Sellena

Sellena
Leon


"Kak..."


Sepenggal kata itu menjadi melodi indah yang sampai ke telinga Leon. Yang membuat gadis itu menjatuhkan piringnya adalah kehadiran Leon yang benar-benar tak pernah disangkanya. Dia pulang tanpa memberitahunya. Bahkan selama 4 tahun inipun tak memberi kabar. Nick yang berdiri tak jauh dari mereka juga segera bergabung. Quiel bersandar di dada Edgar?


Ella mengangkat kepalanya yang bersandar di dada Edgar. Dia berbalik memungut pecahan piring yang dia jatuhkan. Tapi begitu jari lentiknya terkena serpihan piring yang tajam, langsung berdarah banyak. Bahkan tidak mau berhenti.


Semua orang menjadi panik. Edgar mengendong Ella ke mobilnya dan membawa gadis itu ke Rumah Sakit. Emma juga dengan sigap ikut serta. Sedangkan Renay tinggal untuk menemani Leon, tunangannya.


Setelah kepergian Ella, pelayan sibuk membereskan pecahan piring dan membersihkan darah yang berceceran di lantai. Para tamu kini telah melanjutkan acara yang tertunda karena drama anak muda. Mereka tidak memperhatikan darah di lantai karena bercampur dengan saus tomat yang tumpah dari piring Ella.


"Ada apa dengan Ella? Kenapa dia berdarah begitu banyak karena luka kecil tersebut?" Tanya Leon pada Renay.


"Maafkan aku kak, aku tidak tahu Ella kenapa" Renay mengunci rapat mulutnya. Ella sudah memperingati sahabatnya agar jangan memberitahukan penyakitnya ini pada siapapun. Penyakit ini bisa menjadi kelemahannya di masa depan.


*Se**lidiki apa yang terjadi pada Arquiela Roberto selama 4 tahun ini. Lebih teliti lagi dari penyelidikanmu selama ini*. Pesan singkat yang berhasil dikirim pada seorang detektif. Leon merasa ada sesuatu yang mereka sembunyikan sehingga dia menyuruh salah satu anak buahnya untuk menyelidiki keadaan Ella. Di pihak Nick pun melakukan hal yang sama.


Beberapa saat kemudian, Keluarga Derbaltroz muncul berbarengan dengan Keluarga Roberto. Mereka menyita perhatian karena penampilan hot Nyonya Roberto. Di usianya yang ke 38 itu dia masih tampak muda dan cantik. Tentu saja itu dandanan khusus untuk bertemu Tuan Muda kesayangannya.


Adriana malam ini malah menggandeng lengan Richard membuat beberapa orang heran termasuk Renay. Bukannya dia menolak tadi pagi? Entah racun apa yang Richard berikan pada Adriana sehingga menyerahkan diri begitu. Bahkan tanda merah di lehernya tidak tertutup bedak sepenuhnya. Pikir Renay.


Tuan dan Nyonya Rein segera menyalami tamunya. Berbeda dengan Ella dan Emma yang mencium pipi Nyonya Rein, Adriana lebih memilih menyalami tangan saja.


Dia sangat berbeda dengan Ella, walaupun mereka adalah saudari. Nyonya Rein memberi penilaian di awal pertemuan mereka. Tuan Rein juga hanya acuh terhadap kehadiran Adriana karena dinilainya kurang menghormati yang lebih tua.


Sedangkan Tuan Muda Kedua Keluarga Derbaltroz itu bersalaman kemudian mencari komplotannya. Dia ingin bergabung dengan Kakaknya tapi dia masih membenci Kakaknya. Awalnya hanya iri dan berebut perhatian sang ibu. Tapi sekarang kebencian itu bertambah karena Nick membuat Ella mengalami kecelakaan.


Tidak dipungkiri bahwa pesona Ella menjatuhkan rasa angkuh seorang Richard. Dia benaran jatuh cinta pada gadis itu. Sayangnya Ella lebih memilih bersama kakaknya. Richard mengambil minuman dan ikut orangtuanya untuk berkenalan dengan teman pebisnis orangtuanya karena dia tidak melihat Ella di berkeliaran di tempat itu. Kemana dia pergi? Apa belum datang? Tapi Adriana bilang dia sudah pergi duluan dengan si Dhawn sialan itu.


***


Saat Richard masih mencari keberadaan Ella, di Rumah Sakit Ella diberikan suntikan pembekuan darah. Dokter melototi Edgar dan Emma bergantian.


"Aku kan sudah bilang jangan sampai dia terluka. Luka kecil ini juga bisa menjadi pemicu anemia" Omel dokter tampan tersebut.


(*Anemia:Kekurangan sel darah dalam tubuh)


"Tapi paman, selama 4 tahun ini aku menjaganya dengan baik. Dia saja karena bertemu cinta monyetnya menjadi idiot" Edgar balas mempersalahkan Ella.


"Aku kan syok saja. Kukira tadi itu Kak Nick tapi ternyata Kak Leon. Pergi tak diantar, pulang tak dijemput" Ella membela diri.


"Diamlah kalian. Beberapa jam lagi akan muncul ruam kemerahan sama seperti saat itu jadi tinggallah di sini malam ini"


"Siap, bos" Ella tersenyum manis pada dokter tampan itu yang dia anggap seperti kakaknya sendiri karena merawatnya sejak 4 tahun lalu.


"Jaga dia, aku akan membelikan kalian makanan"


"Kak, kau yang terbaik" Emma memberikan dua jempolnya. Dokter Raymond tersenyum kecil menanggapi tingkah konyol dua remaja itu. Sedangkan Edgar malas tahu. Dia malah ikut keluar bersama dokter Raymond.


"Mau kemana kau?" tanya Ella


"Ada sedikit pembicaraan antara lelaki. Tidak usah khawatir, aku yang akan membelikan kalian makanan. Selera dokter ini sedikit aneh" Dan Raymond hanya melongo tidak percaya akan kebohongan yang Edgar lantunkan tadi.


"awas jika kau selingkuh" Emma berteriak dari dalam kamar sambil terus tertawa.


"Apaan sih?" tegur Ella karena dia tahu Emma sedang menggodanya.


"Aku mengingatkan kekasih gelapku itu" Dan jawaban Emma sontak membuat Ella susah menelan air liurnya. Mereka jadian? Sangkanya salah.


Di ruangan dokter Raymond, Edgar mulai memasang wajah seriusnya.


"Apa dokter bisa berjanji padaku agar penyakit Ella ini bisa disembunyikan? Dari siapapun? Cukup aku, Emma, Kedua kakak Ella dan Renay yang tahu."


"Tidak masalah. Kami sudah meretasnya sejak 4 tahun lalu. Yang aku mau adalah data hari ini jangan masukan ke database dahulu. Tulis ulang laporannya. Katakan hanya luka ringan saja"


"Kenapa kau memerintahku, bocah nakal?"


"Aku minta tolong padamu, Paman. Ini demi keselamatan Ella. Akan ada beberapa orang yang akan meretas database rumah sakit ini. Aku sudah penghapus jejak kami waktu itu. Tinggal peran Paman hari ini untuk memanipulasi laporannya"


Ternyata Raymond adalah Paman Edgar. Nama lengkapnya adalah Raymond Dhawn. Adik bungsu Ayah Edgar yang usianya hanya terpaut 6 tahun dari Edgar. Makanya Ella dan Emma lebih suka memanggilnya Kakak.


"Ini demi Ella. Jika bukan karena dia, aku mungkin tidak lulus magang waktu itu. Apa kau yakin dia putrinya Larry Roberto? Tidak ada kemiripan sama sekali"


"Ternyata Pamanpun berpikiran sama denganku. Aku masih menyelidiki siapa Ella sebenarnya dan kenapa dia punya uang sebanyak itu. Dia bilang itu tabungan dari Keluarga Simmons tapi nilainya lumayan fantastis dengan 8 nol berderet"


"Cari pelan-pelan saja. Jangan sampai identitas aslinya itu malah membuat hubungan kalian merenggang. Dan juga jaga Emma baik-baik. Dia sama seperti Ella butuh kasih sayang darimu"


Edgar hanya menganggukan kepalanya kemudian berpamitan pergi membeli makan malam mereka. Dia tahu 2 gadis itu akan mengomel bila dia terlambat..


Benar saja. Saat membuka pintu, Emma langsung menyambar plastik dan menengok isinya. Tiba-tiba perawat masuk dan membawa bubur untuk Ella.


"Makan malam anda, nona"


"Terimakasih, suster" Ella tersenyum manis membuat perawat itu merona.


"Sama-sama nona. Saya permisi" Perawat keluar ruangan dengan tergesa. Kenapa dia harus tersipu padahal mereka sama-sama perempuan. Mungkin aku harus memeriksakan diriku dahulu.


"Maaf, pasien dilarang makan ayam goreng. Setelah suntikan pasti kau akan merasa mual. Jadi makan bubur saja ya?" bujuk Emma.


"Ayam gorengku" tangis Ella sedikit dibuat melow.


" Makanlah. Apa kau ingin aku menyuapimu?" Tanya Edgar.


"Tentu saja. Mereka mengimpus tangan kananku. Aku kaku menggunakan tangan kiri"


Edgar hanya menghela napasnya saja. Dia merasa Ella semakin manja pada beberapa hari ini. Dia tidak berpikir banyak jadi segera mengambil sendok yang Ella pegang dan menyendok bubur. Dia mencicipinya sedikit rasanya lumayan. Dia jadi kepingin makan juga.


"Aaaa... buka mulutmu"


Hap. Ella dengan lahap makan bubur hingga setengah mangkok. Dia menggeleng begitu Edgar ingin menyuapinya lagi. Dia merasa mual mulai menyerangnya.


"Aku tidak mampu lagi"


"Yah sudah. Ini airnya. Bersandarlah" Edgar menaruh bantal di punggung Ella dan memintanya bersandar. Setemah itu dia memasukan sisa bubur ke dalam mulutnya. Entah kenapa sisa makanan Ella ini terasa sangat nikmat di mulutnya.


Apakah kami ciuman secara tidak langsung karena menggunakan sendok yang sama? Tiba-tiba saja telinga dan wajah Edgar memerah. Syukurnya Emma sibuk mengunyah ayam dan Ella sibuk memeriksa pesan di handphonenya.


Seperti biasa Edgar akan tidur di sofa dan Emma tidur bersama Ella karena tempat tidur VVIP dapat ditiduri 4 orang seukuran Ella.


"Hatchiu"


Ella bersin tiba-tiba tanda ada yang bicara buruk tentangnya. Siapa lagi kalau bukan Nyonya Roberto dan Nyonya Derbaltroz. Mereka kebetulan bertemu lagi hari ini. Mereka bercerita banyak hal bahkan tentang Ella. Entah kenapa Nyonya Derbaltroz lupa menyinggung kejadian di rumah sakit. Entah dia pikun atau amnesia.


***


Kira-kira kapan dua nenek sihir itu awalnya bertemu? Dan juga berhasilkah Leon dan Nick menggali informasi keadaan Ella 4 tahun ini?


Jangan lupa tinggalkan jejak..


Loph yu Ridersku 😁😁


Salam ELughta😍😘