
Hai Readersku tersayang ππ selamat datang kembali. Happy Reading π€π€
"Anak-anak, mari kita pulang"
Tuan Simmons memanggil ketiga anaknya dan seorang gadis lagi. Semua tamu sudah pulang termasuk Edgar dan Playboy ayam kampung.
"Apakah kakak akan pulang bersama kita? Bisakah kita membiarkan dia pulang bersama pengantinnya?" Tanya Erine.
"Aku pulang bersama kalian!!!"
Yang dibicarakan entah muncul dari mana dan menjawabnya cepat.
"Kakak antarkan kakak ipar pulang saja"
Tawar Ella kemudian.
"Gadis kecil ini. Segitu senangnya kah kau melihat aku tunangan?"
Leon mengacak-acak rambut Ella.
Sangat senang sampai kami makan di restoran hotel padahal ballroom ini penuh makanan. Ella
"Tentu saja. Sebentar lagi kakak akan pergi ke luar negeri. Setidaknya ad pengganti di rumah"
Ella memonyongkan bibirnya.
"Hahaha.. Dia sudah pulang bersama orangtuanya. Kami hanya bertunangan, bukannya menikah"
"Kakak... Cieeee... Yang sekarang statusnya calon suami" Erine mulai usil lagi.
" Daripada jomblo?" Balas Leon
"Calon suami dibawah umur hehehhehe..." Timpal Ella
Tawa ketiganya membuncah tanpa peduli yang akan terjadi selanjutnya. Perasaan Ella menjadi tak enak. Kenapa ia bisa tertawa sesenang itu? Dihatinya ada yang mengganjal.
"Maaf kami tertawa tapi lupa dirimu di sini"
Ella merangkul Emma dan berusaha untuk membawanya pulang bersama mereka dengan seijin ayahnya.Emma ikut saja karena memang dia tak punya tempat untuk dituju nantinya.
***
Saat sampai di rumah, semua orang langsung ke kamar masing-masing karena lelah. Mereka ingin cepat-cepat menjemput mimpi. Tapi ketiga gadis itu masih mengobrol.
"Malam ini kau tidur denganku" Kata Ella pada Emma
" Oh ayohlah. aku juga. Tidur saja di kamarku yah? Please"
Erine memiliki kontak batin dengan Ella. Perasaannya sama-sama tidak enak sejak mereka tertawa ria seperti tadi. Malam ini mengajak Ella tidur di kamarnya seolah-olah besok mereka akan berpisah saja π€ Entah.
"Iya"
Emma mengangguk. Tidur di mana saja asalkan ada Ella di sampingnya sudah cukup.
"Ta-da!!! Inilah kamar Princess" Erine merentangkan kedua tangannya lebar.
"Kau boleh mandi kemudian ganti baju di ruangan itu" Tunjuk Erine pada salah satu ruangan.
Narsisnya mulai nampak. Ella
"Baiklah, aku permisi"
Ahahaa Emma mengucapkan kata permisi dengan cepat. Aku yakin dia tak tahan dengan kenarsisan anak ini. Ella masih bertaut dengan batinnya.
"Aku pakai bajumu juga yah?"
Pinta Ella setelah puas membatin.
"Ambil saja sesukamu. Tapi pergi mandilah dahulu. Kau bau seperti keju busuk" jawab Erine
"Huh? Kau ini! Lagian Emma masih di dalam"
15 menit berlalu dan muncullah bidadari dari dalam kamar mandi π
"Sudah harum. Sana ganti baju. Sekarang giliranku"
Ucap Ella setelah mengendus harum sabun yang menguar dari kulit tangan Emma.
10 menit kemudian bidadari kedua muncul. Yang terakhir ini masuk dan hampir 30 menit di sana.
"Itulah kenapa aku menyuruhmu mandi duluan"
Yah kau benar. Ritual mandinya benar-benar sangat lama. aku takut dia keluar sudah bersayap saking cantiknyaπ . Emma
Setelah mengenakan piyama, mereka bertiga bersiap tidur. Ella menjadi penghalang Erine dan Emma.Setelah sedikit bercerita, kantuk mulai menyerang dan ketiganya perlahan terbuai mimpi. Erine berbalik dan memeluk Ella, sahabat dan saudari yang sangat disayanginya itu.
Rajutan mimpi belum terjalin tuntas saat Ella dan Emma berteriak di saat yang bersamaan dengan kalimat berbeda tapi makna yang sama.
"Jangan Pergi...."
"Jangan tinggalkan aku"
TBC
Tinggalkan jejak yah Readersku tersayang ππ