
BRAAAK
Pintu ruangan itu terbanting keras, ketika aku keluar tergesa-gesa dengan ekspresi wajah berselimut murka. Tak sedikit pun dari garis mukaku menunjukkan ekspresi bahagia.
Mengapa sulit sekali rasanya melepaskan Rona? Lidahku bahkan terlalu kelu untuk mengatakan kalimat pemutusan tali pernikahan kepadanya.
Aaaaaarrrggggh!
Aku marah ...!
Aku kesal ...!
Aku benci ...!
Aku payah ...!
Merutuk diriku sendiri yang bahkan tidak bisa melawan suara hati, hanya karena dengan memandang kedua bola mata indahnya.
Rona ...!
Rona ...!
Rona ...!
Kenapa sulit sekali untuk membencimu? Kenapa sulit sekali rasanya menghilangkan bayang-bayangmu dari benakku? Kenapa sulit sekali rasanya membunuh cinta yang semakin hari semakin mengikatku? Kenapa hanya aku? Dosa apa yang sedang membelengguku? Apa salahku?
Jeritan hati seseorang yang sedang patah hati berkali-kali, bisa menyebabkan kobaran api yang menjadi-jadi. Sungguh, aku sendiri tidak bisa mengendalikan diri. Ingin sekali rasanya aku melampiaskan emosi ini pada sang pujaan hati. Namun, apa boleh buat, aku tak sekuat seperti apa yang sudah kalian ketahui.
Otot kawat tulang besi, namun hati selembut hello kitty!
Ah, payah!
Untuk saat ini aku tidak bisa untuk ditemui. Karena menyendiri adalah keputusan yang tepat untuk kebaikan diri. Lalu, kembali ke hotel sekedar untuk meredam emosi. Mungkin dengan mengguyur diri menggunakan elemen tersegar di muka bumi, aku bisa kembali menguasai diri.
"Habis ketemu istri, atau habis ketemu mbak kunti?" celetuknya yang semakin membuat kepalaku berapi-api.
Jangan sekarang, Nata!
Jangan buat emosiku bangkit lagi ...!
Aku hanya bisa mendengus kesal, memutar kedua bola mata seolah tak ambil pusing, kemudian bergerak menuju kamar mandi. Namun, dia terus meledekku dengan kata-kata yang selalu sukses mengetuk pintu hati.
"Seorang pejuang cinta sejati tidak akan mungkin hanya bisa mengurung diri di kamar mandi, tanpa menunjukkan jati dirinya sebagai seorang laki-laki."
Tunggu!
Ucapannya kali ini terdengar seperti sedang mengompori. Sontak kuhentikan langkah kaki, yang hampir saja memasuki kamar mandi. Kuputar rotasi leher ke arahnya yang saat ini masih menimang kemasan keripik kentang berbentuk tabung sembari menatap layar televisi.
"Buktikan kalau cintamu itu bukan hanya mimpi, Pak Polisi." Dia kembali berkoar seperti pimpinan kelompok dalam sebuah orasi. Aku terus menatapnya penuh arti, karena kalimatnya sangat sukses mencubit telak relung hati.
Ya, Nata benar sekali. Aku tidak bisa berdiam diri seperti ini. Aku harus menemui sang tirani. Benar, aku harus menemuinya untuk menyelesaikan masalah ini.
***
Setelah berhasil menangkap antek-anteknya dengan segala barang bukti, tentu saja Endar langsung dipanggil untuk diperiksa berkali-kali. Namun, tak semudah itu kami bisa mencebloskannya ke dalam jeruji besi. Karena semua bukti-bukti itu berhasil ia tepis, ditambah lagi tidak adanya keterangan sejurus terkait dirinya sebagai pemilik resmi dari si peti besi. Semua bukti-bukti yang kami kumpulkan malah berhasil menggeret satu nama lain yang tak ada sangkut-pautnya dengan Endar Riyahdi.
Dasar licik ...!
Menurut hasil interogasi, semua antek-antek Endar tidak mau membuka diri, bahkan mereka rela dihukum mati jika polisi terus memaksa mereka untuk mengakui.
Wah, setia sekali ...!
Bahkan Rona sekali pun tidak siap bersaksi atas kebusukan Endar, walaupun sudah mendapatkan siksaan berkali-kali. Dia terus memilih bungkam, mengunci bibirnya rapat-rapat, dan menyembunyikannya dalam susunan bukti keji kebejatan Endar dengan sangat rapi.