
Hay Readersku tersayang ππSemoga tetap Update yah? πππ Jangan lupa tinggalkan jejak ππ
***
"Jadi apa yang ingin Ayah sampaikan?" tanya Erine setelah duduk.
"Mungkin agak mendadak tapi ini adalah keputusan terbaik saat ini. Perusahaan Ayah mengalami beberapa masalah. Ayah tidak mampu lagi membiayai kalian semua. Apalagi tahun ini Leon juga akan masuk Universitas" Arthur Simmons mengusap wajahnya kasar.
"Apakah ini juga berhubungan dwngan pertunangan Kak Leon?" Tanya Ella setelah mendalami situasi yang ada.
"Kau benar,nak. Leon bertunangan dengan gadis itu agar membentuk aliansi. Keluarga Rein bersedia untuk membeli perusahaan induk" Jawab Arthur
"Lalu apa yang Ayah lakukan selanjutnya?"
"Ayah akan menjual seluruh properti dan pindah ke negara dimana Leon bersekolah nanti"
"Berarti aku juga akan ikut, kan?"
Arthur menggeleng. "Tidak, Nak. Kau akan pulang ke rumah lamamu"
Hah? Yang benar saja? Ella
"Baiklah jika itu keputusannya. Besok libur jadi aku akan berkemas dan pindah. Emma ikut denganku"
Situasi sudah seperti maka terima saja takdir yang tertulis. Ella pasrah menerima nasibnya. Dia juga rindu rumahnya dan setidaknya ada Emma yang menemaninya. Erine, Leon, Ibu dan Emma hanya diam saja mendengar percakapan Ayah dan Anak itu. Mereka juga syok atas apa yang terjadi.
Erine sudah duluan berlari meninggalkan mereka dengan isakan kecilnya. Dia akan pergi meninggalkan sahabatnya. Entah kapan baru kembali.
***
Jam 9 malam. Kamar Erine
"Jangan menangis seperti ini. Kita kan masih bisa bertukar pesan? Negara A tidak terlalu jauh kok"
"Hiksss... Tapi entah kapan kita akan bertemu kembali"
"Kau tenang saja. Aku yang akan menjaga Ella di sini"
Ella dan Emma memeluk Erine dan menenangkannya.
"Kalian akan merindukan wajah cantikku ini kan? Huwaaaa"
*Saat sedih begini yang dia pikirkan adalah wajah cantiknyaπ€¦ββοΈπ€¦ββοΈ*
"Kalau kau menangis terus, kau akan jelek nantinya" Ledek Emma.
"Kau benar. Tapi..."
"Hush.. Sudahlah. Besok kita akan sibuk berkemas dan aku juga akan mengantar kalian ke bandara" Ella langsung menghentikan Erine yang mulai merocos.
***
"Emma, bangun"
Erine mencoba memgguncangkan tubuh Emma untuk membangunkannya.
"Apakah sudah pagi?" Tanya Emma dengan suara parau
"Belum. Ini masih tengah malam"
"Lalu kenapa membangunkanku? Kau mengganggu mimpi indahku"
Heiii... Sadarlah" Erine mengguncangkan tubuh Emma lagi lebih kuat ketika dia melihat sahabatnya itu memejamkan matanya lagi.
"Iya...Iya... Sudah cerewet, berisik pula"
"Kau harus berjanji bahwa kau akan menjaga Ella dengan baik. Keluarganya itu berisi orang jahat dan serakah. Berusahalah jauhkan Ella dari pengaruh buruk mereka. Aku tidak mau trauma Ella kambuh lagi akibat perbuatan jahat mereka"
"Akan aku usahakan" Emma tersenyum.
"Kita tidak bisa sering kontak tapi minta Ella untuk mendekati Tunangan Kakak agar mendapatkan informasi tentang kami"
"Tapi apakah keluarga Roberto benar-benar jahat?" Emma merasa ragu akan penuturan Erine.
"Kau harus tinggal bersama mereka baru kau bisa tahu bagaimana liciknya keluarga itu. Hati-hatilah dengan Nyonya Roberto"
"Tapi Mengapa?"
"Sudahlah, ayo tidur. Jangan banyak berpikir"
Jadi apa maksudnya? Nyonya Rumah itu Psikopat? Emma
***
Apakah benar keluarga Roberto tepat seperti penuturan Erine? Atau hanya karangan belaka? Nantikan Episode Kepulangan Ella ke rumah lamanya.
Jangan lupa Like,Vote dan Rate yah agar Author makin semangat mengembangkan ceritanya.πππ