Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 27


Aku ... yang sebenarnya tidak ingin menundanya lagi, dengan terpaksa mengurungkan niat hati. Ditambah lagi, setelah Rona memintaku untuk membuka pintu kamar ini. Sementara ia, melanjutkan niat pertamanya untuk membuka lemari.


"Ada apa, Mbak?" tanyaku dari celah pintu yang hanya terbuka sebagian.


Mbak Nima tampak memasang raut wajah tidak enak hati. Ia terpaksa mengganggu ritual olahraga pagi kami yang harus ditunda lagi.


"Maaf ya, Mas. Ada tamu di bawah. Katanya nyariin mas Huda." Ia menjelaskan semua itu seolah sedang melakukan sebuah kesalahan.


Tentu saja, aku tidak akan menyalahkannya, walaupun sebenarnya aku sangat terganggu akibat kedatangannya. "Oh, suruh tunggu sebentar ya, Mbak," ujarku, kemudian diangguki olehnya dan berlalu. Aku pun kembali menutup pintu, lalu menghampiri istriku.


"Ada tamu?" tanyanya sembari terkekeh kecil ketika melihat raut wajahku yang tampak kecut bak perasan air jeruk purut.


Bukannya menjawab pertanyaannya, aku malah kembali menarik tubuhnya agar menempel lekat padaku. "Aaaaw ...!" pekikan bernada manja itu, kembali membangunkan junior perkasaku, yang sempat turun level ketika membuka pintu.


"Jangan bahagia dulu! Urusan kita belum selesai, Nyonya Huda," bisikku di telinganya, yang kali ini sudah mengenakan gaun selutut tak berlengan, berbahan menerawang, dan berwarna moca, persis seperti kulitnya.


Sumpah!


Membuatku menelan saliva berkali-kali dan kali ini ia tampak seksi sekali.


"Aku tidak akan kemana-mana sampai kamu kembali lagi ke kamar ini."


Kalimat itu bermakna tantangan, yang sukses menarik kedua sudut bibirku--membentuk lengkungan tipis, namun tetap menawan, pasti. Kukecup lembut pipi kirinya, lalu berjalan menuju bilik pemandian dengan tatapan mengintimidasi.


...***...


"Dimana orangnya, Mbak?" tanyaku pada mbak Nima, ketika aku sudah berada di ruang tamu. Celana jeans pendek dengan paduan kemeja pantai sepertinya lebih cocok kukenakan di pagi yang cerah bermadu. Mbak Nima yang saat itu sedang meletakkan minuman di atas meja, lantas membalik badan menghadapku.


"Sepertinya beliau masih menunggu di luar, Mas. Tadi, sudah saya suruh masuk, tapi dia tidak mau," tuturnya dengan wajah putus asa.


Tanpa menanggapi ucapan mbak Nima, aku langsung keluar dan menemukan seorang wanita, yang sedang duduk di kursi taman. Posisi tubuhnya membelakangiku, namun perawakannya seperti tidak asing dalam pandangan.


"Ehem ...!"


Dengan sekali dehaman, ia langsung berdiri dan membalik badan. Pakaian semi-formal dengan sepatu pantopel turut melengkapi penampilan. Jelas sekali, kalau wanita ini adalah anggota kepolisian.


Ia membungkukkan sedikit badannya, lalu kembali menatapku dengan senyuman.


"Kamu?"


"Siap, Ndan. Saya Sidqia ... salah satu anggota unit satu dari satuan reserse kriminal di polres, tempat Anda bertugas."


Tatapanku masih terkunci pada satu titik tuju. Wanita ini ... berambut pendek sebahu. Berwajah bulat dan bola matanya yang tampak sedikit berwarna biru. Bukannya terpesona dengan bentuknya, namun yang membuatku tertegun adalah ... namanya itu.


Baru saja aku berasumsi dengan kehadiran kembali seorang Sidqia, dan sekarang manusianya berdiri tegap di hadapanku dengan seragam non formalnya seorang anggota kepolisian.


Aaaaarrrgh!


Aku mulai kebingungan!


"Komandan?" Ia kembali menyadarkanku dari lamunan. Bodoh sekali aku ini, bisa-bisanya bertingkah absurb di depan bawahan.


"Ya, apa yang membawamu datang kemari, Sidqia?" tanyaku yang sedang berusaha menormalkan atmosfer kecanggungan. Tingkahku sebelumnya itu tidak patut untuk dijadikan contoh bagi seorang atasan.


Jangan pernah!


Sidqia dengan cakap menjelaskan maksud kedatangannya ke rumah ini. Aku dengan fokus mendengarkan apa yang sedang ia sampaikan, sampai-sampai tidak sadar jika dia sudah menyelesaikan dialognya hingga line terkini.


"Ini berkas yang harus komandan bawa saat sertijab nanti." Ia menyerahkan sebuah map berwarna cokelat muda.


Kuterima berkas tersebut, lalu memeriksanya sekilas pandangan. "Terima kasih, Sidqia."


Ia tersenyum dan mengangguk dengan ramahnya. "Kalau begitu, saya ijin kembali ke kantor, Ndan."


Gadis itu langsung pamit undur diri. Sementara pandanganku ... masih mengekorinya hingga bayang-bayangnya tak terlihat lagi.


Siapa gadis itu?


Dan siapa orang yang sudah mengirimkan pesan kaleng itu padaku?