Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 30


Ternyata Edi sudah menungguku di depan pintu kedatangan. Letinganku yang satu ini memang terbaik sendiri, tanpa tandingan. Sejak masa pendidikan hingga sekarang, kepeduliannya tidak pernah berkurang apalagi turun tingkatan. Walaupun sudah menempati tugas yang berjauhan, dia masih tetap menjalin komunikasi denganku setiap ada kesempatan.


"Sebenarnya lu gak perlu repot-repot jemput gua ke sini, soalnya gua masih ingat betul jalan menuju polda," kelakarku yang berhasil membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Untung saja, tubuhnya tidak sampai terjungkal.


"Jangan sampe gue bilang kalo gue kangen ama lu!" balasnya dengan ekspresi menggelikan yang sukses membuat seluruh rambut di badanku meremang ketakutan.


"Gua masih normal tau, dasar lu!" selorohku seraya mengepalkan tinju di salah satu pundaknya.


Ia tergelak hebat mendengar tanggapanku yang mungkin terlalu serius menurutnya. "Gue gak bakalan bawa lu ke hotel yang udah disiapin buat kita," katanya, sembari menjalankan kendaraan roda empat, yang aku pun tak tahu dapatnya dari mana.


"Maksud lu?"


"Tempat itu gak akan aman buat lu, Huda."


Tatapannya tampak begitu serius--lurus ke jalan namun penuh kekhawatiran. Aku tahu apa yang sedang dia maksudkan. Endar bukanlah orang sembarangan. Sampai mati pun ia tidak akan melupakan begitu saja, peristiwa penculikan wanitanya, yang terjadi satu pekan belakangan.


Ya, mungkin Endar menganggap bahwa aku ini sudah menculik Rona darinya. Yang entah, aku pun tak sanggup menyebutkan status jenis apa yang tersemat di antara keduanya. Sungguh aku tak tega mengatakannya.


Namun, sesungguhnya aku hanya melakukan hal yang menurut suara hatiku adalah sebuah kebenaran. Karena menghalalkan seorang wanita adalah sebuah bentuk ibadah keagamaan. Apalagi, menghalalkan wanita yang benar-benar aku inginkan. Terlepas dulu statusnya adalah seorang wanita simpanan, namun tak membuat hatiku turun keyakinan.


Karena pada dasarnya, ada sifat malaikat yang tersemat di dalam diri Rona. Terlepas apa pun alasan--hingga dia bisa terjebak dalam lingkaran hitam--yang aku sendiri pun tidak ingin mengetahuinya. Lagi pula, itu hanyalah masa lalunya. Masa kini dan masa depannya adalah membangun biduk rumah tangga denganku--tentunya rumah tangga yang bahagia.


"Kita udah nyampe," tutur Edi, yang berhasil membuyarkan aku dari zona lamunan.


Ah, ya, aku tidak tahu tempat ini. Perawakannya begitu asing dan aku tak pernah menginjakkan kaki di lokasi ini. Selama beberapa detik, pandanganku masih mengekori sekeliling, yang mungkin menarik perhatian Edi.


"Ini rumah adik gue. Di sini lebih aman buat lu, karena gak akan ada yang tahu, kalo lu nempatin rumah ini," jelasnya, yang mungkin sangat paham dengan gerak-gerik diri ini. Ia lantas melepas sabuk pengamannya, lalu keluar dari si mobil mini.


"Sembarangan lu! Itu mobil adik gue." Ia langsung duduk nyaman di atas sofa ruang tamu.


Ia mengatakan hal itu seraya menyikut lenganku, ketika kami sudah berada di dalam rumah minimalis tipe empat lima itu. Rumah ini tidak begitu besar, tapi penampakannya cukup rapi dan mencuri perhatianku. Apalagi, setelah melihat sebuah figura yang berisi foto seorang gadis--yang terletak di atas meja, tepat di samping pintu.


"Itu foto adik gue," kata Edi seolah menjawab pertanyaan yang ada di dalam benakku.


Sidqia ..., batinku.


"Elu gak pernah cerita kalo lu punya adik cewek." Leherku spontan berotasi ke arahnya, yang juga sedang menatapku.


"Lah, ini gue cerita, haha." Ia terlihat begitu girang setelah melihat ekspresi wajahku yang tampak tidak terima dengan ketidakterbukaannya itu.


Edi lantas bangkit dari peraduan, kemudian menghampiriku yang masih berdiri seperti patung bertanduk satu. "Elu pasti udah ketemu ama dia, 'kan?" Edi menaik-turunkan alisnya seraya menatapku.


"Dan gua hampir ketipu dengan perawakannya yang mirip sekali dengan ...." Belum selesai aku melanjutkan dialogku. Edi sudah menyambarnya bak gemuruh di dalam badai salju.


"Gadis masa lalu lu itu."


Ya, dia tahu tentang kisahku. Tahu akan kematian Sidqia yang hampir saja merenggut seluruh harapan di dalam hidupku.


Baiklah!


Mungkin sudah waktunya kalian tahu tentang masa laluku!