
"Hei ...!"
Spontan kurangkum wajah sendunya ke dalam genggamanku. Namun, tak sedikit pun membuat pandangannya berpindah untuk menatapku. Rona masih saja tertunduk lesu.
Dan ... sepersekian detik kemudian, tubuhnya perlahan merosot dan jatuh terkulai. Dengan sigap, kutopang tubuhnya secepat kilat agar kepalanya tak terbentur ke lantai.
Dan ... berhasil ...!
Apa yang sudah terjadi padanya? Aku bahkan belum memulai jurus apa pun untuk melewati momen malam pertama. Namun, sang pujaan hati sudah pingsan saja, seperti orang yang sedang ketakutan level dewa.
Oh, tidak!
Gegas, kuangkat tubuh tak berdayanya untuk memasuki ruangan. Meletakkannya perlahan di pembaringan dengan wajah panik sekaligus berselimutkan ketakutan.
Bagaimana jika ia mati mendadak seperti rumor-rumor baru yang sering terjadi di luaran sana.
Ah, aku ini ada-ada saja!
Di saat kondisi mencekik seperti ini, pikiran pun tak lagi jernih seperti sedia kala. Hal-hal di luar nalar pun bisa menghampiri begitu saja mengitari kepala.
Kutarik napas perlahan, mencoba menenangkan diri. Kusentuh pergelangan tangannya yang sebelah kiri, untuk mengecek denyut nadi. Dan, ternyata benar, istriku tidak mati. Membuatku geleng-geleng kepala dan menepuk kening sendiri.
Sontak kurogoh obat apa pun yang ada di dalam laci, dan kutemukan sebotol minyak angin berlogo burung elang pada botolnya. Dengan cekatan kuoleskan cairan hangat itu pada kedua telapak kakinya, lalu ke kubalurkan pada area perut dan sekitar leher serta hidungnya.
"Rona ... Rona ...!" Kucoba serukan namanya seiringan dengan tepukan lembut pada pipinya. Untuk sesaat, ia masih tak juga membuka mata. Hingga akhirnya, pemikiran tengil-ku muncul tiba-tiba.
Mana tahu, dia hanya sedang menjahiliku!
Perlahan, kudekati wajahnya, sehingga hanya tersisa jarak sekitar dua senti saja. Aku yakin dengan begini, ia akan merasakan embusan hangat dari nafasku, jika ia memang hanya berpura-pura. Namun, tak ada pergerakan apa pun darinya, kecuali gerakan naik-turun di bagian dadanya.
"Bu ... tolong, Bu! Tolong!" erangku setengah berteriak dari atas tangga. Ibu yang mendengar suara panikku, lantas berbalik arah dan menghampiri putranya.
Keningnya tampak berkerut seakan sedang bertanya. "Ada apa, Huda? Kenapa kamu terlihat ketakutan seperti itu?"
Tanpa menjawab pertanyaan ibu, aku langsung menarik tangannya, menaiki satu persatu anak tangga dengan tergesa-gesa. "Pelan-pelan, Nak. Nanti kita jatuh loh." Ibu masih sempat mengkhotbahiku saat kondisi terjepit yang ia belum ketahui faktanya.
Setelah kami tiba di dalam kamar, aku langsung menunjuk tempat tidur, yang tadinya ditempati oleh tubuh tak sadarnya Rona. Namun, berbeda dengan kenyataannya, istriku itu tak kelihatan sama sekali batang hidungnya.
"Apa yang ingin kamu tunjukkan ke ibu, Nak?" tanya ibu yang kala itu juga merasa tak kalah bingungnya dariku.
Aku yang masih linglung sendiri, seolah sedang dikerjai oleh situasi, malah tak bisa menjawab sama sekali.
"Hei ...!"
Suara itu!
Aku mengenalnya!
"Eh, ibu juga ada di sini?"
Sontak pandanganku dan ibu langsung tertuju pada satu titik rotasi.
"Rona ...!"
Kudekati ia kemudian, lalu mengitari tubuhnya. Pandangannya tentu saja mengekori pergerakanku--suaminya.
Aku terheran-heran sendiri. Karena Rona tampak baru saja selesai mandi. Ibu yang mungkin sudah paham dengan ketidakjelasanku sebelumnya, akhirnya pamit untuk meninggalkan kamar kami. Tentunya, setelah mencium kening Rona--sang putri.