
Berbadan tinggi, rambut panjang terurai, mengenakan setelan kantoran seperti wanita-wanita karir pada umumnya. Dia ... masih setia berdiri seperti patung tanpa adanya niat untuk menambah langkah kakinya.
Aku pun melakukan hal yang sama. Menatap balik pandangannya yang tertuju lurus tanpa cela. Siapakah dia? Kenapa perawakannya tampak berbeda dengan manusia yang baru saja memenuhi kepala?
TAP ... TAP ... TAP ....
Suara sepatu pantofel itu masih bisa hinggap di daun telinga, walaupun suara gemuruh badai sangat heboh di luaran sana. Pandanganku masih mengekori pergerakannya, seolah tak ingin kecolongan lagi untuk yang kedua kalinya.
Wanita itu semakin mendekat dan mendekat, lalu akhirnya berjongkok di hapadanku. Wajahnya tak tampak sama sekali, karena ternyata dia mengenakan topeng yang begitu rapat menutupi wajahnya sampai dagu.
DEG DEG DEG
Kenapa irama jantungku menjadi bertabu-tabu? Apakah wanita ini ada hubungannya denganku? Kalau tidak, mana mungkin kehadirannya mampu menciptakan respon luar biasa pada tubuhku? Seolah-olah aku sedang berhadapan dengan orang yang sangat berharga dalam hidupku, begitulah suara hatiku.
Seseorang yang hanya dengan memandangnya saja, hati menjadi tenang. Seseorang yang hanya dengan mendengar namanya saja, suasana hati menjadi girang. Senyum-senyum sendiri tidak jelas bak terbang melayang--mengendarai awan terbang.
Begitulah definisi tubuhku saat ini. Tidak bisa dinafikan dan tidak bisa dipungkiri. Getaran yang menyerang lubuk hati terus menggelitik hingga aku lupa diri. Kedua mataku terus mengunci tatapan mautnya yang indah seperti seorang bidadari. Tatapan yang aku rasakan jika sedang memandang sang pujaan hati.
Oh, Tuhan!
Perasaan apa ini?
Tanpa mengucapkan satu patah kata pun pandangannya diputus, kemudian langsung mengeluarkan belati yang sudah ia rogoh dari dalam saku dan memotong simpulan tambang yang melilit tubuh ini. Dalam keterpanaan, aku hanya bisa mengucapkan kata 'TERIMA KASIH' tanpa sempat menanyakan jati diri.
Sebenarnya siapa dia?
Kusibak kertas yang terlipat berbentuk segi empat, lalu membaca rangkaian tulisan tangan yang terukir di atasnya.
^^^Keluar pintu, belok kanan!^^^
^^^Pergilah, sebelum terlambat!^^^
Ternyata kertas itu berisi petunjuk untuk melarikan diri. Namun, ketika tubuh ini hampir saja berdiri, ada seorang penjaga yang tiba-tiba melewati ruangan ini. Dia menatapku terkejut karena sudah terlepas dari tali, lalu masuk untuk menghalangi.
Aku ... bermodalkan sisa-sisa kekuatan diri, lantas menangkis serangannya yang hampir saja memukul telak ulu hati. Kukembalikan satu bogeman penuh kekuatan padanya tanpa ragu lagi. Saking kuatnya, tubuh pria itu langsung terdorong setengah melayang hingga mendarat kembali. Mendarat pada tembok ruangan ini, kemudian tersudut di samping lemari.
Aku yang tidak mau kehilangan kesempatan emas ini, lantas berlari mengikuti instruksi. Tapi, sepertinya jalanku untuk menyelamatkan diri tak semudah harapan hati. Ketika aku melewati lorong menuju pintu akhir, tiba-tiba tubuhku terpental karena sudah menabrak tubuh dua penjaga lagi.
DEBUUUK
Tubuh kami sama-sama ambruk sempurna. Setelah menyadari bahwa aku yang sudah menabrak mereka, keduanya refleks bangkit dan berniat untuk menyerangku bersama-sama. Namun, kedua tungkaiku tiba-tiba merasa gatal karena sudah lama tidak bermain sepak bola.
Sontak kutujukan tendangan ganda ke arah perut masing-masing dalam posisi yang masih terbaring sempurna. Kedua cecunguk itu sukses kubuat terpelanting dalam posisi yang sama. Di saat keduanya sama-sama merintih kesakitan, aku pun bangkit dari posisi wena dan meninggalkan mereka tanpa dosa.