
Ella merenggangkan tubuhnya kaku. Dia bangun untuk membersihkan diri dan kamarnya kemudian pergi memeriksa kedua bayi imutnya.
Sudah dua bulan berlalu sejak kejadian itu. Ella dengan leluasa masuk keluar rumah Keluarga Rizon karena memang sikap Meiya sudah berubah setengah lingkaran.
Hubungannya dengan Brandon juga sudah nampak seperti kakak beradik pada umumnya. Dia sering bermanja hanya saja tidak kelewatan karena ada Brenda yang harus bermanja juga. Apalagi ada seorang pria yang akan selalu menghukumnya.
Bagaimana keadaan Steven? Beberapa hari lalu dia pulang ke Negara I untuk menyelesaikan beberapa permasalahan di sana. Jackson cukup kewalahan mengatasi masalah perusahaan cabang. Ada Ayah atau Jeremy tapi dia sangat malu bila harus meminta bantuan mereka.
Steven ke sana setelah mengubah penampilannya. Topeng kulit yang mereka ciptakan sungguh bisa membuat orang lain terkecoh. Ella sudah punya rencana tersendiri mengenai topeng kulit itu.
***
Ella selalu memantau perkembangan perusahaannya melalui email yang dikirim Chen. Hanya saja beberapa saat lalu ada sebuah proyek yang membuatnya mengernyitkan dahi.
Baltroza Corp mulai tertarik untuk bekerjasama dengan mereka setelah berbulan-bulan kehadiran mereka. Pastinya mereka membutuhkan suplier kelas atas untuk industri fasyion.
Ella menandatanganinya dengan cepat karena bagaimanapun Baltroza Corp akan memberikannya keuntungan besar. Mereka mungkin bisa menikmati hasil itu untuk beberapa tahun kedepan.
"Kak Chen, sudah aku tandatangani dan berikan mereka kualitas yang terbaik. Jangan lupa untuk terus mengawasi perkembangan Seven Paradise. Aku akan berkunjung ke sana saat Elleane telah bangun"
"Kami menunggu kedatangan Nona Besar"
"Ah... Apakah Emma sering berkunjung ke markas?"
"Sering, Nona. Bersama dengan suaminya"
"Titip salam untuknya. Aku belum bisa menghubungi mereka lagi karena aku cukup sibuk di sini"
"Akan saya sampaikan, Nona"
"Tolong kembangkan beberapa topeng kulit yang sama persis dengan wajahku, lensa mata dan juga rambut. Akan aku gunakan untuk beberapa kegiatan karena rambutku yang sekarang berwarna seperti milik Elleane"
"Apakah saya harus menyiapkan beberapa gadis yang mirip anda?"
"Hehehe, Kak kau bisa menebak rencanaku? Iya mereka juga aku butuhkan. Hanya saja cukup 3 orang dulu. Perbiasakan bertindak dan bertingkah laku sepertiku. Cari yang yatim piatu sehingga lebih aman. Kompensasi untuk mereka satu tingkat dibawah gajimu karena tugas mereka cukup sulit. Itu saja cukup, selamat pagi"
"Siap laksanakan, Nona Besar. Selamat pagi juga" jawab Chen mengikuti waktu di negara A.
Tut. Panggilan diputus oleh Ella dan dia meletakan kembali telepon genggamnya di meja.
Dia masuk kamar mandi dan mulai membersihkan diri lalu bersiap untuk menemani kembarnya bermain. Dia sering sibuk belakangan ini sehingga waktu bersama si kembar berkurang jadi hari ini dia benar-benar ingin menghabiskan waktu.
Setelah selesai membersihkan diri, dia langsung ke kamar si kembar. Dia menyuruh dua pengasuh keluar dan membiarkan dia sendirian bersama mereka.
Tahu bahwa ibu mereka datang, Thea langsung tertawa sedangkan Theo hanya menatap Ella malas. Biasalah bawaan bayi.
Ella segera memakai baju khusus untuk menyusui dan mulai memberi bayinya minum. Hanya dia yang boleh mengenakan itu sehingga Theo dan Thea bisa nyaman bersamanya karena waktu yang sedikit ketika bersama mereka.
Thea bersendawa karena merasa kenyang. Desain yang benar-benar seperti Dada Wanita menyusui membuat Ella tidak kesulitan memberi ASI bagi dua bayinya.
ASI itu diperoleh dari Bank ASI ataupun dari beberapa ibu yang mempunyai kelebihan ASI. Semua Higinies tentu saja.
Ella bermain sebentar dengan mereka sebelum keduanya kembali mengantuk dan tertidur lelap. Ella menyanyikan Nina Bobo hingga tak sadar dia juga menguap karena ikutan mengantuk.
Tapi dia kemudian berdiri dan memanggil pengasuh agar menjaga bayinya. Dia pergi berganti baju dan ke tempat latihan.
Ella berlatih menembak dan memanah. Belum benar-benar Head Shot hanya saja bisa membunuh lawannya dengan sekali menarik pelatuk.
Lima anak panah yang menancap di tengah lingkaran menandakan bahwa Ella punya akurasi yang tinggi dari jarak 100 meter. Lumayan bila ada hal yang mendadak terjadi.
Ella tertantang main lempar pisau karena dia akui pisau-pisau itu belum dia kuasai malahan sering melukai tangannya. Hari itu dia berlatih dan alhasil jari tengahnya terluka. Bermodalkan plester, dia lanjut ke ruang mengatasi rintangan.
Berlatih dengan mode slow, dia menghindari panah dengan mudah. Melompat, berguling, kayang, bahkan harus sampai split agar tiga buah panah tidak bisa melukainya.
Mode medium, ada beberapa pisau yang menunggu. Mereka keluar dari lubang mana dan menancap di mana, Ella tidak tahu. Dia hanya harus menghabiskan lima menit di dalam ruangan itu dengan sebisa mungkin tidak terluka.
"Ugh" erangnya ketika mengindari pisau yang akan menyabet perutnya tapi justru ditikam oleh pisau di belakang belikatnya.
Ruangan ini sepertinya sudah di upgrade sehingga sudah bisa menyerang dua sisi bersamaan. Ella memberikan smirk andalannya ketika merasa tertantang.
Dia mencabut belati yang menancap dipunggungnya. Tidak terlalu dalam tapi cukup membuatnya kehilangan darah. Untung saja dia memakai baju hitam sehingga lelehan darahnya tidak terlalu kentara.
Dengan luka yang masih menganga, dia menghabiskan dua menit tersisa dengan berhati-hati terhadap pisau yang mungkin saja tersembunyi di bawah pisau lain.
Benar saja pisau itu terbagi dua dan Ella dengan mulus menghindarinya dengan bersalto ria. Sayangnya rambutnya harus sedikit terpangkas karena datang lagi satu pisau yang tidak diduganya.
Kemampuanku lumayan. Pujinya pada diri sendiri karena dia memang berlatih tanpa melibatkan Camael yang mempunyai fitur analisis gerakan. Dia menggunakan kemampuannya sendiri sehingga dia teramat senang.
Nyut. Ella mengernyit karena sekarang merasakan sakit. Dia mengaktifkan Camael untuk berurusan dengan kamera pengintai di ruangan itu dan menghapus kejadian terlukanya. Kemudian memerintahkan robotnya untuk menyuntikan pereda nyeri dan mulai menjahit lukanya.
Setelah selesai Ella mengambil satu kaus latihan yang dia sisipkan di saku celananya dan menggantinya di situ. Kaus yang sudah robek dia lipat dan isi kembali ke dalam saku. Untung karena itu sejenis kaus karet dan tipis sehingga bisa dilipat kecil.
Seperti tidak terjadi apapapun, dia kembali ke kamar tidurnya bersiap ke kampus walaupun tidak ada jadwal karena seseorang mulai beraksi di sana.
Kak, siapkan Hiro karena dia sudah mulai berulah. Teks pesan singkat itu terkirim dengan cepat.