Sellena

Sellena
Persiapan Pertunangan Ella


"Emma, bangun" Ella menepuk pipi sahabatnya pelan. Emma sedikit terusik tapi memilih melanjutkan mimpinya. Mungkin saja lagi mimpi berduaan dengan Kak Jackson.


Ella menghela napas pelan. Dia masih memandang wajah sahabatnya itu dalam diam. Kadang dia bertanya dalam hatinya mengapa Emma mau bersahabat dengannya. Dia tidak bisa selalu melindungi Emma. Tapi terkadang juga dia sangat bersyukur ada Emma di sampingnya. Kesedihannya saat kehilangan Edgar sudah sebagian yang terobati karena senyum dan tawa yang Emma tularkan.


"Aku akan bertunangan dengan orang itu hari ini. Aku ingin segera masuk ke dalam permainan mereka dan melihat sejauh mana mereka bermain trik. Sebenarnya apa yang mereka cari sehingga tega mengorbankan Edgar? Aku yang tidak tahu apapun juga terseret di dalamnya" Ella mengeluh sendiri. Tiba-tiba Emma memeluk erat dirinya dan bergumam tidak jelas.


"Emma, apa keputusanku ini terburu-buru? Aku bahkan akan meninggalkanmu, si kembar, Jay dan Carol. Apa aku pindahkan kalian ke apartemen saja ya? Amber tidak akan memberi ijin karena empat anaknya aku bawa kabur. Tapi jika kau tetap di sini, mereka akan berlaku tidak adil padamu. Apa aku salah jalan?" Ella masih terus mengeluh. Entah Emma mendengar atau tidak tapi dia senang gundah dalam hatinya dapat dia keluarkan.


"Camael, ada pertunjukan apa pagi ini?"


"Camael siap bertugas, Nona. Berita buruk, CCTV merekam siluet pria bertongkat yang masuk ke kamar nomor 2. Berita baiknya pertunangan nona akan di adakan di BalTroza Hotel dengan tamu undangan mencapai 2000 orang"


"Siluet siapa itu? Cocokkan dengan data. Tapi sudahlah aku tahu siapa itu. Menjijikan! Hari ini bertunangan denganku tapi menunggangi orang semalaman. Hufffhhh.. Ella jangan marah, hanya sesosok siluman nyamuk"


"Pesta dimulai jam 7 malam" Camael memberitahu.


"Camael, hubungi MUA dan guard kepercayaanku. Siapkan mereka dibalik layar. Aku tahu Adriana akan berulah hari ini. Berjaga saja jangan sampai Keluarga Derbaltroz sengaja menjebakku. Aku tahu mereka licik. Pindai cetak biru hotel kemudian kirim pesan pada Dr. Lee aku ingin chip kornea itu sampai ditanganku paling lambat pukul 6 sore nanti" Perintah Arquiela pada Camael, Genius Computer-nya.


"Siap, Nona" Suara komputer yang imut keluar melalui speaker aktif di Tablet miliknya. Kadang Ella berpikir untuk membuat Camael menjadi robot yang cantik tapi akan susah di bawa kemana-mana.


"Hoammm... Selamat pagi Calon Nyonya Derbaltroz. Sibuk sekali pagi ini"


"Sibuk sekali dan sahabat lacknatku ini tetap bobo cantik dengan aliran sungai di sudut bibirnya. Pergi mandi sana!" usir Ella halus-halus kasar.


"Lihat saja penampilanku yang sangat memukau nanti. Camael, siapkan gaunku. Jangan terlalu mewah dan aku harap sedikit tertutup. Mata Richard itu kan biasanya jelalatan. Pesankan di butik milik Ella saja. Mereka sudah tahu kesukaanku"


"Baik, Nona" Camael segera menjalankan perintah nona keduanya. Memesan gaun kesukaan Emma dengan warna dan ukuran yang pas. Butik milik Ella sudah ada sejak setahun lalu dan hanya beberapa orang saja yang benar-benar tahu siapa pemilik "Ellena Butiq". Tidak akan ada yang berpikir bahwa gadis 17 tahun itu adalah pemilik sahnya.


Setelah Emma mandi, giliran Ella. Emma sendiri hanya memakai kaus oblong dengan celana jeans sebab mereka akan di make up di BalTroza Hotel. Emma menepuk pelembab wajah dan liptint tipis. Dia sangat manis hari itu.


Ella keluar dengan air yang masih menetes dari rambutnya. Emma mendudukannya di kursi depan meja rias dan mengambil handuk yang ada digenggamannya lalu mengeringkan rambut Ella.


"Mom akan sedih. Anak gadis Mom akan bertunangan hari ini" Emma berkomentar seperti seorang ibu yang akan kehilangan anak daranya.


"Ayo kita berkunjung ke makam mereka. Sudah beberapa bulan ini aku tidak berkunjung ke makam Mom. Dia pasti marah denganku saat ini"


"Ayo kita pergi" Emma antusias sebab dia juga ingin pergi ke makam seorang yang telah melahirkan sahabat baiknya ini.


"Camael hubungi RK-5 dia akan berguna hari ini. Aku jamin latihan bela dirinya akan aku manfaatkan hari ini. Ah, satu lagi! Minta dia meretas CCTV dan cari jalanan lengang menuju pemakaman Mom dan Edgar. Aku ingin perjalanan yang mulus. Siapkan mobil yang tidak mencolok. Ck! Jalan bersamanya saja sudah sangat mencolok. Dia tampan" Perintah Ella pada Camael yang berakhir dengan memuji ketampanan Gio, salah satu Guard dan peretas handal miliknya. Ella adalah gadis yang tidak sesederhana kelihatannya.


Camael tidak menjawab Nonanya lagi. Dia langsung sibuk mentransfer informasi pada Gio yang samarannya adalah RK-5.


30 menit kemudian mereka berdua telah selesai bersiap. Mereka menunggu Gio di depan gerbang.


"Selamat pagi Kak Gio, sehat?"


"Selamat pagi juga Nona. Saya sangat sehat dan siap melayani nona hari ini" Gio menunduk hormat pada Nona-nya.


"Kak Giooo... Aku rindu sekali. Sudah 3 tahun kita tidak bertemu. Akh! Jiwa jombloku ini meronta"


"Lebay" sahut Ella malas.


"Maaf Nona Emma, saya tidak merindukan anda. Mari berangkat" Gio hanya membalas dengan wajah datar.


"Kakak pilih kasih sekali... Tadi saja dengan Ella senyum pasta gigi tapi denganku wajah kaku begitu"


"Aku laporkan kau pada Kak Jackson baru tahu"


"Biarkan saja. Toh pacaran saja kami tidak. Lapor padanya pun tidak akan berguna pada kelanjutan hubungan kami. J gaya lambat"


"Makanya kalau sudah di depan mata yah diembat dong. Jangan sampai hilang baru depresi. Jangan sepertiku Emma. Saat terakhir baru sadar akan cintanya padaku. Aku pikir dia menyukaimu saat itu sehingga aku diam saja"


"Kami bertengkar tiap hari apa kau lupa?"


"Kupikir benci awal cinta. Ternyata mencintai diam-diam lebih menyesakkan"


"Sudah-sudah. Hidup harus berlanjut. Penyesalan memang datang terlambat tapi setidaknya kau menyadari itu daripada tidak punya kenangan apapun tentangnya. Aku masih belum percaya dia pergi"


"Hem. Akupun begitu. Merasa dia masih hidup. Aku masih merasa berdebar setiap kali melihat fotonya. Aku rindu"


"Jangan menangis" Emma memeluk Ella dengan kencang. Membiarkan Ella bersandar di bahunya dan memberikannya rasa tenang.


***


"Hay Mom. Aku datang lagi hari ini. Lihatlah putrimu ini sudah akan bertunangan. Mom tidak perlu khawatir dengan jalan yang aku ambil. Aku hanya ingin mengembalikan kedamaian pada tempatnya. I miss you so much. Aku berharap di kehidupan berikutnya aku tetap menjadi putrimu yang cantik" Ella menaruh bunga kesukaan ibunya, mawar putih.


"Hay Aunty, perkenalkan aku Emma Anderson. Aku adalah sahabat baik Ella. Aku juga sama sepertinya tidak punya ayah atau ibu. Aunty tenang saja aku akan menjaga Ella dengan baik. Aku berjanji akan selalu berada di sisinya dalam kondisi apapun. Aunty peganglah janjiku" Mereka berdua kemudian membungkuk hormat. Ella sudah bisa menguasai perasaannya. Dia tidak terlalu cengeng lagi seperti dulu.


"Mom, kami pamit untuk mengunjungi Ed. Apakah kalian sudah bertemu di sana? Aku harap begitu. Aku akan ke sini lagi membawa calon suamiku"


Mereka segera keluar dari pemakaman umum tersebut menuju pemakaman Keluarga Dhawn. Ella bisa masuk dengan leluasa ke sana karena memang dia adalah sahabat baik Edgar.


"Ed...." Baru melihat nisan dengan foto Ed di atasnya sudah membuat Ella berlinang air mata. Dia belum bisa melepas kepergian Edgar. Sudah sebulan berlalu tapi hatinya belum menerima kenyataan pahit itu. Emma segera memeluk Ella menenangkannya.


"Ed..." Suara lembut yang keluar dari bibir Ella harus berakhir dengan getaran di belakangnya. Dia sedang menahan tangis.


"Edgar, maafkan kami karena aku dan Ella baru sempat mengunjungimu. Kami ke sini ingin meminta restumu. Ella akan segera bertunangan dengan Richard Derbaltroz" Emma kemudian meletakan karangan bunga.


"Ed... Ed.... Aku.. aku sangat merindukanmu dan kau.. pasti tahu itu kan? Hiksss... Aku berat sekali menginjakan kaki di sini karena aku pasti mengingat kembali saat-saat kau tertidur di pelukanku. Aku belum ingin melepasmu pergi tapi kenapa kau pergi hah!?? Sekejam apa dirimu padaku?" Ella berlari memeluk nisan dan mengelus pelan foto Edgar di sana.


"Seandainya saja kau berikan aku kesempatan untuk menunjukkan betapa besar perasaanku ini. Kau bukan hanya 1% dihatiku tapi kau sudah mengakar di sana. Kau pemilik hatiku. Sayang takdir tidak berpihak pada kita. Takdir mempermainkan diriku. Aku akan menjadi istri orang yang telah melenyapkanmu"


Tiba-tiba Ella berdiri tegak.


"Hari ini aku bersumpah akan membasmi habis kejahatan yang berada di sekitar kita. Sudah sejak bibi Rosie masih hidup kejahatan ini mulai menampakan diri. Sekarang mereka mulai berusaha mempermainkan diriku. Aku bukanlah gadis lemah. Ed, berjalanlah bersamaku selalu. Dukung aku dari Surgamu. Aku pamit, mungkin aku akan jarang menjengukmu karena setelah ini aku masuk kubangan neraka. Kau akan menjaga dirimu. Aku mencintaimu selalu"


Ella naik ke mobil dan menangis lagi di sana. Setelah puas, Gio segera melajukan mobilnya meninggalkan kompleks pemakaman. Tanpa mereka sadari, 2 pasang mata mengawasi pergerakan mereka.


***


Jadi siapa yang sedang memata-matai mereka? Nantikan jawabannya di next chapter😊


Maaf untuk keterlambatan update🙏


jangan lupa komen, like dan votenya


Salam ELughta😍😘