Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 33


"Siap, Komandan." Responan tegas kuucapkan padanya tanpa pergerakan badan.


Beliau lantas bangkit dari kursinya, kemudian berdiri tegap di hadapan. "Selamat dan sukses untuk tugasmu di tempat yang baru," tuturnya seraya menepuk telak bahu kanan. Aku hanya mengangguk tipis, sembari mengucapkan terima kasih dalam ungkapan.


Aneh sekali, jika hanya untuk mengatakan hal tersebut, aku rasa beliau tidak perlu repot-repot memintaku ke ruangannya, karena dia sudah mengutarakan semuanya di dalam ceremony beberapa menit belakangan. Bahkan secara terang-terangan. Lantas, untuk apa lagi beliau melakukan sebuah pengulangan?


Dalam hiruk-pikuk pergelutan pikiran, lelaki yang berperawakan tinggi--sepadan denganku itu, lalu mendekat dan mengungkapkan, "Kamu harus lebih berhati-hati, Huda. Putra sulung sang Wali Kota sudah lama menyelidiki keberadaanmu."


Tak kusangka dan tak kuduga, beliau malah memperingatkanku. Aku sungguh bersalah, sudah berpikiran yang tidak-tidak tentang atasanku. Kukira, dengan uang sogokan senilai milyaran rupiah, beliau rela menjual harga dirinya, demi kepentingan si tiran itu.


Maafkan aku, Komandan. Tentu saja, kalimat tersebut hanya tercetus di dalam dadaku. Akan terasa begitu ambigu, jika aku mengutarakannya langsung padanya saat itu. Bisa saja, beliau berpikiran yang tidak-tidak tentang diriku.


Ampuni aku, Tuhan!


Mungkin karena terlalu terharu akan kalimat yang sudah ia sampaikan, aku bahkan hampir saja menarik tubuh tegap beliau ke dalam dekapanku. Namun, beruntungnya adalah ... pikiran warasku masih berlaku, dan aku tidak ingin terlalu banyak menghalu.


Sepersekian detik kemudian, ia mempersilakanku untuk duduk, lalu menceritakan semuanya secara rinci--bagaimana Endar datang menemuinya. Dengan meletakkan sekoper rupiah di atas mejanya, lelaki srigala berbulu domba tersebut menginginkanku saat itu juga dalam keadaan masih bernyawa.


Salutnya!


Beliau menolak untuk bekerjasama, dan lebih memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannnya, jika memang Endar terus memaksa.


Sungguh, luar biasa!


Begitu terniat Endar ingin menghabisiku, begitu terniat pula dia menginteli keberadaanku. Puji syukur berkali-kali kuucapkan kepada Tuhanku, karena sudah memberiku atasan dengan perangai terpuji, yang sukses membuatku hampir menangis karena terharu. Namun, kurasa kotak air mataku sudah habis tersapu dalam acara penghalalan sang terkasih waktu itu. Jika tidak, mungkin aku sudah menangis tersedu-sedu.


Haha!


Itu hanya celotehku, aslinya tidak begitu. Bisa turun level kejantananku ini, jika sampai menangis di depan atasanku.


...***...


Edi ... kepalanya tampak celingak-celinguk dari balik jendela. Mungkin ingin memastikan bahwa sahabatnya ini dalam keadaan baik-baik saja. Salut juga untuk dirinya.


Seusai berbagi informasi, diiringi dengan berbagai petuah dari Kapolda, aku memutuskan pamit untuk kembali ke rumah Sidqia. Edi yang memang sudah siap di dalam mobil mini milik adiknya, lantas tancap gas setelah aku menduduki kursi di sampingnya.


"Kita udah berdosa," katanya yang masih setia dengan kemudinya. Pandangannya lurus, sekaligus geleng-geleng kepala. Seolah sedang menyesali keterlanjurannya terhadap sang Kapolda.


"Yang penting kita udah tahu yang sebenarnya. Lagian 'kan kita berpikiran kayak gitu cuma untuk lebih waspada. Niat buruk kalo belum dikerjain gak akan tercatat dosa, Di. Kecuali ... elu niat berbuat baik, tapi elu gak jadi ngelakuinnya. Nah, itu elu tetap dapat pahala." Aku melemparkan pandangan ke luar jendela. Terkekeh kecil sebenarnya.


"Bener juga lu. Tapi, gue awalnya bener-bener curiga ama beliau. Gue kira bakalan selicik itu, tapi ternyata atasan kita itu ... terbaik." Ia tampak manggut-manggut sendiri setelah aku kembali memutar rotasi pandangan ke arahnya.


Anehnya, mobil yang dikendarai Edi tampak menepi sekali, dan akhirnya berhenti. Dia bahkan belum memberitahuku sebelum tancap gas tadi.


Kira-kira, apa yang akan dilakukannya di tempat ini?