Sellena

Sellena
Tidak boleh, itu perintah!


Setelah kepulangan Richard, Ella masuk dan duduk bersandar di bahu Emma. Mencari kenyamanan di sana. Tapi halusinasi kecilnya mengandaikan bahwa itu Edgar. Emma serasa pacar yang dengan lembut membelai rambut Ella.


"Kau yakin tidak apa-apa mengambil keputusan seperti itu?" Emma bertanya hati-hati.


"Ayohlah, kapan sih aku tidak berhati-hati? Aku memikirkannya dengan matang. Aku akan memberikan permainan kecil pada mereka. Yakin atau tidak, mereka akan saling menggigit dan menuduh"


"Kau merindukan Edgar?"


"Pertanyaan apa itu? Aku merindukannya tiap saat. Kadang aku ingin menggali kuburannya dan membawa tulang belulangnya pulang untuk kupeluk. Tapi aku akan tampak seperti perempuan gila dan psikopat" Ella mendongakan wajah menatap Emma.


Heh? Apa tidak ada laki-laki lagi sehingga dia memilih untuk bermesraan dengan sesama wanita? Itulah yang ada di pikiran Amber melihat kedekatan Ella dan Emma. Gagal paham.


"Nenek sihir itu melihat kemari. Kira-kira apa yang dia pikirkan yah?" Emma semakin mendekatkan kepalanya seolah-olah mengecup pucuk kepala Ella.


Sandiwara ini cukup bagus membuat mereka salah paham. Pikir Ella


"Hehehehe.. berpikir kita pasangan sejenis setelah aku patah hati ditinggal mati Edgar. Maaf harus melibatkanmu ke dalam drama yang cukup membosankan"


"Dengan senang hati hamba menuruti semua kemauan Nona Muda" Emma seolah-olah menjadi prajurit setia berani mati.


"Hehehhe.. Wajah nenek sihir itu benar-benar jelek saat ini"


"Apa kau melihat bekas cupangan di lehernya tadi? Tumben sampai sebegitu merahnya"


"Kau ingin tahu karena apa? Kutunjukkan videonya sebentar tapi aku harap otak polosmu bisa menerima informasi itu. Aku tadipun sempat mual. Ck, melihat mereka di meja makan lagi sangat menyiksa"


"Ayohlah, kita ke atas sekarang. Zombie, kanibal bahkan horor level dewapun sudah aku tonton. Jadi kira-kira apa yang membuat wajahmu bergidik ngeri seperti itu?"


Emma ini polos atau apa sih? Masa tidak tahu nyamuk Richard yang menggigit leher bibi tadi. Daripada dia mati penasaran di sini, lebih baik aku merusaki otak polosnya. Yah, hitung-hitung memberinya pelajaran. Baiklah, aku bukan sahabat yang baik tapi ini demi kehidupan Emma kedepannya. Pembelajaran dasar penting saat ini. Ella langsung menarik Emma menuju kamar mereka.


"Ya ampun!!" Emma menjatuhkan tablet yang dipegangnya begitu melihat Amber masuk ke kamar Adriana saat Adriana pingsan dan membopong Richard ke kamar mandi.


"Kenapa terkejut seperti itu?"


"Mereka tidak melakukan hal iya-iya dalam otak kecilku ini kan?"


"Menurutmu? Bekas cupangan mahakarya siapa kalau begitu? Apa kau pernah melihat merah di leher itu selama ini sebelum Richard datang?" Ella bersedekap.


"Lalu Adriana?"


"Nonton saja hal selanjutnya yang membuat Adriana sampai kelelahan dan tidak ikut makan siang"


"Bibi Amber meletakan Richard kembali di tempatnya tadi lalu keluar dengan sedikit emmmm... tergesa-gesa. Ini di menit ke 127 saat Adriana bangun dan astaga!!" Kedua kalinya Emma menjatuhkan tablet. Untung karpetnya empuk. "Seharusnya kita pasang juga CCTV di kamar mandi untuk melihat kegiatan mereka lebih jelasnya"


"Hemmmm.. Mereka melakukan hal yang mantap banget di dalam sana dan aku yakin otakmu tidak akan mampu menampung informasi mesum seperti itu. Copy dan simpan rekaman ini baik-baik. Belum saatnya kita bermain-main dengan mereka" Ella mengambil cemilan dan memakannya rakus tapi bungkusannya sudah berpindah ke tangan Emma. "Emmaa..... Kebiasaan!"


Makan sisamu adalah yang paling enak. Emma acuh saja memakan keripik singkong sambal baladonya.


(Otor buru-buru goreng jagung soalnya gak ada singkong๐Ÿ˜… Gak papa tetap ajah bisa nemanin Otor ngehalu๐Ÿ˜)


Kebiasaan sama seperti Edgar yang selalu makan yang tersisa di piringku. Haih, aku merindukannya. Lagi dan lagi. Aku harus kuat demi Edgar. Dia tidak suka melihatku menangis. Ella mengipas-ngipas wajahnya yang memerah. Dia berusaha menghalau air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


"Mamiiiiiii....." Si kembar datang dengan tergesa-gesa.


"Ucapkan salam dulu" tegur Emma.


"Selamat sore Mami berdua yang cantik" Elli mewakili saudaranya memberi salam kemudian bergantian mencium tangan dan mengecup pipi kedua maminya begitupun dengan Ello.


"Jadi ada apa gerangan? Di kejar nenek sihir?"


"Bukan tapi ini tentang tablet yang tempo hari kami masukan di peti Angkel. Kami mengeceknya dan sekarang ada di negara..."


"Stttttt... Kalian berdua diam dulu. Mami akan mengangkat telepon. Halo Kak, aku di rumah. Kakak ingin bertemu? Sekarang? Iya baiklah" Ella mengakhiri panggilan teleponnya dan segera bersiap mengabaikan informasi dari kedua bocah kembarnya.


***


"Ella, di sini" Kak Jeremy melambaikan tangannya saat melihat Ella berada di pintu restoran.


"Kakak sudah lama menunggu?"


"Baru 10 menit yang lalu Kakak datang. Oh iyah silahkan duduk"


"Terimakasih"


Jeremy melambaikan tangan pada pelayan dan memesan makanan. Dia tidak ragu soal pesanannya karena dia tahu Ella bukanlah pemilih makanan.


"Jadi apa yang ingin Kakak bicarakan?" Ella bertanya setelah dia menghabiskan makan malamnya.


"Aku sudah mendengar dari Jackson bahwa kau akan bertunangan dengan Derbaltroz"


"Aku tidak bisa menolak tawaran menggiurkan dari mereka bukan? Aku langsung mengiyakan. Jika menunggu ibu tiriku yang turun tangan maka pasti akan ada persekongkolan di antara mereka"


"Kau yakin dengan keputusanmu ini? Jika Edgar masih ada, dia tidak akan suka"


"Edgar sudah pergi meninggalkanku, meninggalkan kita semua bukan? Aku hanya minta dia sedikit berjuang lebih lama agar aku bisa menunjukkan tanda cintaku tapi nyatanya dia menyerah akan hidupnya. Aku sekarang juga melanjutkan hidupku. Membebaskan diriku dari cintanya yang menjerat"


"Tapi masih ada cara lain bukan?" Jeremy mencoba menggenggam tangan Ella dihadapannya.


"Cara lain seperti apa? Aku menunggu bantuan dari siapa? Apa aku harus melihat Keluarga Dhawn dijatuhkan dalam semalam sama seperti Keluarga Simmons waktu itu? Untuk apa kalian berkorban begini banyak hanya untuk orang sepertiku?"


"Aku hanya bilang kau tidak boleh menikahi Richard, ini perintah!! Dia bukan pria yang baik buatmu"


"Aku tahu Kak, aku sangat tahu seperti apa Richard itu bahkan keseluruhan Keluarga Derbaltroz. Kakak cukup percayakan semua padaku. Aku janji aku tidak akan mengecewakan kalian yang rela berkorban untukku" Ella bangun dan bergegas pergi tapi Jeremy menangkap tangannya dan memeluknya dari belakang. Ella dengan segera mencoba melepaskan diri tapi dia kalah kuat.


"Aku tidak berharap kau berjuang sendirian. Edgar mempercayakanmu pada kami. Bagaimana bisa kami tinggal diam melihatmu masuk ke sarang Iblis"


"Aku sudah memperhitungkan semuanya. Tugas Kakak hanyalah mengingatkanku akan tujuanku yaitu Balas Dendam kematian Edgar"


"Sebegitu berhargakah Edgar dimatamu? Apa tidak ada cela lagi di hatimu?"


"Harusnya pertanyaan itu yang aku tujukan pada Edgar. Aku bahkan tidak bisa memberikannya cinta yang dia dambakan tapi dia memberikan nyawanya hanya untuk menolongku. Jadi haruskah ada celah agar orang lain masuk dan memporakporandakan kenangan antara kami berdua?"


"Aku tidak berharap kau berjuang sendirian tapi jika itu pilihanmu, aku hanya bisa mendoakanmu"


"Maafkan aku Kak. Untuk sekali ini, aku melanggar perintahmu. Aku punya tujuanku sendiri. Aku pergi" Ella berhasil melepaskan diri kemudian berlari keluar.


Aku tidak berhasil membujuknya dan aku juga tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan pada ibu. Ibu akan sangat kecewa. Aku tidak akan melepaskanmu Derbaltroz sialan. Jeremy kembali duduk dan menyugar rambutnya. Dia memesan anggur dan menghabiskannya seorang diri melepaskan sedikit beban di pundaknya.


***


๐ŸŒฝ๐ŸŒฝ๐ŸŒฝGoreng jagung... goreng jagung... jagung goreng... kriuukk kriukkkk.. hehehehe.. musim hujan begini enaknya yang hangat dan kress kress biar otak fresh..


Baiklah, Ella keras kepala kan? Tapi dia ada misi tertentu kok. Dia menolak bantuan karena tidak ingin ada yang seperti Edgar. Ayohlah, kehilangan karena kematian tuh bikin nyesek hati ini. ๐Ÿ˜ฃ


Tapi Ada lagi kejutan lainnya, sabar saja. Otor biasanya semedi 2 atau 3 hari ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Jadilah Real Reader yang meninggalkan jejak buat Otor๐Ÿ™๐Ÿ™ Komen tentang tokoh atau jalan cerita kek, atau like, mungkin lagi baik hati jadi bisa rate dan vote๐Ÿค—๐Ÿค—


Jangan Ghost Rider eh salah Ghost Reader mksudnya yang lalu lalang begitu saja. ๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜”๐Ÿ™ƒ Yang tersisa hanya kenangan๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


Haihhhh... Curhat pun percuma๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜“


Tapi titip salam saja dari ELughta๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜