Sellena

Sellena
Tragedi Malam Pertama 2


"Kak, sakit!!" Teriak Ella saat Dominic berusaha mencabut pecahan kaca yang tertancap di kakinya.


"Ini sudah pelan"


"Darahnya banyak sekali" Ella melirik seprai tempat kakinya berada dan sedikit takut karena dia belum sembuh sepenuhnya dari penyakit hemofilia.


"Apa kita berhenti dulu menunggu darahnya mengering?" Dominic sudah berkeringat dingin.


"Jangan. Lanjutkan saja, nanggung!!"


Iyah nanggung karena tinggal sedikit pecahannya keluar.


Akhirnya Dominic menyelesaikan apa yang dilakukannya barusan dengan Ella yang masih meringis kesakitan dan darah yang terus meleleh.


"Ugh! Ini sakit!" Raung Ella ketika mencoba berdiri dan merasa sangat sakit di bawah sana ketika selesai.


"Duduklah dulu, jangan sembarang bergerak. Aku akan mencari dokter"


Dominic seketika panik melihat istrinya berdarah terus-menerus mungkin karena dia terlalu kasar bermain tadi dan pecahan yang menusuk cukup dalam.


Tadi mereka berdua sedang bercanda dan memperebutkan boneka seperti dua anak kecil. Aneh kan? Tapi itu yang terjadi.


Tidak sadar Dominic menyenggol cawan anggur. Ella yang berada di depannya sangat kaget tapi sayang kakinya lebih dahulu menginjak pecahan kaca tersebut sebelum Dominic berteriak awas dan begitulah drama berdarah terjadi.


***


Grep! Dominic ditarik oleh seseorang masuk ke dalam salah satu kamar. Mencium aroma parfum yang dikenalnya, Dominic melupakan Ella yang terluka di kamar mereka.


"Aishhhh kemana sih dia pergi? Memanggil dokter sampai ke planet mars? Kan dokter bisa di telpon"


Akhirnya Ella menelepon Paman Raymond yang kebetulan menginap di sana karena takut Ella terluka dan dugaannya benar.


"Ada apa, El? Kau terluka?" Tanya Raymond khawatir.


"Iyah Paman. Dan suami gilaku itu entah kemana padahal tadi katanya pergi mencari dokter. Mungkin ditangkap tante-tante mesum dan diperk*s*" Jawab Ella acuh.


"Kamar kita tidak terlalu jauh hanya beda 2 nomor. Oke Paman ke sana sekarang"


"Cepatlah Paman"


Lima menit kemudian pintu diketok dan Ella mempersilahkan Raymond masuk. Melihat darah di seprai, Raymond mengernyit heran.


"Kau baik-baik saja? Dia bermain kasar?" Tanya Raymond


"Iyah Paman sangat kasar sehingga aku berdarah banyak"


"Hah? Apa aku harus menelepon Layla agar memeriksamu? Dia kan dokter Kandungan"


"Lah Paman, kenapa periksa kandungan?"


"Kamu berdarah karena Nick main kasar kan?"


"Iyah Paman tapi yang luka itu kakiku jadi tidak mungkin aku periksa kandungan"


"Kenapa kalian malam pertama bisa luka di kaki?. Hehehhe.. Maaf"


"Aishhh. Malam pertama apa? Kakiku kena pecahan kaca. Tolong periksa dan obati"


Benar saja, luka yang lumayan lebar itu mengucurkan darah. Sebagian besar darah telah mengering. Raymond membersihkan dan menyuntikkan antibiotik lalu membalut luka itu dengan perban.


"Coba dari awal bilang kakimu terluka. Paman kan tidak pikir kemana-mana"


"Makanya Paman menikahlah dan lakukan malam pertama"


"Nanti saja Paman menikah. Kau saja terluka terus begini. Tapi darah mengering yang artinya kau sudah sembuh"


"Benarkah? Hahahaha..... Aku sangat senang. Paman, kejadian hari ini jangan sebarkan ke orang lain karena aku akan memberikan suamiku itu kejutan"


"Kapan?"


"Sekarang" Senyuman manis itu sukses membuat Raymond mengerut.


"Kejutan apa?"


"Hehehehe.. Paman cukup bangunkan orang-orang dan ikut aku karena menangkap basah perselingkuhan itu harus ramai-ramai barulah seru"


Akhirnya Raymond tidak ingin bertanya lagi. Dia membangunkan Ayah, ibu, Jerry dan Jackson. Lalu ada Emma, Renay dan Leon bahkan tamu-tamu yang masih berpesta ria dikumpulkan di depan kamar nomor 613.


"Ada apa ini?" Tanya Jackson penasaran melihat Ella berdiri di depan kamar itu masih menggunakan gaun pengantin lengkap.


"Aku mencoba untuk menangkap kucing kawin"


"Lalu kenapa harus memanggil kami?" ucap Jerry yang menguap lebar. Dia sedikit mabuk.


"Biar kita menangkapnya ramai-ramai. Siapkan handphone untuk merekam"


Dalam keremangan, siluet tubuh manusia yang menyatu berpacu saling memuaskan tak sadar bahwa mereka ditatap puluhan mata yang tak percaya akan pemandangan tersebut.


Lampu menyala tiba-tiba dan Ella menarik rambut sang wanita yang berada di atas pria tersebut lalu menghempaskannya di lantai menimbulkan bunyi bedebum yang indah. Sebuah tendangan di wajah wanita itu sukses membuat rahangnya sedikit bengkok dan membutuhkan oplas segera.


Dominic alias Nick bedebah itu menatap tidak percaya seorang gadis dengan balutan gaun pengantin yang sedikit berwarna merah karena noda darah menatapnya tajam lalu lampu meja itu melayang mengenai kepalanya dan langsung pecah. Tetesan darahnya berjatuhan dan membasahi selimut. Nick segera bangun dan menghampiri Ella. Saking paniknyad dia bahkan lupa membungkus tubuhnya membuat wanita muda termasuk Amber menatap lapar ingin melahap pisang jumbo tersebut.


Nick menyadari arah tatapan mereka segera meraih celana boxernya dan memakainya cepat. Dia melirik tubuh wanita yang meringkuk di lantai dekat ranjang dengan keadaan polos.


"El" Panggilnya lemah.


"Kau meninggalkan aku di kamar dan kau bermalam bersama wanita lain di sini? Inikah janji yang kau ucapkan di depan altar tadi? Pernikahan kita bahkan berumur beberapa jam saja" Air mata Ella mengalir deras.


Mode Drama Queen, Turn On!! Emma membathin sambil menggeleng pelan.


Camera Roll, Action!! Vico ikutan membathin sambil terus merekam.


"Maafkan aku, El. Aku khilaf!" Nick berlutut di bawah kaki Ella.


"Lepaskan aku!!! Aku muak dan jijik terhadapmu!!!!" Nada tinggi melengking itu sukses membuat telinga berdenging.


Mami Chyntia yang melihat wanita itu masih polos segera mengambil selimut dan menutup tubuhnya. Memungut pakaian yang berserakan di lantai dan memberikannya pada wanita itu agar dia bisa menutup rapat aurat yang sudah diumbarnya.


"Tidak El, kau harus memaafkan aku!" Nick memaksa dengan menggenggam tangan Ella kuat.


"Lepaskan aku, ini sakit"


Sial cengkeramannya cukup sakit. Kakiku akan berdarah lagi kalau aku melayangkan sebuah tendangan.


Tiba-tiba saja sebuah bogeman mendarat di wajah Nick hadiah dari Leon disusul tendangan dari Jackson.


Ella sudah aman dipelukan Mami Chyntia yang mengusap bahu Ella berusaha menenangkannya. Sedangkan wanita yang sudah berpakaian dengan wajah membengkak itu seketika menghentikan tinju yang akan dilayangkan Leon pada Nick.


"Erine...... Sial... Argghhhhh" Tinju mendarat di lantai dan Leon menarik adiknya tersebut untuk melihat dengan jelas.


Ella menatap nanar wanita di hadapannya. Seketika tubuhnya lemas dan rohnya seakan ingin meninggalkan tubuhnya. Ella menangis makin keras ketika tahu bahwa wanita itu adalah Erine, sahabat yang sangat dirindukannya yang malahan sedang menempel bersama suaminya di malam pertama pernikahannya.


"Erine, kenapa harus kau dari segitu banyak wanita di luar sana?" Pertanyaan dengan nada lemah itu membuat Erine mendongak dengan wajah angkuhnya. Sedangkan Ella benar-benar menangis saat ini bukan lagi air mata tipuan seperti tadi.


"Kenapa aku? Karena aku mencintai Kak Nick sejak lama. Kami tinggal bersama di negara A. Kami pasangan di sana. Tapi mengapa dia harus pulang dan menikah denganmu? Apa bagusnya dirimu? Kau hanya anak pungut keluarga Simmons dan anak yang tidak punya ibu bahkan aku yakin keluarga Roberto tidak mau menerima keberadaanmu"


Perkataan Erine menusuk hati Ella membuat gadis itu terpuruk. Mami Chyntia berjongkok dan memeluk Ella.


Ini sangat sakit mendengar sahabat yang dulu menautkan jari kelingking kini berkhianat dan menghinaku. Ella menepuk dadanya ketika merasakan sesak yang luar biasa. Dia kesulitan bernapas.


Erine maju dan mendorong Mami Chyntia kasar. Untung ada Papi Romand yang sigap menangkap istrinya. Erine menjambak rambut Ella dengan kasar hingga mahkota yang menghiasi rambutnya terlepas.


"Bagaimana rasanya melihat suami tercintamu berselingkuh? Jika tidak senang maka ceraikan dan kembalikan dia padaku. Kau adalah anak pembawa sial! Masuk ke keluargaku dan membuat kami bangkrut. Aku menyesal membawamu masuk ke rumahku!!!" Tamparan keras mendarat dengan sukses di pipi Ella. Ella sudah tidak bisa berbuat apa-apa karena mode pertahanan diri membuatnya bungkam.


Emma yang melihat tamparan itu segera maju dan menendang Erine sama kerasnya. Bahkan bahu Erine kini membiru terkena tajamnya sepatu heels Emma. Dua buah tamparan Emma hadiahkan untuk Erine begitu Erine berusaha bangun. Ketika akan memukul lagi, tangannya ditahan oleh Leon dan Nick bersamaan.


"Wah, dua pahlawan muncul untuk membela jal*ng yang membuat sahabatku sakit" Emma menghempas kasar cengkeraman mereka berdua.


"Jal*ng yang kau maksud adalah adikku!!" Leon berucap dengan nada tinggi.


"Maka ajarkan dia dengan baik agar tidak menjadi pelakor. Setidaknya biarkan Ella bahagia sedikit saja di hari pernikahannya. Bawa adikmu pulang. Kak, kau tahukan sifat Ella terhadap seorang penghianat, pelakor dan jal*ng murahan? Jangan kira Ella akan diam terus menerus" Emma memberi peringatan pada Leon tapi Leon justru menamparnya.


Tamparan Leon membuat Jackson terkejut. Akhirnya Jackson memberi Leon sebuah bogeman dan Emma yang menendang perkututnya membuat para pria meringis ngilu termasuk Nick.


"Emma, demi persahabatan kita. Lepaskan Erine dan Kak Leon kali ini. Tolong beri aku muka" Renay mengatup kedua tangannya.


"Masih untung ada sahabatku yang rapuh hatinya, kalau tidak kubuat kalian berdua babak belur malam ini. Nay, bawa mereka pulang dan ingatkan mereka untuk tidak berbuat ulah sebab Ella tidak mudah ditangani bila marah" Peringatan Emma hanya diangguki paham oleh Renay.


Akhirnya Renay menelepon supir pribadinya agar membawa mereka pulang sedangkan Ella kini berada di gendongan Jeremy menuju parkiran dengan Raymond yang mengekor. Ketika Emma sibuk memukul Erine, Jerry diam-diam membawa Ella keluar.


"Kita ke rumah sakit. Ella kembali lagi menjadi patung seperti waktu itu" Raymond yang panic malah membocorkan rahasia Ella.


"Ella pernah begini?"


"Dulu saat Edmund masih ada dia pernah mengalami hal seperti ini karena hinaan keluarga Derbaltroz. Untung Edmund cepat membawa gadis ini ke ruang operasi. Terlambat sedikit, dia bisa meninggal"


Jerry tidak bertanya lagi karena fokus menyetir.


***


Awalnya ingin menangkap kucing kawin akhirnya tahu bahwa yang berselingkuh dengan suaminya adalah sahabat masa kecilnya yang sangat dia rindukan. Adik dari Leon Simmons, Erine Simmons.


Tragedi malam pertama selesai😭


Cerita selanjutnya lebih sedih lagi...


Salam ELughta😍😘