Sellena

Sellena
Apakah perasaan itu masih ada?


"El.... Tunggu aku.." Renay mempercepat langkahnya agar bisa mengejar Ella.


"Kenapa tidak masuk sekolah kemarin?" Ella langsung bertanya begitu Renay berada di sampingnya.


"Errr... Itu.... Ada sedikit urusan. Aku akan ikut ujian susulan bersama kelas sebelah" Jawab Renay.


Apa dia menyembunyikan sesuatu? Dia tampak berpikir dahulu baru menjawab. Eh, entahlah. Malas tahu. Ella


"Oh begitu. Tidak terlalu seru kemarin karena kau tak ada"


"Yang benar saja? Emma mengirimiku fotomu bersama Edgar. Kalian tumpang tindih seperti kue lapis. Oh iyah, di mana Emma?"


"Aku ini entah kenapa semakin gemas saja pada Emma. Mungkin aku akan mengirim dia ke kutub utara?"


Renay merasa godaannya pada Ella akan sedikit membuat kacau hari milik Emma.


Brrrr.. Kenapa tiba-tiba aku merasa sedikit kedinginan yah? Entahlah. Ella mungkin sudah kelaparan menunggu sarapannya. Emma bergidik dan bulu romanya sedikit meremang.


Tiiiin... Saat keluar dari kafe dekat sekolah, sebuah klakson mobil mengagetkannya. Siapa lagi kalau bukan makhluk jadi-jadian itu? Richard Derbaltroz.


"Kau temannya Nona Roberto kan?"


"Hm"


"Apakah Ella sudah berada di sekolah?"


"Hm. Mungkin"


"Heyyyy.. Apakah ada si Dhawn juga?"


"Selalu"


Orang ini irit bicara sekali. Padahal aku berharap mendekati dia agar bisa mengorek beberapa informasi. Richard melajukan mobilnya masuk gerbang sekolah dan memarkirkannya.


Emma mempercepat jalannya karena merasa Ella sudah menunggu. Dia langsung naik tangga menuju kelas mereka di lantai 3 koridor selatan. Saat masuk kelas, sudah ada Derbaltroz gila di situ.


"Ella, ada pesta malam ini. Apa kau mau pergi bersamaku? Ada perayaan sahabat Ayah"


"Aku sudah punya pasangan dan kau tahu siapa dia jadi tidak ada gunanya kau berada di kelasku. Bukannya kelasmu ada di koridor utara?" Ella mengambil sarapan yang disodorkan Emma dan menggigitnya sedikit kejam seperti zombie yang menggigit manusia. Dia tidak suka ada Richard di situ.


"Anda tidak diterima di sini, Tuan Muda" Emma mengejek Richard.


"Mmmm.. Tuan Muda, anda bisa kembali ke kelas. Nona Muda kami saat ini malas bertemu anda. Mohon pengertiannya" Renay memberikan senyum terbaiknya.


Kenapa bukan gadis yang manis ini saja sih yang Kakek akan ditunangkan denganku? Sayangnya dia sudah bersama Leon Simmons. Richard menatap Renay dengan mata panas.


(*mata panas: Pandangan nakal yang menilai kemolekan tubuh.)


"Tuan Muda..." Adriana muncul dan tersenyum manis pada Richard. Tangkapan besar. Pikir Richard.


"Jadilah pasanganku malam ini" Richard berbisik sensual di telinga Adriana. Dia tahu gadis ini mudah dia kuasai.


"Aku sudah punya pasangan" Adriana balas berbisik di telinga Richard. Dia bukan gadis bodoh yang mudah di dapatkan.


Kelakuan dua orang ini tidak luput dari perhatian Ella. Tanduk setan muncul di kedua sisi kepalanya. Tahu saja apa artinya.


"Mungkin lain kali saja" Richard mengerling lalu kembali ke kelasnya ikut koridor timur.


"El...." Sapa Adriana penuh senyuman kemudian mengambil sisa sarapan di kotak makan. Hatinya berbunga saat ini. Dia tahu tidak mungkin Richard menolak pesonanya.


"El...." Sapaan lagi dari seseorang. Lesung pipi dalam menghiasi pipinya yang mulus. Sahabat laki-laki satu-satunya milik mereka. Entah kenapa hanya Ella yang disapa. Yang lain merasa diri angin.


Bahkan Edgar lebih tampan daripada Richard. Adriana tersenyum pada Edgar. Dia menatap bibir Edgar yang merah. Timbul pikiran iya-iya di dalam otaknya.


Edgar acuh dan langsung duduk di samping Ella. Ella ingin kabur tapi Edgar cepat mencegahnya pergi. Gadis ini dari kemarin menghindarinya, bahkan pulang menggunakan taxi.


"Aku minta maaf karena kejadian kemarin membuatmu malu. Lagipula aku ini sahabatmu kan?" Edgar masih menggenggam tangan Ella.


Emma dan Renay segera melarikan diri ke tempat duduknya mendengar bahwa dua insan itu akan bicara sesuatu yang penting. Mereka menarik Adriana serta.


Apa sih yang akan mereka bicarakan? Adriana mati penasaran.


"Eh? Tapi tetap saja kau laki-laki dan aku perempuan" Ella memalingkan wajahnya segera.


"Apa kau takut ada yang mengira kita pacaran?" tanya Edgar pelan. Dia tahu semakin besar umur mereka, akan timbul rasa malu terhadap lawan jenis bahkan terhadap sahabat sendiri.


"Bukan begitu. Tapi tidak enak kan dilihat teman-teman? Nama baikmu itu juga penting. Aku tidak ingin bibi sampai tahu masalah ini. Bibi bisa salah paham padaku"


Edgar tertawa pelan. Gadisnya ini masih juga memikirkan nama baiknya. Haish, kenapa dia harus menjadi sahabat? Apa bisa dia jadi pacar saja?


***


"Ayo pergi ke pesta teman Ayah" Ajak Larry Roberto pada Amber dan anak-anaknya.


"Mungkin anda harus pergi bersama keluarga anda. Aku dan Emma akan ikut Tuan Muda Dhawn" Jawab Ella acuh.


Gadis itu bahkan masih terus memanggilku secara formal. Entah sampai kapan baru dia akan menganggapku ayahnya. Kata Larry dalam hatinya.


Hmmm pujaanku akan datang. Aku akan bersiap-siap dan tampil cantik. Tanpa disuruh lagi Amber mengambil langkah dan pergi bersiap.


Melihat itu Ella tahu tante ganjen ini akan tebar pesona pada Edgarnya. Hah? Kenapa aku jadi berpikir Edgar milikku? Ella menggelengkan kepalanya pelan.


Wah nenek sihir akan tebar pesona pada Edgar. Bakalan ada tontonan menarik nih. Emma.


***


Tiiiiinnnn. Klakson mobil Ed terdengar nyaring di luar pintu. Emma dan Ella segera keluar dan naik mobil itu setelah pamit pada Larry Roberto. Bersyukurlah mereka karena saking inginnya bertemu Edgar, Amber mandi kembang sampai beberapa jam. Hahahhaa... Tante-tante ganjen. Pikir mereka.


"Hahahhaha..." Tawa Emma dan Ella pecah setelah keluar dari gerbang rumah mereka. Edgar tidak ikut tertawa karena tidak paham apa yang mereka tertawakan. Sedangkan dua gadis itu membayangkan perasaan Amber yang ditinggal pergi kekasih brondongnya.


"hey.. Berhenti tertawa kalian berdua. Sekarang turun dan rapikan gaun kalian. Ella gandeng aku, Emma silahkan kau cari pasangan sendiri"


Ella tersenyum penuh arti pada Emma. Emma paham akan hal itu kemudian mereka sama-sama menggandeng Edgar di sisi kiri dan kanan. Edgar tampak seperti suami dengan dua istri yang harmonis. Cinta segitiga mereka mejadi lelucon para orangtua yang hadir di sana.


Mereka masuk dan segera bertemu tuan rumah yang tentu saja adalah Renay. Ada Tuan dan Nyonya Rein yang sedang menunggu mereka. Ini adalah ulangtahun pernikahan mereka yang ke 25 tahun. Sangat romantis.


Ella dan Emma mencium pipi Nyonya Rein dengan lembut. Nyonya Rein sangat senang dua sahabat putrinya ini mau menganggap dia seperti ibu mereka. Sedangkan mereka hanya mencium tangan Ayah Renay. Tuan Rein mengelus pelan kepala dua putri angkatnya ini. Karena Edgar adalah anak laki-laki maka dia hanya menyalami tangan Tuan dan Nyonya Rein.


"Kalian bisa menghabiskan hidangan yang ada. Ayah dan ibu akan menyambut tamu lainnya"


"Siap, Komandan" Candaan Ella berhasil membuat suasana makin ceria.


Selera makan gadis itu yang besar benar-benar pas di tempat seperti ini. Sajian menggugah selera yang terhidang membuat Ella menelan air liurnya susah payah.


"Pergilah. Tapi jangan terlalu banyak. Besok kita akan berlatih tendangan jadi jaga pola makanmu. Awasi dia, Emma" Titah Edgar. Dia pergi untuk bertemu kakaknya yang juga sedang bersama Nick.


Ella dengan senang hati mengambil semua kue yang ada di atas meja. Emma juga mengambil sepiring kue. Mereka adalah pencinta makanan manis.


"Heyy Nay, di mana bibi memesan kue ini? Sangat enak" Ella menyuapkan sesendok besar kue ke mulutnya. Renay juga tertular kegilaan mereka ikutan mengambil piring dan mulai memilih kue-kue yang ada.


"Ibu memesan di kafe milik temannya. Aku akan ajak kalian jika kalian senggang"


"Mengajak kami berarti kau harus mentraktir kami berempat. Si kembar hari ini entah kenapa mau melepaskan kami pergi pesta" Emma memberitahu Renay agar menyiapkan lebih banyak voucher belanja.


"Tidak masalah. Mereka penggila belanja sepertiku" Renay bangga predikat Ratu Belanja yang disematkan padanya.


"El... Hey El...." Emma sedikit mengguncang tubuh Ella.


"Aku rasa ada seseorang yang aku kenal. Aku melihatnya, May"


"Siapa?" Tanya Renay penasaran.


Ella segera berdiri dan membawa piringnya mengejar seseorang yang dirindukannya selama beberapa tahun ini.


"Kak?" sapanya pada seseorang yang memunggunginya. Dia yakin itu Nicknya yang pergi 4 tahun lalu.


Brak! Piring yang dipegangnya sukses mendarat di lantai, melihat seseorang dihadapannya saat ini. Tangannya gemetar. Dan perasaan yang terkubur beberapa tahun ini mencuat kembali perlahan. Ella tidak tahu perasaan apa yang membuatnya begitu rindu pada sosok ini.


"Kak..." Sebulir air mata meluncur di pipi mulusnya...


Edgar yang mendengar keributan itu segera mencari arah suara jatuhnya piring. Jantungnya berdetak lebih kencang. Dia tahu Ella pasti terkejut bertemu orang itu. Setelah melihat Ella, dia segera memeluk Ella memberikan rasa nyaman atas kegundahan hati gadis itu. Dia tahu Ella masih mencari arti rasa rindu pada orang itu.


"Kau kembali, Kak"


Apakah perasaan itu masih ada untukmu Kak? Aku rindu tapi aku tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Apakah melepaskan pelukan hangat ini dan berlari padamu? Atau tetap bersembunyi dari kasih sayang yang kau tawarkan. Ah, aku bukan gadis kecilmu lagi, Kak. Nyatanya Ella masih bersandar di dada Edgar menyembunyikan air mata yang dengan kurang ajar turun tak mau berhenti.


***


Siapa dia.... Siapa diaaa... Dia, dia, dia... Yang kutunggu.. Tunggu.. Tunggu..... πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Apa yang harus Ella lakukan selanjutnya? πŸ€”πŸ€”πŸ€” Kenyamanan yang diberikan Edgar selama ini memberikan ruang tersendiri di hatinya. Dan kembalinya seseorang itu apakah akan menggeser nama seorang Edgar dihatinya??


Episode selanjutnya bakal lebih seru... 😁😁 Pelakor belum muncul 🀣


Tinggalkan jejak yah?


Salam ELughta😍😘