
Ya, dengan menyebut nama Yang Maha Kuasa, sudah kuhalalkan ia yang aku cinta. Ikatan yang penuh dengan keberkahan dan ridha dari Sang Pencipta. Tanpa adanya halangan dan juga rintangan, mulai saat ini aku bisa menatap senyumannya. Bukan hanya itu, aku bahkan bisa memeluk erat tubuhnya di setiap pagi yang berbalut atmosfer ceria.
Alhamdulillah!
Kukecup kening istriku di saat berakhirnya momen jabat tangan antara aku dan Pak Penghulu. Ia tampak tersenyum bergelimang haru di kedua bola matanya, ketika aku menarik kembali bibirku. Sungguh, rasanya ingin sekali kuhentikan waktu. Paling tidak, selama lima menit, hanya untuk memandang rona indah yang terlukis di setiap garis wajah wanitaku.
Memang benar kata orang; hari yang paling membahagiakan adalah hari dimana kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Bagiku, tak ada keinginan terbesar di dalam hidup ini, selain menghabiskan sisa waktu bersamanya--wanita yang sudah aku halalkan. Walaupun pernikahan ini masih di bawah tangan, namun hal ini tak membuat ia cemberut bahkan protes yang berlebihan. Ia pasti tahu, bahwa ini adalah fase awal di dalam hubungan kami, yang tidak gampang untuk diputuskan. Apalagi, hal ini sangat riskan.
...***...
Setelah sungkeman dan perkenalan singkat antara Rona dan semua kerabatku, mereka memutuskan untuk pamit undur diri. Begitu juga dengan sahabat kecilku, Nata dan sang istri. Sedari tadi wajah anak itu selalu saja bermakna ejekan level tinggi. Namun, sudah pasti, itu hanya akan ia lakukan di luar konteks pekerjaan kami. Karena sesungguhnya, jika sedang bertugas, aku ini adalah atasannya sendiri.
Ya, di tempat tugasku yang baru, Nata adalah salah satu Kanit (Kepala Unit) dalam satuan Reserse Kriminal (Reskrim). Sementara aku adalah Kasatnya (Ketua Satuan), yang kapan saja bisa membuatnya terpental--jika tidak berprilaku normal.
Haha!
Namun, ini hanya gurauanku saja. Aslinya, tidak mungkin aku tega menendang sahabatku sendiri dari jabatannya. Mentang-mentang aku ini adalah seorang perwira, lalu bisa bertindak seenaknya saja. Oh, tidak begitu caranya. Lagi pula, itu bukanlah sifatku yang sebenarnya.
Kilas balik tentang ceritaku bersama Nata. Kami berdua memang satu angkatan sewaktu duduk di bangku SMA. Sempat menjalani proses pendaftaran memasuki Akademi Polisi bersama-sama. Namun, nasibnya tak sebaik diriku kala itu, ia gugur ketika tes terakhir dalam proses seleksinya.
Sebagai sahabat, tentu saja aku juga merasakan betapa terpukulnya ia--yang menjalani. Maka dari itu, aku menyarankan ia untuk tetap ikut dalam seleksi pemilihan Bintara Polri. Berkat kegigihan dan semangatnya yang tinggi, akhirnya ia lolos dalam seleksi, dan menjadi salah satu anggota bintara yang berprestasi.
Haha, Canda, Kawan!
Ah, aku jadi keasikan bercerita soal Andrea Winata. Lain kali, akan kuceritakan banyak hal tentang kisahku bersamanya. Tetapi, dalam beberapa bab konflik, tentunya. Untuk sekarang, aku kembali dulu pada Rona.
...***...
Tak terasa matahari semakin bergeser melewati poros akhirnya. Menciptakan langit gelap bertabur bintang-gemintang yang kaya akan cahaya. Cahaya indah nan gemerlapan di langit tinggi kota cinta.
Ya, di sinilah kami berada. Berdiri berdampingan, di balkon kamar lantai dua. Aku sengaja meminta pada Mbak Nima, agar memindahkan semua barang-barangku ke kamar, yang memang sudah disiapkan untuk kami berdua. Termasuk barang-barang Rona.
"Tiga hari lagi aku harus kembali ke sana," tuturku memulai percakapan, setelah beberapa detik berdiam diri sehabis tertawa bersama.
Rona sontak senyap tanpa adanya pergerakan. Aku tahu, ia mengkhawatirkan keselamatanku, jika aku pergi untuk melaksanakan serah terima jabatan. Namun, mau bagaimana lagi, prosedur ini tidak bisa dilewatkan.
Kuputar rotasi pandangku ke arahnya, yang kini mulai tertunduk tanpa kata. "Aku janji tidak akan lama, jika semuanya sudah selesai, aku langsung balik kanan," lanjutku untuk sekedar membuatnya bersuara, namun ia masih saja tak mau bicara.
Tentu saja, hal itu membuat hatiku bertanya-tanya. Karena tak ingin berasumsi sendiri, kuputuskan untuk mengangkat perlahan dagu seksinya. Dan, betapa terkejutnya aku, ketika kedua pipinya sudah terbasahi oleh rembesan air mata.