Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 55


Dengan sedikit bantuan dari Ibram akhirnya pertemuanku dan Endar bisa direalisasikan. Berpegang teguh pada prinsip agar tidak terjadinya kekacauan, Ibram mengatur pertemuan itu dalam zona keramaian.


"Megamall?" tanyaku seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja Ibram katakan. Pria muda berwajah kearab-araban itu hanya tersenyum ramah seraya mengangguk pelan sebagai tanggapan.


"Apa tidak terlalu beresiko?" tanyaku sedikit kebingungan. Bukan tidak menutup kemungkinan dalam pertemuan kami nanti, akan terjadi keributan.


"Justru untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, maka dari itu pertemuan ini lebih baik diadakan di tempat umum, Komandan."


Cerdas sekali bocah ini, dalam usianya yang masih terbilang sangat belia, dia sudah banyak menguasai taktik dan politik dengan cekatan. Apalagi, Ibram sangat bisa diandalkan.


"Baiklah, terima kasih atas bantuanmu," tuturku dengan ekspresi wajah penuh ketulusan. Ibram sontak pamit dari hadapan lalu kembali menuju penginapan.


***


Bersandar punggung di atas sebuah kursi, kulayangkan tatapan tegas ke wajah sangar dan bengis yang terpampang di hadapan.


Endar!


Tanpa membawa jutaan antek-antek yang selalu mengekorinya dimana pun berada, ia berani menemuiku sendirian. Mengenakan setelan jas serba hitam dengan dalaman kaos panjang berwarna putih berkerah agak ketinggian. Sementara aku, yang memang tidak suka terlalu formal, hanya mengenakan celana jeans pendek berwarna biru tua, dipadupadankan dengan kemeja pendek berwarna senada bermotif daun pisang, yang ujung lengannya saja masih bisa kulinting sebagian.


"Punya nyali besar juga kau, Komandan." Ia mulai menampakkan seringai yang sangat tak nyaman dalam pandangan. Namun, hal itu tak cukup untuk membuatku merasa ketakutan.


"Kau pikir selama ini aku bersembunyi, seperti itu? Aku hanya melakukan tugasku, Endar. Tugas kenegaraan," tekanku seolah sedang menyindirnya yang mempunyai profesi merugikan. Merugikan bangsa yang sudah dibuatnya terbuai dalam lingkaran setan.


"Tutup mulutmu, Huda!" Ia menarik punggungnya dari sandaran. Lalu, menatapku dengan air muka penuh ketersinggungan.


"Bukan urusanmu!"


"Jelas menjadi urusanku, karena itu memang tugasku, kau lupa itu?"


Wajahnya tampak merah padam, seolah sedang memendam rasa yang begitu panas--membakar telak segenap perasaan. Perasaan seperti tersaingi dan terasingkan atas sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti kemana arah tujuan.


"Jika kau memang punya masalah pribadi denganku, selesaikan dengan jantan, Bro. Jangan hanya bersembunyi di belakang layar, dan menggunakan orang lain sebagai jaminan!"


Sindiranku sepertinya kembali menyulut bara kemurkaan. Kemurkaan putra sulung sang penguasa yang saat ini tak bisa tersalurkan. Benar kata Ibram, bertemu Endar di tempat seperti ini memang jauh lebih aman. Apalagi, kedatangannya yang hanya seorang diri, membuktikan bahwa dia juga memiliki kejantanan yang sepadan.


"Kau ...!" Jari telunjuknya terjurus telak ke depan. Menyiratkan bahwa diriku ini begitu meresahkan.


Sejurus kubalikkan tatapan sepadan yang hampir saja membuatnya terjungkal ke tepian. "Sebenarnya apa masalahmu denganku, Endar? Kenapa kau begitu tertarik untuk mengusik hidupku?!" Tatapan elang itu masih terus kulontarkan.


Endar tampak bergeming sesaat, kemudian menanggapi pertanyaan yang baru saja aku ajukan. "Jangan bangga dengan pangkat dan kedudukanmu saat ini, Huda." Ia mulai memecah keheningan. "Karena semua itu kau dapatkan dengan merebut posisiku!"


DEG


Apa maksudnya?


"Jangan asal bicara kau, ba-ji-ngan!"


Tanpa sadar refleksku timbul ke permukaan, dan menarik kerah jas Endar yang saat ini terangkat sebagian.