
Tepat pada pukul sembilan, semua pasukan sudah siap di halaman utama Polda. Mengenakan seragam khusus dan menggendong masing-masing senjatanya. Membentuk fisik dan mental baja, untuk kesuksesan misi secara bersama-sama. Api semangat sudah dikobarkan oleh sang Kapolda. Deru dan riuh sambutan sorak dari para anggotanya pun tak kalah hebohnya. Sehingga semangat dan pesona mereka sanggup menyihir banyak pasang mata yang saat itu sedang melintasi jalan raya.
Ini memang merupakan misi rahasia. Namun, tak satu orang pun tahu jika kami sedang mengincar anak yang penguasa ibu kota. Yang ada di kepala mereka, mungkin kami hanya akan melaksanakan simulasi peperangan yang akan dilakukan di lapangan yang sama. Jadi, pemandangan seperti ini sudah biasa mereka saksikan dengan mata terbuka.
Hamparan manusia yang dikumpulkan pada tempat yang sama, menyorakkan kalimat-kalimat semangat yang membara, dan mempunyai tugas untuk membela negara. Tanpa disadari, dengan sendirinya pemandangan ini sukses mengingatkanku kembali pada momen dimana pertama kalinya menginjakkan kaki di atas rumput hijau, Kota Khatulistiwa.
Ya, di sinilah aku berada!
Berdiri tegap dan gagah dalam posisi yang sama dengan yang lainnya. Memeluk senjata dan menumpuk rasa nasionalisme tinggi di dalam dada, demi menjalankan amanat negara.
Di sinilah kami bermula!
Dengan gebrakan bersama, kami pasti bisa!
***
Kelompok penembak jitu terdiri dari sepuluh anggota. Lima ditempatkan pada posisi belakang, dan lima lagi di posisi depan sebagai pemula. Kami ditugaskan untuk mencegat perjalanan para tersangka, yang akan ditugaskan untuk membawa pasokan akbar narkotika.
Aku dan Nata sudah memasuki mobil yang berbeda. Nata bertugas sebagai pengemudi mobil kedua, sementara aku menempati mobil yang pertama. Aku rasa, semua ini sudah terencana, karena kami memang tidak bisa berada dalam satu tempat, walaupun diposisikan dalam kelompok yang sama. Ya, alasannya adalah karena kami berasal dari satuan yang sama.
Sampai di sini, alasannya bisa diterima?
Oke, lanjut!
Setelah mencapai titik puncak, kendaraan kami sedang melintasi hamparan pasir dengan gundukan-gundukan tanah merah pada setiap sisinya. Aku pernah melewati daerah ini sebelumnya, karena ini memanglah arah menuju lintas negara.
Beberapa menit kemudian, kedua netraku melihat sebuah mobil besar berpacu dengan kecepatan seadanya. Diekori oleh dua mobil sedan, dan satu mobil lagi di depannya. Aku rasa mereka sengaja melakukan formasi ini untuk menjaga keamanan barang-barang haramnya.
Kami yang sudah menyadari keberadaan mereka, lantas meminta anggota di sampingku untuk menyalip, dan disusul oleh mobil Nata. Dengan keahlian menyetir yang mumpuni dari manusia di sampingku ini, akhirnya kami berhasil mendahului mereka dalam posisi sempurna. Namun, tak bisa kulihat mobil Nata di sana.
Apakah ia sudah ketinggalan kereta? Maksudku ... ketinggalan ketika melintasi mobil yang pertama?
Ah, sepertinya begitu!
Tanpa memperdulikan hal tersebut, kami terus mengunci pergerakan lawan. Kebetulan ada satu lagi mobil sekutu yang mengekori perjalanan.
Bagus!
Seakan tidak ingin kehilangan jejak musuh, mobil kami terus melaju sempurna. Hingga aku meminta rekanku untuk sama-sama memposisikan mobil kami melintang di pertengahan jalan--mengunci pergerakan lawan.
Kedua netraku terus meninting kaca mobil musuh yang berada di hadapan. Karena posisi mobil ini horizontal, maka dengan jelas bisa kulihat pergerakan mereka yang semakin mendekat secara perlahan.
Tanpa aba-aba dan pengajuan ancaman, mereka sontak menghentikan perjalanannya seketika di pertengahan jalan. Dengan jarak sekitar sepuluh meter dari posisi kami saat ini, sebenarnya aku tidak bisa memastikan seperti apa wajah manusia yang berada di balik kaca kendaraan. Kendaraan canggih mereka yang notabennya dilengkapi dengan sistem kaca tak tembus pandang--sukses membutakan penglihatan.
Namun, dengan gerakan yang tak disangka-sangka, mobil sport itu melaju ke arah kami, dengan kecepatan luar biasa. Aku yang tak ingin mati konyol, lantas menembakkan peluru bertubi-tubi untuk menghentikan pergerakannya. Namun, hal itu tidak berguna, karena mobil tersebut kebal senjata. Sehingga memaksaku untuk melanting keluar, begitu juga dengan yang lainnya. Namun naas, belum sempat aku keluar dari mobil, kendaraan mereka sudah menghantam badan mobil yang mengurung kami berdua. Hingga akhirnya, hentakan kuat pun tak bisa terelakkan lagi dan menyebabkan mobil kami melambung ke angkasa.