Sellena

Sellena
Kelulusan


Raut bahagia nampak di wajah Ella dan sahabat-sahabatnya. Ini hari yang bersejarah bagi mereka semua. Setelah kelulusan ini, mereka mungkin akan mengambil jalan hidup masing-masing.


"El, kau tampak cantik hari ini" Puji Edgar basa-basi dan Ella tersenyum manis pada satu-satunya laki-laki dalam kelompok itu.


"Apakah kau buta? Dia cantik tiap harinya" kata Emma ketus.


"Kau iri kan karena aku hanya memuji Ella?" Tuding Edgar.


"Heh buat apa cemburu. Dia memang cantik dari dulu. Aku akan iri pada orang yang tiba-tiba saja menjadi cantik hari ini" Emma merapikan toganya dan duduk cantik menunggu Renay dan Adriana yang belum muncul juga.


"Mereka berdua seperti siput jika berdandan, mungkin benar-benar sempurna bila ada Erine di sini. Sayangnya dia sudah melupakan kita" Ella tampak sedih mengingat sahabat baiknya itu sudah 4 tahun tidak mengabarinya.


"Hemmmhhh.. Mungkin dia punya kesulitan sendiri karena kita tahu sendiri Keluarga Simmons dalam waktu satu malam berada di titik kehancuran. Dia mungkin juga sedang merindukan kita hanya belum waktunya bertemu kita"


Edgar menepuk pelan pundak Ella kemudian ikutan duduk di kursi yang ditempeli namanya. Kebetulan mereka sederatan dan juga bersebelahan. Ella menganggukan kepalanya.


"Tapi apa dia tidak bisa memberi pesan singkat atau kah menelepon ke rumah? Bahkan sejak kepulangan Kak Leon hingga hari ini, Kak Leon tidak pernah menyapaku. Apa salahku?"


"Heyyy... Berhenti menangis. Kita menggunakan MUA ternama untuk membuatmu cantik hari ini, ya walaupun memang make upmu tetaplah natural seperti biasa. Jangan biarkan maskaramu luntur. Aku akan marah besar jika kau menangis lagi"


Setelah dimarahi Emma, Ella diam dengan sendirinya. Edgar menyodorkan tisu yang entah dia dapat dari mana.


"Mohon perhatian, acara akan segera dimulai" Pemandu acara telah siap sedia di tempatnya bertepatan dengan munculnya Renay dan Adriana yang sama-sama melemparkan senyum manis.


"Kenapa kalian berdua lama sekali?" Emma berbisik pada keduanya yang duduk di samping kanannya.


"Ada beberapa hal mendesak. Kak Leon menjemputku di rumah" jawab Renay sekenanya. Leon kan tunangannya jadi tidak ada salahnya kan?


"Kak Leon menjemputmu? Lalu kau Adriana. Kita serumah tapi kau siap sangat lama jadi kami meninggalkanmu"


"Richard dan Kakaknya menjemputku. Dua pria tampan menjemputku. Itu sangat hebat bukan?" Adriana menyombongkan diri.


"Kakak Senior pasti datang ingin menjemput Ella tapi Edgar dan Keluarganya sudah menjemput kami duluan" Emma juga menyombongkan diri. Dijemput Keluarga Dhawn benar-benar menjadi hari yang istimewa. Adriana menjadi cemberut dan juga sangat iri tapi Renay hanya tertawa kecil melihat penampakan wajah Adriana.


Kepala sekolah William's High School secara khusus mengundang pemilik Sekolah yang ternyata masih muda dan tampan dia adalah Cezare Marcosta Willem. Ella terpana melihat ketampanan pria beristri itu.


"Bukankah dia sempurna untuk menjadi Sugar Daddy?" Tanya Emma jahil. Dia tahu Ella menatap lekat lelaki yang sedang berpidato di panggung itu.


"Apa kau ingin aku kenalkan padanya? Aku berani bersumpah kau seumuran anak bungsunya. Kau mungkin jadi istri ketiganya" Balas Ella berbisik.


"Aku mending mencari yang miskin tetapi seumuran daripada Sugar Daddy. Tadi kan aku menawari dirimu, El"


"Jangan tawarkan padaku. Adriana pasti akan tertarik. Lihat, merah di lehernya lebih jelas daripada kemarin. Entah nyamuk sebesar apa yang menggigitnya"


"Nyamuk Derblatroz...." Kedua gadis itu tertawa sambil memejamkan mata untuk meredam suara ngakak yang akan keluar.


"Arquiela Roberto Simmons, silahkan ke panggung untuk menerima piagam sebagai Siswi dengan predikat lulusan terbaik"


Ella belum juga merespon. Dia dan Emma masih saja sibuk meredam tawa mereka.


"Arquiela Roberto Simmons dari kelas 12-1-1 silahkan naik ke panggung"


Sikutan Edgar membuat Ella kembali ke dunia nyata. Dia memandang Edgar kesal karena sikutan Edgar mengenai pergelangan tangannya yang kini nyut-nyutan. "Kenapa kau menyikutku?"


"Kau dipanggil. Tuh Kepala Sekolah sedang melotot padamu" Edgar mengkode bahwa Kepsek mereka sedang marah saat ini.


"Hehehhee... Aku pergi dulu" Ella cengengesan kemudian merapikan toga dan naik ke panggung dengan anggun siap menerima penghargaan.


Dari atas panggung dia bisa melihat wajah berbinar bahagia ketiga sahabatnya dan cemberutnya si Adriana. Ada juga keluarga Dhawn di kursi pendamping. Dan matanya jatuh tepat menghujam mata milik Leon. Leon memalingkan wajah pura-pura tidak melihat Ella. Nick tersenyum manis pada Ella tapi Ella menatapnya datar.


"Ini Nak piagammu" Ucapan dengan suara bariton itu mengembalikan penglihatan Ella kepada Pria tampan dihadapannya ini yang sedang menyodorkan piagam miliknya.


"Terimakasih, Tuan Willem"


Deg! Perasaan menggebu itu muncul di dasar hati Ella. Willem? Oh My God. Willem yang sama ataukah berbeda? Ella menatap dalam-dalam manik mata Pria itu yang dirasanya cukup familiar.


"Aku harap kau mau masuk ke Universitas William's. Kau bisa berkuliah dengan beasiswa penuh"


"Ha? Oh.. Akan aku pikirkan Tuan" Ella salah tingkah karena banyak menyelami pikirannya.


Sedangkan Tuan William tersenyum lembut pada gadis itu.


Akhirnya aku menemukanmu, Marie.


Setelah menerima piagam, berjabatan tangan dengan Tuan Willem dan Kepala Sekolah, Ella memberikan pidato singkatnya.


"Selamat pagi Kepala Sekolah, Tuan Willem, Guru-guru, teman-teman serta orangtua siswa yang menyempatkan diri hadir. Aku mengucapkan Syukur pada Tuhan atas perlindunganNya dan BerkatNya sehingga aku bisa berada diposisi ini. Tidak mudah untuk melalui semua cobaan dalam hidupku. Ada Guru yang sabar membimbingku, sahabat- sahabat yang selalu memberikan motivasi di saat aku kehilangan harapan dan keluarga yang mengayomiku"


Ya mengayomiku dan membenciku di saat bersamaan.


"Aku tidak akan berhasil tanpa kalian semua. Piagam ini aku persembahkan kepada Mom dan Mami Rosie yang sudah lebih dahulu berada di Surga. Terimakasih untuk cinta kalian berdua dan ajaran untuk selalu berbuat baik. Akhir kata, aku berharap keberhasilanku hari ini menjadi motivasi bagi adik-adik yang masih berjuang. Dan tetaplah berjuang teman-teman diwisuda hari ini, semoga kita semua bisa sukses kedepannya. Sekian dan terimakasih"


Tepuk tangan meriah dan siulan bersahut-sahutan di aula tersebut. Ella memberikan senyum terbaiknya kala melewati guru dan teman-temannya untuk kembali ke tempat duduknya.


Pelukan hangat Renay berikan ketika Ella melewatinya. Adriana juga menyalami Ella tapi Emma terharu dan meneteskan air mata. Edgar tersenyum manis menampilkan lesung pipinya yang dalam. Dia bangga pada Ella saat itu.


Acara berlanjut dengan pemindahan tali kemudian berfoto bersama dan makan siang di aula seberang. Keluarga juga segera menyambut putra-putri mereka. Memberikan bunga, pelukan, ciuman sayang dan juga rangkulan ala brother.


Adriana sudah dipeluk Amber dan Larry. Amber tersenyum cukup bangga pada putrinya itu. Larry memandang sejenak Ella yang berdiri bersama Emma cukup jauh darinya. Dia justru sangat bangga dengan Ella. Tanpa kasih sayang yang cukup darinya, Ella justru lebih berhasil daripada Adriana yang sangat dimanjanya.


Rosie, bayi yang kau jaga dengan nyawamu itu tumbuh menjadi gadis luar biasa. Dia bangkit dari keterpurukannya karena kepergianmu dan Marie.


Sedangkan di atas panggung, Cezare masih memandang seorang gadis yang sibuk mengambil makanan bersama gadis lainnya lagi. Gadis itu tidak peduli apakah diberi selamat atau tidak. Dia hanya ingin makan.


Dia sangat mirip dengan Marie. Aku akan mencaritahu tentang dirinya. Ada Keluarga Roberto dan juga Keluarga Simmons yang menjadi nama belakangnya. Siapakah dirimu, gadis kecil?


Tuan Cezare makin penasaran dengan jati diri Arquiela. Perasaannya tak menentu saat itu. Setiap melihat senyum Ella, bayangan Marie akan selalu hinggap di matanya.


Oh astaga. Setelah sekian tahun, aku masih juga mengingat dirinya. Aku sempat lupa sampai melihat lagi gadis ini membuatku bernostalgia ke masa-masa muda kami.


***


"Mom, aku tahu Mom bangga karena Ella berhasil kan?" Tanya Edgar pada ibunya. Wanita itu tersenyum dan mengangguk kecil.


"Dia gadis yang luar biasa. Ayo beri selamat dan mungkin pelukan hangat? Hahaha.."


"Hey, Mom... Dia akan menonjokku kalau aku memeluknya. Dia marah bila pria memberikan perhatian lebih. Entah kenapa"


"Atau berikan ciuman selamat pada gadis di sampjng Ella. Siapa namanya? Emma?"


"Aku tak mau Mom. Dia adalah gadis yang paling cerewet selama 4 tahun ini. Dia juga akan meneriakiku" Edgar acuh dan berlalu untuk menemui kakaknya meminta ucapan selamat. Sedangkan ibunya bergabung dengan Ella dan mulai berbincang hangat.


"Aku ijin ke toilet Mami. Aku tinggalkan Emma di sini untuk menjaga Mami dari pandangan pria muda. Mami sangat cantik hari ini" Ella menggoda Mami Chyntia.


"Hey, Nak. Berhentilah bermulut manis" Godaan itu menghasilkan rona merah di pipi wanita berumur 38 tahun tersebut.


"Siap, Bos. Bodyguard ini siap mencungkil mata para pria" Emma menyahuti godaan Ella dan membuat Nyonya Chyntia menahan tawanya.


Pantas Edmund lebih suka berada dekat dua gadis ini daripada berkumpul dengan anak laki-laki sebayanya. Mereka sangat menyenangkan. Mungkin salah satunya bisa aku jadikan menantuku.


"Nak, kau sudah punya pacar?" tanya Mami Chyntia pada Emma setelah Ella menghilang.


"Aku belum pernah pacaran karena waktuku habis oleh Ella, Edgar dan juga si kembar di rumah"


"Apa tidak kepikiran punya pacar?"


"Aku akan mencari pacar setelah Ella bahagia dengan pilihan hatinya"


"Kelamaan. Lebih baik sekarang mencari pacar. Saat umur 20 sudah menikah dan punya anak yang menggemaskan" Rayu mami Chyntia.


Tante Chyntia ini kenapa berkata seperti ini. Tidak mungkinkan mau menjadikanku menantunya? Emma bermonolog.


"Maaf Tante tapi..."


"Nanti tante jodohkan dengan anak-anak tante ya? Mereka tampan. Selain Edgar, ada juga Jackson atau mungkin kau ingin bersama Jeremy? Jeremy sudah berumur 27 tahun loh"


"Heh? 10 tahun dong bedanya?"


"Kalau begitu bersama Jackson saja. Dia 23 tahun"


"Itu juga bedanya 5 tahun. Tidak mau tante aku mau yang seumuran saja"


"Kalau begitu ada Edmund"


"Tante tidak bercanda kan menjodohkan aku dengan si tukang tidur itu? Aduh lama-lama kami bercerai hanya karena dia tidur terus dan tidak mencari nafkah. Aku mau yang pendiam saja. Edgar sangat usil dan selalu membuatku emosi. Aku bisa mati muda karena kekonyolannya. Dia juga berisik dan cerewet, bermulut cabai melebihi aku"


Tante Chyntia tertawa kecil. Bagaimana ada gadis yang menjelekkan anak di depan orangtuanya? Selain Ella, baru Emma yang bisa mengungkapkan semua kejelekan Edgar.


"Hahahhaa... Yah sudah, mereka semua tidak cocok. Kapan-kapan tante ajak berbelanja ya?"


"Aku tidak punya uang, Tante" Aku Emma jujur.


"Hahaha... Tante yang akan membayar semuanya. Ajak juga Ella dan teman-teman kalian yang lainnya. Hadiah kelulusan"


"Mungkin tante bakalan sedikit kehabisan modal soalnya ada sahabat kami yang menjadi Ratu Belanja" Emma sedikit berbisik.


"Tenang saja. Tante punya cukup cadangan kartu kredit. Jika kurang kita minta lagi pada Ayahnya Edmund" Tante Chyntia memberikan kepastian..


"Kalau begitu kami tidak akan sungkan"


Mereka berdua mengobrol terus sampai agak lama. Ella belum muncul-muncul juga membuat Emma sedikit cemas. Tapi tidak enak meninggalkan tante Chyntia sendirian.


***


"Astaga kenapa mereka memberiku heels menyebalkan ini? Menyakiti kakiku saja. Tadi aku pakai saja sepatu bot mungkin lebih bagus" Ella menggerutu di sepanjang Koridor Utara mencari Toilet wanita.


"Ri... hentikan.. Aw...." Suara erangan terdengar jelas di telinga Ella.


Penasaran, dia melongok ke setiap ruang kelas yang di laluinya hingga tiba di ruang ganti putra.


Mungkin ada yang menonton video itu sehingga aku mendengar suaranya. Pikir Ella karena itu adalah ruang ganti putra. Tapi rasa penasaran membuatnya masuk juga.


"Ri..... Aku merasa... ada orang.. masuk" suara terengah-engah itu membuat Ella membelalakan matanya.


Suara wanita yang sangat familier dan juga erangan pria yang membuat bulu kuduknya meremang. Dia ingin keluar tapi rasa penasarannya lebih besar mendorong dia melongok untuk memastikan siapa yang benar-benar berhasrat.


"Diam.... Aku tidak ingin berhenti saat ini.. Aku tahu kau juga sama jadi nikmati saja" Suara itu terdengar tegas. Dan Suara Ambigu mulai terdengar lagi walaupun volumenya tidak sekencang awal.


Ella mengambil handphone dan merekam setiap adegan yang mereka berdua tampilkan.


Wow! Kau menyerahkan kali pertamamu pada laki-laki seperti dia? Ckckckkc... Mengerikan.


Saat akan berbalik dan keluar, handphone Ella berdering. Membuat kedua orang itu terlonjak kaget dan melepaskan diri. Si pria lalu memakai celananya asal.


Sial! Siapa yang menelfon? Aku bakalan mati karena ketahuan. Bagaimana ini??


"Akh!!" Seseorang membekap mulut Ella dan menariknya membentur loker kemudian menghimpit Ella....


***


🤔🤔🤔Apa yang terjadi selanjutnya??


Jangan lupa tinggalkan jejak yah??


Salam ELughta😍😘