!"
***
Siapa kalian? Hehehehe... Rupanya ada tamu yang tak diundang. Apa yang akan Ella lakukan untuk mengusir keberadaan makhluk yang tak diinginkannya tersebut??? π€π€
Readersku tersayangπ Jangan lupa tinggalkan jejak untuk Author π€π€
Salam ELughtaπππ€©