Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 42


GRABAAK


Tiba-tiba sebuah kardus yang berisi dokumen-dokumen yang digendong oleh Sidqia, jatuh berserakan. Ia tampak kelimpungan seperti orang salah tingkah, lalu merapikan kekacauan itu dengan cekatan. Aku yang kebetulan sedang berjalan di hadapannya, lantas berjongkok dan memberikan bantuan.


"Kalau sedang melakukan sesuatu itu, harus fokus!" tukasku seperti sedang mengkhotbahinya dengan petuah andalan. Pasalnya, aku sempat memperhatikan wajahnya yang tampak melamun, sebelum terjadi kekacauan. Ia hanya merespon dengan tersenyum canggung, lalu mengucapkan terima kasih sebagai tanggapan.


Kutatap terus punggungnya yang mulai menjauh dariku, kemudian melanjutkan perjalanan.


Ini hari pertama aku memulai penugasan. Mengenai keterlambatanku tempo hari, sudah menjadi tanggung jawab atasan. Jadi, sudah barang tentu tidak ada sanksi penugasan yang harus aku kerjakan.


"Selamat pagi, Komandan!" sapa seorang pria muda berbadan tinggi berambut cepak, mirip seperti perawakan seorang anggota polisi ketika baru menyelesaikan pendidikan.


Aku tersenyum tipis, lalu memasuki ruangan. Pandanganku sempat menghitari setiap sudut ruangan baru ini, lalu memasang posisi siap untuk duduk di atas peraduan. Namun, belum sempat aku menurunkan posisi tubuh, suara ketukan pintu pun terdengar jelas di indera pendengaran.


"Masuk!"


Wajah Sidqia tampak menyembul dari celah pintu yang hanya terbuka sebagian. "Ijin, Komandan. Ada yang ingin bertemu dengan Anda." Ia tersenyum setelah mengatakan hal tersebut, lalu menyibak daun pintu ruangan setelah aku meresponnya dengan anggukan.


Setelah itu, bisa kulihat tampang cengengesan Nata, terpampang jelas di belakang Sidqia. Mereka berdua berjalan mendekat ke mejaku secara bersama-sama. Dengan memakai setelan non-formal, keduanya tampak bukanlah seperti seorang abdi negara.


Ya, beginilah anggota reskrim (Reserse Kriminal), berpenampilan seperti preman, namun sebenarnya itu semua hanya dilakukan dengan tujuan untuk mengecoh para pelanggar aturan. Sehingga aksi penangkapan dan penggerebekan bisa dilakukan dengan mudah dan tersamarkan.


"Makasih, Neng!" titahnya kepada Sidqia, lalu meminta gadis itu untuk meninggalkan ruangan.


Aku masih menatapnya penuh tanya, kenapa ekspresi Nata seperti sudah mengetahui--apa yang sudah menimpaku tempo hari? Padahal, tidak ada yang mengetahui semua itu selain aku, Ibram, dan atasan kami.


"Ada kasus apa?" tanyaku memulai dialog dengan tidak membuatnya begundah hati. Karena menurutku, sepertinya Nata juga terlibat dalam hal ini.


Tapi ... apa mungkin dia mau menikam sahabatnya sendiri?


"Pembunuhan," jawabnya singkat seraya menyesap asap dari tembakau linting yang kapan saja bisa membuatnya mati.


"Ini laporannya." Ia meletakkan satu eksemplar laporan tentang kasus terkini.


Aku langsung meraihnya, dan membacanya dengan teliti. Tak ada sepatah kata pun yang aku ucapkan padanya selama dalam mode konsentrasi. Karena kalimat demi kalimat ilustrasi dan deskripsi kejadiannya, sudah sukses menekan ulu hati.


Kasus pembunuhan yang terjadi oleh seorang ayah terhadap dua orang putranya yang masih berusia dini. Dua balita tersebut mati mengenaskan dengan kondisi tubuh yang sudah dimutilasi. Setiap persikutan dan persigalan dari tubuhnya, sudah ditebas menggunakan golok kepunyaan sang ayah yang tak berhati nurani.


Ditambah lagi profesinya yang juga merupakan anggota polisi, membuat isi kepalaku mendidih dan emosiku menjadi-jadi. Refleks telapak tanganku mengepal erat karena tidak tahan membaca kelanjutan dari laporan ini. Nata yang kemungkinan sudah memahami kondisi ku saat ini, lantas menegakkan posisi tubuh, lalu mengetuk meja seraya menatapku penuh arti.


"Anggota Satuan Intelkam, letingan 2006." Kemudian kembali menyandarkan punggungnya pada kursi. "Sekarang sudah dijebloskan ke dalam jeruji besi," lanjutnya melaporkan kabar terkini.


"Kamu yang meringkusnya?" tanyaku dengan ekspresi wajah mengintimidasi.


"Iya, sama anggota yang lainnya juga," responnya, kemudian beranjak dari kursi. "Ada satu kasus lagi, tapi laporannya akan kusampaikan siang nanti." Ia langsung pamit undur diri, seolah sedang menghindari. Menghindari tatapanku yang sepertinya sudah ia mengerti.