Sellena

Sellena
Gadis itu milikku


William's Play Group


"Edmundus Gardino Dhawn. Panggil saja aku Edmun" Ed mengulurkan tangannya pada seorang gadis kecil yang duduk di sebelahnya. Senyum manis dan lesung pipi dalam menghiasi pipinya.


Gadis kecil itu memandangnya ragu tapi kemudian mengulurkan tangannya. "Namaku Arquiela Roberto. Kakak bisa memanggilku Quiel"


"Hem. Qiel?"


"Quiel, kak. Qu-i-el" Quiel mengeja namanya pelan.


"Penyebutan Quiel sangat susah. Aku akan memanggilmu Ella saja"


"Aku juga tidak suka nama kakak, Edmun. Kedengaran seperti Penyamun??"


"Heisssh.. Namaku itu keren tau. Panggil Ed saja kalau begitu"


"Lebih baik aku panggil kakak dengan nama Edgar saja. Itu nama yang keren juga manis. Kakak sangat tampan" Ella memberikan dua jempolnya.


Ed tersenyum manis. Semburat merah muncul di kedua pipinya. Bagaimana mungkin gadis polos berusia 4 tahun ini mampu membuatnya malu??.


"Hilangkan kata kakak itu. Aku bukan kakakmu. Ayo menjadi teman" Ed mengulurkan jari kelingkingnya tanda persahabatan.


"Ketika kita dewasa, maukah kakak tetap menjagaku?" Ella menautkan kelingkingnya.


Ayohlah kita baru bertemu. Apa-apaan menjagamu sampai dewasa?? Ed.


"Hehehehe... Tergantung apakah kau akan tahan terhadap sikapku nanti"


"Ya semoga saja kakak bisa mengimbangi tingkahku"


"Aku kan sudah bilang aku bukan kakakmu. Dasar" Ed mengacak gemas rambut Ella hingga berantakan.


"Huwahhhh Mommy... Dia membuat berantakan rambutku" Lapor Ella pada seorang wanita muda yang datang menjemputnya.


"Selamat siang Tuan Muda Dhawn. Anda juga bersekolah di sini?"


"Selamat siang juga Nona Willem. Iya, aku bersekolah di sini. Kebetulan aku bertemu Ella" Edgar memanggilnya Nona karena wanita itu masih tampak sangat muda. Cocok menjadi kakak tertuanya.


"Maafkan Ella. Dia sedikit manja padaku"


"Tidak apa-apa. Mungkin kedepannya aku yang akan menjaganya hingga dewasa. Gadis Kecil itu milikku"


"Tepati janjimu sebagai Lelaki sejati, Kak" Ella menyembulkan kepalanya dari balik kaki Marie Willem. Dan Marie hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah dua anak TK itu. Mereka sangat manis seolah-olah sedang melakukan pernikahan balita.


***


Edgar senyam-senyum sendiri mengingat kembali kebersamaan dia dan Ella saat di TK. Dia masih memegang janji pada Almarhumah Nyonya Willem. Seiring waktu sapaannya berubah menjadi Nyonya untuk menghormati Bibi Marie sebagai orangtua tunggal.


Saat kepergian bibi Marie. Ella sangat terpukul tapi berusaha untuk selalu tegar. Dia ingin menghibur gadis itu tapi Ella lebih banyak bersandar pada bahu Leon. Padahal bahunya hanya menganggur. Dia cemburu dan juga sedikit iri karena Ella tinggal bersama Leon. Dia juga ingin menjaga gadis itu dari jarak dekat.


Bahkan saat gadis itu pindah sekolah, dia juga pindah. Janji yang dia buat bukan asal janji semata. Dia benar-benar merelakan semua waktu hanya untuk membawa gadis itu kembali ke keceriaan seperti sebelumnya.


"Woiiii kenapa senyam-senyum sendiri? Sudah mulai gila ya?" Emma menelisik wajah Edgar dari dekat.


"Jauhkan wajah jelekmu itu Nona. Aku tidak tertarik padamu"


"Awas saja kalau kau sampai jatuh cinta padaku. Tidak sudi"


"Siapa juga yang mau jatuh cinta padamu? Pergi sana. Aku ingin tidur."


"Kau boleh tidur setelah kelas Olahraga berakhir, okay?"


"Kau sangat berisik. Aku hanya ingin tidur. Biarkan aku tidur, 5 menit lagi"


Emma tidak kehabisan akal untuk membuat Edgar pergi berganti baju. Ini adalah Ujian. Dan entah kenapa dia harus peduli pada bocah tengil tersebut. Sebuah lampu ide meyala di samping kepalanya.


"Hari ini kita Ujian bersama kelas 12-2-4 loh.. Itukan kelasnya Richard Derbaltroz yang terkenal penuh dengan cowok bandel plus nakal juga. Aku melihat dia dan teman-temannya sudah berada di lapangan, siap menggoda Ella kapan saja"


Senyum jahat tercetak jelas di bibir Emma saat melihat Edgar bangun dengan segera, mengambil tasnya dan berlari ke belakang kelas membuka lokernya. Lalu secepat kilat berlari ke ruang ganti pakaian.


Mudah saja membangunkannya dengan menyebut nama Ella atau Derbaltroz. Hehehe. Emma tertawa di dalam hatinya. Kepedulian Edgar pada Ella memberikan kelegaan di hatinya.


"Aku menyayangimu,Emma" Teriak Edgar setelah keluar dari ruang ganti pria yang berada di ruangan kedelapan sebelah timur setelah kelas mereka.


Ruangan itu berada di ujung koridor selatan. Sebelah ruangan itu adalah tangga. Sebelah tangga adalah koridor Timur. Sekolah mereka memiliki kelas yang membentang di setiap sudut mata angin. Dan sangat besar karena lapangan olahraga dan lapangan apel bendera berada di tengah sekolah itu, memungkinkan setiap siswa bisa menonton pertandingan dari emperan kelas mereka.


Agar tidak ketahuan bahwa dia yang berteriak, dia mengendap-endap menuju lapangan mengikuti lorong kelas sebelah barat yang langsung bersebelahan dengan tangga turun ke lantai 2. Dia sempat melirik CCTV tapi saat itu CCTV menyayanginya sehingga mati atau mungkin lampu padam. Setelah berada di tangga, dia berlari menuruninya hingga sampai di lantai 1 dengan selamat. Fiuh,aman! Hampir saja dijemput oleh guru BK. Dia bicara dalam hatinya sambil terus menetralkan napasnya. Syukurlah guru belum sampai saat dia berada di pinggir lapangan.


***


"Aku menyayangimu, Emma"


"Aku tidak butuh sayangmu itu..." Balasan Emma terngiang-ngiang di telinga Edgar.


Haih! Apa aku begitu jelek sehingga dia tidak butuh? Lalu mulut ini juga seenaknya saja mengeluarkan kata-kata sakral itu. Edgar menepuk mulutnya pelan, meruntuki kebodohannya. Dia menuruni tangga dengan terburu-buru hingga tidak lama kemudian sudah berada di lantai 1.


Secepat kilat dia melesat menuju lapangan. Dia bahkan lupa bahwa baju seragamnya masih tergantung di ruang ganti. Intinya si bangsat Derbaltroz itu tidak mengganggu Ella.


Dan pemandangan di depannya tidak di pungkiri membuatnya sedikit merasa panas. Panas di tubuh dan hatinya karena khawatir dan jantung yang masih berdebum ria. Dia bukan jatuh cinta. Dia habis marathon dari lantai 3 tadi.


Ella duduk di rumput ditemani beberapa teman perempuannya. Mereka bercerita beberapa hal lucu dan tertawa. Tidak ada Derbaltroz yang berkeliaran saat ini. Dia kemudian melirik Emma yang tersenyum kikuk. Dan beberapa menit kemudian permainan tikus-kucing antara Emma dan Edgar itu berlangsung meriah.


"Emma, berhenti di situ"


"Uwahhhh... Kalau berhenti, kau akan memukuliku, ampun"


"Aku bilang berhenti" Edgar masih saja mengejar Emma. Dan berhasil menangkapnya karena yah langkah kaki yang panjang itu sangat berguna saat ini. Tapi bukan Emma namanya jika tidak bisa berkelit.


Dia berlari dan bersembunyi di belakang Ella menyelamatkan dirinya. Tatapan galak Ella menghentikan aksi Tom And Jerry di antara mereka. Selayaknya suami takut istri, Edgar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pun Emma di belakang meledek Edgar habis-habisan.


"Masih baik Emma mau membangunkanmu untuk ujian. Bukannya bilang terimakasih, kau malah mengejarnya. Huh!" Omel Ella sambil berkacak pinggang. Di belakangnya, Emma menjulurkan lidahnya, membuat Edgar takut dan gemas di saat bersamaan.


"Dia bilang Derbaltroz sialan itu datang dan mengganggumu" Edgar membela diri.


"Eh? Tadi kan aku hanya bilang kita akan bergabung dengan kelasnya Richard, bukan Richard sedang mengganggu Ella. Kau jangan memfitnahku, Ed"


"Berarti tadi ada setan yang berbisik padaku" kata Edgar acuh.


"Kau yang setan kecil. Tidur terus sampai sukses. Aku sampai bosan mengajarimu" Ella masih terus mengomel.


"Yah kalau kau bosan mengajariku pelajaran, maka aku juga bosan mengajarimu bela diri.."


Kata-kata itu meruntuhkan semua kata omelan yang berada di ujung lidah. Ella menelan kembali perkataannya.


"Bisanya cuma mengancam. Biar aku yang jadi gurumu saja" Emma hendak menarik Ella pergi ketika Edgar juga menarik tangan yang satunya.


"Eits. Apa kau ingat perkataan dokter? Ella tidak boleh terluka. Dan dia hanya akan aman jika bersamaku"


Perkataan Edgar tidaklah salah. Selama 4 tahun ini, Ella selalu aman bersamanya. Setahun setelah Ella pulih, dua gadis itu berlatih bela diri bersama Edgar. Mereka bukan mau menjadi master hanya saja mudah-mudahan bisa membela diri di saat genting.


Tapi dasar Emma keras kepala. Dia sengaja menarik Ella dengan keras sehingga tangan Ella hampir terlepas dari genggaman Edgar. Jangan lawan tenaga anak laki-laki jika tarik menarik tangan seperti ini.


Dan dua tanduk yang tumbuh di kepala Emma mengisyaratkan keadaan tidak enak bakalan terjadi. Dia sengaja melepaskan genggamannya sehingga setelah hampir sampai di pelukan Edgar, Ella segera terjungkang ke depan menubruk tubuh Edgar karena tidak seimbang. Alhasil dia mendarat sempurna di atas tubuh Edgar. Kejadian ini menjadi tontonan menarik teman-teman sekelasnya. Beruntung masih jam pelajaran sehingga tim penggosip di koridor tidak mengabadikan moment itu.


"Emma......" Teriak Edgar frustasi. Emma memasang senyum jahat. Dia diam-diam berhasil memotret keadaan tumpang tindih tersebut. Sangat asyik mengerjai kedua sahabatnya ini.


"El, bangun dari tubuhku. Apa tubuhku begitu indah sampai kau nyaman berlama-lama di atasku?"


Perkataan itu sukses membuat wajah Ella memerah malu dan detik berikutnya, bugh! tandukan di kepala Edgar menjadi saksi bahwa gadis di atasnya ini sudah menjadi lebih kuat. Ella segera bangun dari tubuh Edgar.


"Aw. Kau tega membunuhku?" Sambil mengusap jidatnya yang perih, Edgar berusaha duduk.


Ella tidak menjawab. Dia menjauh dari Edgar dan mencari Emma. Setelah menemukan Emma dia mencubit pipi Emma dengan gemas hingga memerah. Teman-teman sekelas mereka hanya tertawa kecil melihat kekonyolan ketiga orang tersebut. Mereka merasa sangat terhibur. Dan tak lama kemudian guru olahraga datang dan ujian pun dimulai.


Sehabis kelas olahragapun Ella menghindar dari Edgar. Rasa malu mengalahkan segalanya. Bagaimana mungkin dia merasa sangat nyaman dalam pelukan sahabatnya itu. Lebih hangat dari milik Leon maupun Nick. Dia tersenyum sendiri mengingat kejadian memalukan tadi.


Saat pulang sekolah, Ella menarik Emma dan kabur dari pandangan Edgar. Emma malah meledek Ella habis-habisan di atas taxi. Supir taxi juga ikutan tersenyum karena mendengar percakapan dua gadis penumpangnya. Mereka sedang jatuh cinta rupanya. Pikir si supir.


***


๐Ÿ˜†๐Ÿ˜† Edgar ini mau apa sih sebenarnya? Kucing tikus dengan Emma tapi Tikus kucing dengan Ella...


Hey apa kabar Erine, Leon dan Nick? Mereka bakalan hadir di episode-episode yang akan datang... ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Keasyikan sama cerita EdEll sampai lupa masih ada tokoh yang gak tau pulang-pulang atau kasih kabar๐Ÿ˜…


SELLENA juga mengalami pergantian Cover. Cover sedang direview sehingga beberapa readers mungkin masih melihat cover yang lama. Cover bukan milik Author. Jika ada kesamaan cover, jangan lupa untuk mengingatkan author...


Jangan lupa juga tinggalkan jejak yah? Aku mencintaimu, Readersku๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Salam ELughta๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜