Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 67


Aku hampir saja terjungkal dari posisi, setelah mendengarkan setiap untaian kalimat yang sudah disampaikan oleh Rona dan Edi. Ya, sebenarnya aku tak sekuat ini. Hanya saja, aku sedang berusaha untuk berbesar hati, karena peristiwa apa pun yang sudah terjadi di dalam kehidupan ini, itu sudah tergaris, bahkan sebelum aku lahir ke dunia ini. Takdir memang tidak bisa diprediksi, namun kenyataan ini benar-benar sukses menekan ulu hati.


Aku masih bergeming, tak bisa berkata-kata lagi. Nata yang sedari tadi hanya berdiam diri, kini mulai angkat bicara untuk menimpali. "Huda, kami tak bermaksud menghujani hidupmu dengan bayangan teka-teki. Tapi, menilik dari semua peristiwa yang sudah terjadi, aku berharap kamu bisa memahami alasan--kenapa kami memilih jalan ini." Kemudian, sebuah tepukan seorang sahabat sejati didaratkannya pada pundakku yang sebelah kiri. Untuk membuktikan bahwa sejauh ini, dia bukanlah musuh yang harus aku curigai.


"Nata bener, kalo elu mengetahui fakta ini dari awal, gue yakin, lu gak bakalan bisa sampai ke tahap ini," sambung Edi. "Semua ini demi kebaikan lu, kok."


Manusia-manusia ini, sebegitu pedulinya mereka pada jejak karirku selama ini. Dalam beberapa peristiwa yang bahkan aku sudah mencurigai keduanya sebagai orang-orang yang patut untuk diwaspadai, mereka malah bergerak di belakang layar untuk tetap mendongkrakku secara sembunyi-sembunyi.


Ya, hari ini aku sadar bahwa semua yang terlintas di dalam pikiran, belum tentu sesuai dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Manusia memang cenderung suka merasa paling benar, padahal setiap titik dalam kehidupan tak pernah luput dari sorotan mata Tuhan.


***


Dengan sangat pengertian, akhirnya Nata dan Edi pamit untuk meninggalkan meja ini. Sepertinya, mereka sengaja ingin memberikanku sedikit privasi. Kini, tinggallah aku dan juga Sidqia yang masih setia berada di sisi. Aura kecanggungan pun tak segan-segan menyelimuti kami.


"Aku ... aku mau minta maaf atas semua yang sudah terjadi," tuturnya setelah sekian lama berdiam diri.


"Aku sangat menyayangimu, tapi--" Kalimatnya langsung terpotong karena aku sudah mengangkat jari--sebagai kode bahwa aku memintanya untuk berhenti.


"Sid-Sidqia ...!" Dengan berat kucetuskan nama kecilnya yang sudah disematkan oleh kedua orang tua kami. Kuraih kedua tepak tangannya dalam genggaman yang belum bisa aku mengerti.


"Ternyata sekuat apa pun aku bertahan, namun takdir tidak sepenuhnya mengizinkan. Mulai detik ini juga, aku ikhlas melepaskan ikatan yang selama ini melilit dirimu dari kebebasan." Seberkas air sebening mutiara mulai menggenangi pelupuk mata sang pujaan hati.


"Huda ...!" cetusnya, seakan ingin mencoba untuk memotong barisan dialogku saat ini.


Aku masih mengondisikan debaran hebat di dalam hati. Namun, mungkin inilah saat yang tepat untuk memperbaiki kondisi dan mengembalikan semuanya pada posisi yang sudah digariskan oleh Yang Maha Mengetahui.


"Shi ...!" Panggilan lama itu tiba-tiba saja kuucapkan untuk memulai dialogku kembali. "Mulai sekarang kamu bukanlah istriku lagi!"


Jatuh sudah talakku pada sang terkasih--mulai detik ini dia bukanlah istriku lagi. Bersamaan dengan hal itu, jatuh jugalah pertahananku selama ini. Bukan berarti aku tak menyayanginya lagi. Namun, keputusan ini adalah yang terbaik untuk kami. Walaupun sangat sulit sekali untuk diterima oleh hati, namun aku akan berusaha sekuat mungkin untuk menjalani.


Air mata Sidqia pun kini terjun sudah membasahi kedua pipi. Aku tahu, dia juga sangat mencintaiku, namun hal tersebut tidak mungkin dia akui. Sebenarnya, ia tidak bisa memungkiri, karena tatapan mata tidak pernah bisa membohongi isi hati.


Ya, mungkin kisah cintaku tak seindah taman surga yang diimpi-impikan oleh para pecinta sejati. Namun, percayalah aku dan Sidqia hanya sama-sama sedang menahan hati. Karena sebagai seorang anggota polisi, kami diajarkan untuk selalu profesional dalam setiap kondisi.