
KRIEEET
Aku mengerjap saat mendengar suara deritan pintu. Selagi menormalkan penglihatanku, kepala ini terasa seperti berputar-putar ketika terkena piasan sinar lampu. Dan ... baru kusadari bahwa aku tak lagi menempati ruangan yang sama, sebelum kehilangan total kesadaranku.
"Kau sudah sadar rupanya."
DEG
Aku kenal suara itu. Siapa lagi, kalau bukan musuh bebuyutanku. Ia berdiri tegap pada mulut pintu, ditemani oleh dua ajudan yang masing-masing tangannya menggendong sesuatu. Namun, aku tak bisa memastikan hal itu, karena pandanganku masih betah di dalam zona mendayu-dayu.
Oleng, Kapten!
Endar!
Dia menambah langkahnya untuk maju. Menggiring sejenak tubuhnya untuk merunduk agar kepalanya sejajar denganku. Karena aku sedang berada dalam jeratan tambang usang di atas kursi kayu, yang tidak sedikit pun memberi kebebasan atas pergerakanku.
"Kau pikir bisa semudah itu lari dariku?!" Tatapan bengis bercampur jijik tampak nyata terlukis di setiap garis wajahnya. Aku pun tak mau kalah, kuhunuskan tatapan yang sama untuk membalas perlakuannya. Tanpa menyentuh bagian apa pun dari tubuhku, ia langsung menegakkan posisi tubuhnya.
"Beri dia makan! Aku tak akan membiarkannya mati dengan mudah." titahnya kepada sang ajudan, yang dua-duanya berjenis kelamin wanita.
Dia kira aku ini hewan peliharaan!
Endar berbalik arah, lalu pergi meninggalkan ruangan itu begitu saja. Ruangan tiga kali tiga meter itu tampak seperti tak terawat dan minim cahaya.
Salah satu wanita yang lebih tampak seperti pembunuh bayaran ketimbang pengantar makanan itu, berjaga di sekitar pintu. Sementara, yang satunya lagi bergerak ke arahku dengan langkah tanpa ragu. Menumpukan sebelah lututnya ke lantai dan memasang posisi siap untuk menyuapiku.
Romantis sekali ...!
Wajahnya tak kalah mempesona dari yang satunya lagi. Namun, tidak membuatku hanyut dalam kondisi terjepit seperti sekarang ini.
"Jika kau tidak makan, kau tidak akan punya cukup tenaga untuk menyelamatkan dirimu sendiri," tuturnya lirih, lebih tepatnya ia berusaha sedang menekan suara.
Pandangan yang awalnya kubuang ke sembarang arah itu, lantas berbalik ke posisi semula. Pandangan kami bertemu, dan bisa kutangkap raut tak berdaya--terpampang nyata di wajahnya. Aku rasa, wanita ini berbeda prinsip dengan wanita yang satunya.
Mungkin karena melihat ekspresi lembut dari wajahku, ia kembali menyodorkan makanan ke mulut ini, seraya tersenyum padaku. Aku ... yang mengerti dengan kode darinya, lalu memintanya untuk melepaskan lilitan tambang yang membatasi pergerakanku.
Ia tampak menggeleng pelan, lalu kembali berbisik padaku, "Belum saatnya." Kemudian kembali menyodorkan sendok berisi makanan itu. Aku sontak menggelengkan kepala tanda tidak mau. Ia kembali tersenyum seolah paham dengan prinsipku, lalu berbalik arah menuju pintu.
Wanita yang bertugas menjaga pintu itu tampak berbincang-bincang dengannya sesaat, kemudian mereka berlalu, setelah menutup pintu.
Ternyata di lingkungan neraka seorang Endar terdapat seseorang yang berhati malaikat. Aku yakin, wanita itu adalah kiriman Tuhan untuk menyelamatkanku dari kondisi terikat. Terikat oleh jeruji Endar yang sukses membuatku terlambat.
Terlambat pulang, dan terlambat untuk menemui Rona. Oh, ya, bagaimana kabarnya? Kuharap semuanya baik-baik saja.
...***...
Suara bergemuruh terdengar jelas di telinga. Apakah sedang terjadi hujan badai di luar sana?
Pikiranku kembali berguling pada peristiwa dimana wanita yang kukira peri penolong itu--terakhir kali menemuiku. Sudah lama sekali rasanya, dia tidak mengunjungiku.
Ya, setelah kuhitung-hitung, sudah sepekan aku terikat di ruangan ini. Dalam sepekan pula cecunguk-cecunguk Endar datang silih berganti untuk menginterogasiku, setiap hari. Mereka datang bukan hanya sekedar untuk menginterogasi, tetapi juga mempersembahkan beberapa trik penyiksaan terhadap diri.
Ah, sudahlah!
Tak perlu kuceritakan secara detil peristiwa buruk yang aku alami, karena aku tak ingin kalian ikut bersedih hati.
Ketika pikiranku melayang ke sana kemari, tiba-tiba daun pintu di hadapanku tersibak dan menampakkan siluet seorang wanita.