Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 26


Belum sempat kuputar balik tubuhnya, ia sudah menjauh dan memasuki mulut pintu kamar mandi. Tanpa menaruh pemikiran buruk atas dirinya, kuulas senyuman maklum karena atmosfer ini mungkin sukses membuat seluruh bulu kuduknya berdiri.


Untuk mengalihkan perhatian juniorku, kali ini kuraih ponsel yang tergeletak di atas meja--tepat di samping tempat tidur kami. Aplikasi bulat berwarna hijau sukses menarik perhatianku untuk segera dikunjungi. Terang saja, terdapat banyak sekali pesan yang masuk ke akun hijauku itu, karena aku sudah mengabaikannya sejak malam tadi. Terlalu fokus terhadap sang istri, justru berhasil membuatku lupa diri.


Ada beberapa pesan penting dari orang-orang penting juga, pastinya. Percakapan grup chat yang lumayan menumpuk, namun tidak begitu membuatku tertarik untuk membacanya. Yang sangat menarik perhatianku adalah ... pesan dari nomor yang tidak aku ketahui pemiliknya.


^^^Selamat menempuh hidup baru, Zain^^^


DEG


Dadaku serasa bergemuruh total. Bukan karena dipenuhi emosi negatif yang hampir membuatku terpental, namun lebih kepada--seolah terhimpit batu besar di bagian tubuh paling utama, dalam keadaan yang tiba-tiba tidak normal.


Karena apa?


Karena hanya ada satu orang yang memanggilku dengan panggilan itu. Lebih mengejutkan lagi adalah ... yang aku tahu, sosok itu sudah lama tiada dari kehidupanku.


"Sidqia ...!" pekikku tertahan, khawatir Rona akan mendengarnya. Namun, ini tidak mungkin, begitulah pertikaian yang terjadi di dalam kepala. Kalimat demi kalimat asumsi berjejer di benakku, bak tumpukan tugas kuliah yang berhamburan di atas meja.


Teka-teki apa ini?


Mungkinkah asumsiku benar adanya?


Atau mungkin ... ini merupakan jebakan batman yang sedang menungguku di depan gerbang kehancuran?


Ah, sudahlah, lupakan!


Lagi pula, sekarang tidak ada yang lebih penting di dalam hidupku selain kekasih halalku. Wanita satu-satunya, yang saat ini sedang meluruhkan segenap rasa gerogi, yang dengan ganas menggerogoti rasa keberaniannya hingga layu.


Sesungguhnya dia mau tapi ... malu!


Ya, kepalaku mulai dipenuhi dengan adegan mesum level tinggi. Saat ini, kuletakkan kembali ponsel yang tadinya kugenggam, di atas kursi. Bertepatan sekali dengan munculnya tubuh Rona dari balik pintu kamar mandi.


"Lama sekali?" Dialog pertamaku ini, sukses membuatnya kehabisan ungkapan untuk berekspresi. Dengan hanya mengukir senyuman tak enak hati, ia lantas berjalan perlahan mendekati lemari.


Aku mengerutkan dahi. Mau kemana dia sepagi ini?


"Kamu mau pergi?" tanyaku lagi, seolah bernada kecewa, karena dia sudah mengabaikan tubuh super seksiku, yang sudah menunggunya sedari tadi. Kondisi diri yang hanya mengenakan celana mini, tak menghalangi tekadku untuk berdiri. Apalagi? Kalau bukan untuk menghampiri sang istri?


...***...


Wajahnya terlihat segar sekali dengan kondisi rambut basah yang tampak tergerai seksi. Kalian pasti sudah tahu, seperti apa kondisi juniorku saat ini? Yang jelas tidak sedang dalam kondisi normal seperti sehari-hari.


Ditambah lagi ... setelah melihat dada terbuka Rona yang masih berlilitkan handuk putih dari pantulan cermin. Menambah kesan menantang yang membuat jiwa kelaki-lakianku bergetar sehebat mungkin.


Tanpa membutuhkan izin formal darinya, kusentuh pundak putih nan mulus itu dengan kecupan kecil namun bertubi-tubi. Respon tubuhnya langsung menggeliat manja bak ulat bulu yang sedang terpapar sinar mentari.


Aku yakin ... setelah ini, ia tidak akan bisa menghindariku lagi. Pergerakan bibirku kali ini belum berpindah posisi. Masih setia mengabsen setiap inci pundak seksinya yang sebelah kiri. Untuk sesaat, kulirik ekspresi nikmat yang terlukis di sekujur wajahnya dari pantulan cermin, yang sukses membuatku semakin ingin meneruskan sarapan pagi ini.


"Apa boleh aku teruskan?"


Bisikanku berhasil menarik kedua kelopak matanya dari posisi ternyaman. Yang sebelumnya terpejam indah, bermandikan kenikmatan. Mendengar kalimatku itu, ia langsung mengangguk singkat sebagai tanggapan.


Kurespon tanggapannya dengan senyuman, lalu merajai cengkuk lehernya tanpa melewatkan setiap patahan. Nada gairah yang mengalun dari sepasang bibir seksi Rona, sukses memancing libidoku naik hingga titik yang tak bisa diperhitungkan.


Namun, ketika bibirku baru saja ingin berpindah titik tumpu, suara ketukan pintu pun, sukses menjadi ujian kalbu.


Sabar!