
Aku tersadar ketika merasa adanya sedikit beban yang menimpa dada bidangku. Perlahan kubuka kelopak mata, dan memeriksa apa yang sedang tertempel ketat itu.
Rona!
Ternyata lengan mulusnya telah melingkar sempurna pada dadaku yang berbulu. Bukannya bulu perindu, tetapi bulu anugerah yang tidak banyak dimiliki oleh para kumbang penghisap madu.
Haha!
Seketika tubuhnya menggeliat setelah aku mengelus lembut sebelah pipinya yang mulus itu. Namun, sejurus aku tersadar dari zona nyamanku dan membatu.
Tunggu!
Kenapa kami berdua sudah berada dalam posisi berpelukan seperti ini? Dimana pakaianku kini? Apa benar kami sudah melakukan hubungan intim layaknya pasangan suami-istri?
Oh, tidak!
Aku bahkan tidak bisa mengingat momen berharga itu, yang jelas-jelas baru pertama kali terjadi dalam hidup ini. Bagaimana mungkin aku melakukannya dalam keadaan tidak sadarkan diri? Apakah aku ini seorang pendekar seperti tokoh di dalam film bertajuk Monyet Sakti?
Hemmm!
Aku rasa tidak!
Di saat aku masih bergulat dengan pikiran sendiri, tiba-tiba Rona mengerjapkan matanya dan mendongak ke arahku. Aku yang sudah menyadarinya, lantas melempar senyuman terbaikku.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanyanya seraya menjelajahi daguku dengan jari telunjuknya. Pastinya dagu indah yang tampak tidak kalah seksi dari miliknya.
Aku mengangguk tipis, lalu mengecup keningnya yang terbuka. "Apa kita benar-benar sudah melakukannya?" Aku balik bertanya seraya menatap kedua bola matanya.
Ia mengerutkan dahi sebelum merespon pertanyaanku. "Apa kamu tidak menyadarinya?"
Sepertinya aku sudah salah mengajukan pertanyaan. Kenapa juga aku mesti bertanya sefrontal itu pada pasangan? Bagaimana jika dia merasa bahwa aku ini tidak menjalani hubungan kami tanpa keseriusan? Bisa-bisa Rona angkat kaki sekarang juga dari kediaman.
Anggap saja aku ini pelupa!
"Bukan begitu, sepertinya aku terlalu menikmatinya sehingga lupa diri," kelakarku yang membuatnya kembali tersenyum penuh haru.
Kedua netranya mulai digenangi air sebening mutiara. Mutiara rasa yang benar-benar tertuju padaku--suaminya.
"Besok aku ke luar kota dulu. Kamu baik-baik, ya, di sini," pesanku padanya sembari menggerakkan jariku naik-turun--membelai pucuk kepalanya.
Tanpa mengatakan satu patah kata pun, ia kembali mengetatkan dekapannya padaku. Aku tahu, tidak mudah baginya untuk tinggal di rumah ini, tanpa adanya aku. Namun, mau bagaimana lagi, akan lebih beresiko jika ia ikut bersamaku.
...***...
"Ibu, Ayah, aku titip Rona, ya."
Kalimat itu kuucapkan ketika diri hendak berangkat menuju ibu kota provinsi. Tubuh Rona yang terasa menempel lekat di lenganku pun, kini harus kujauhi.
Demi kelancaran tugas di bumi pertiwi, aku harus kembali menyibukkan diri lagi dengan profesi. Acara serah-terima jabatan kali ini, pasti akan terasa lebih berharga karena sudah sukses memboyong Rona menjadi seorang istri. Walaupun sosoknya tidak turut hadir dalam prosesi bersejarah ini, namun semuanya tetaplah sangat berarti.
Agar lebih efisien, aku memutuskan untuk lewat jalur udara. Selain menghemat waktu, hal itu juga bisa menghemat tenaga. Bukannya ingin beradu muka dengan sang bandar narkoba, namun semua itu hanya untuk antisipasi saja.
Aku harus menyiapkan amunisi diri. Memperhitungkan segala sesuatunya agar tidak kecolongan saat tiba di sana, nanti. Terang saja, rivalku saat ini adalah putra dari orang nomor satu di provinsi ini. Jadi, sudah semestinya aku harus mawas diri.
...***...
Ketika pesawat yang kutumpangi mendarat sempurna, aku pun merasa lega. Perjalanan ini cukup menegangkan semua penumpang, karena sempat mengalami beberapa kendala. Sumpah, seperti sedang berada dalam sebuah scene menegangkan di dalam film-film ternama.
Bersyukurnya, kami semua selamat sentosa!
Aku rasa Tuhan tidak akan sesingkat itu menyabut nyawa seorang Huda. Pasti masih ada bagian yang lebih menarik lagi dalam perjalanan hidupku, yang harus aku tapaki sebelum akhirnya sampai pada titik akhirnya.