
Bayangan wanita itu hanya tampak sekilas, menoleh ke arahku, kemudian berlalu. Tentu saja, hal itu membuat rasa penasaranku semakin mencuat dan membelenggu. Namun, saat ini masih ada misi penting yang harus aku selesaikan terlebih dahulu.
Kakiku terus melangkah melewati lorong yang menghubungkanku pada sebuah tangga yang berbahan dasar perunggu. Sementara, senjata api terus kugenggam erat walaupun belum ada satu cecunguk pun yang maju. Anggap saja, aku masih dalam posisi siaga dan menunggu. Menunggu kedatangan lawan yang kapan saja bisa memergokiku.
Hingga kedua tungkai menginjaki tangga perunggu, belum ada tanda-tanda manusia robot yang akan menghalangi langkahku. Kunaiki satu persatu anak tangga itu, lalu mengangkat senjata agar posisinya sejajar dengan bahu. Pandanganku pun masih sigap mengarah ke atas kalau-kalau ada penjaga yang ingin menuruni tangga itu.
Baru saja hal tersebut terbersit di benakku, dua orang berbadan kurus tiba-tiba melangkahkan kakinya satu persatu, dengan maksud ingin menuruni anak tangga yang sama denganku. Namun ... pertemuan kami tak bisa dianggap halu. Dengan segera kuikhlaskan dua peluru air soft gun milikku, menembus telak organ jantung dari dua pemuda itu.
Bisa kulihat, keduanya jatuh tersungkur dan tubuh mereka menggelinding ke arahku. Dengan cepat, aku bergerak naik untuk lekas sampai pada puncak tujuanku.
"Da, kamu harus mencapai lantai paling atas, segera!" Nata tiba-tiba berkoar di telingaku. Kuhentikan langkah sejenak di pertigaan, kemudian merespon arahan dari anak itu.
"Memangnya kenapa?" tanyaku, seraya mengondisikan napas yang masih terdengar naik-turun tak menentu.
"Para penjaga sedang menyiksa para sandra. Komandan harus bergerak lebih cepat!" Ibram melengkapi informasi dari Nata, yang membuatku sejenak membatu.
"Da, kamu masih bisa dengar aku?" Nata kembali bersuara, karena aku tak juga menjawab perkataan Ibram saat itu. Aku tiba-tiba sibuk dengan sebuah perdebatan di dalam kepalaku. Memori ini seolah terus dibayangi oleh kelebatan wanita bertopeng itu.
Namun, setelah mendengar suara Nata, akhirnya lamunanku terbuyarkan bagai mendengarkan suara ketokan palu. "Ya, delapan enam." Kusentuh earphone itu dengan ujung jari telunjukku. "Pasukan, bergerak ke lantai lima!" perintahku pada tiga orang yang posisinya sudah berada di belakangku. Tadi, kami sempat berpencar, namun tiba-tiba mereka muncul setelah aku melumpuhkan dua pria berbadan kurus itu.
Dengan sigap kami berempat menaiki anak tangga satu persatu. Hingga akhirnya langkah kami terhentikan di ujung perjalanan, ketika ada lima orang penjaga yang berjalan beriringan di lorong itu. Namun, tembakan jitu dari tiga anggotaku, sukses membuat semuanya terkapar dalam satu waktu. "Kerja bagus!" pujiku pada mereka setelah itu.
***
Setelah menginjak lantai lima, kami melihat ada sebuah ruangan yang saat ini masih tertutup sempurna. Namun, anehnya tidak ada satu penjaga pun di sana.
"Tapi, tenang saja, pasukan tambahan sedang menyusul kalian ke sana." Akhirnya, aku bisa merasa lega. Karena yang aku khawatirkan saat ini adalah keselamatan para anggota, bukan hanya tentang diriku saja.
Sesaat kami masih berjaga-jaga, sambil menunggu beberapa anggota yang tadi sempat dikatakan oleh Nata. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya puluhan anggota sudah tiba di sana. "Dobrak pintunya!" titahku pada mereka.
Dalam hitungan ketiga daun pintu itu terpelanting sempurna. Menampakkan suasana menyedihkan sekaligus tidak berprikemanusiaan yang sedang terjadi di dalam sana.
Semua manusia b-i-a-d-a-b yang masih asik dengan perlakuan tak berakhlaknya, lantas terperangah dengan kehadiran segerombolan aparat negara, lalu secara serentak menghentikan aktifitasnya.
"Kau bilang mereka sedang disiksa, Ta?!" ucapku bernada kesal kepada Nata melalui earphone yang masih menempel setia.
"Lah, bukannya itu penyiksaan, Huda? Kekerasan seksual adalah kasus yang sedang meraja rela," tuturnya tanpa merasa berdosa karena sudah berhasil mengerjai atasannya. Aku hanya menggelengkan kepala, tanpa merespon ucapannya.
"Semuanya, angkat tangan!" tegasku pada pria-pria berkepala botak itu, dan meminta para wanita untuk mengenakan pakaian mereka.
Wanita-wanita yang sudah menjadi korban menipuan atas iming-iming profesi sebagai tenaga kerja ke luar negara.
Malangnya!
Seluruh anggotaku mulai bergerak masuk, setelah semua wanita yang berada di dalam ruangan tersebut sudah berpakaian sempurna. Sementara pria-pria l-a-k-n-a-t berkepala botak tersebut, sudah mengenakan celana mereka.
Dari mana datangnya manusia-manusia kembar kepala namun tak serupa seperti mereka?