Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 56


"Hahaha ... ternyata sebegitu mudahnya menyulut bara murka di wajahmu, Huda!" Endar tergelak seenaknya dengan maksud melecehkan kewibawaanku.


Sontak kutarik tanganku darinya dan membuang pandangan ke sembarang arah, yang kumau. Lalu, menarik napas dalam untuk meredakan emosiku. Ia hanya mengetesku.


Sial ...!


Mana mungkin seorang bandar narkotika terbesar di provinsi ini, pernah menjabat sebagai seorang anggota polisi?


Tidak masuk diakal ...!


Ketika pandanganku kembali tertuju ke depan, kulihat seorang wanita berjalan perlahan dengan anggunnya mendekati meja kami. Berbalut busana yang tidak asing lagi, seperti saat aku melihatnya untuk yang pertama kali di kota ini.


DEG


Apakah ... dia sengaja melakukan ini untuk mengecohku lagi?


Wanita itu langsung duduk di samping kiri, sementara pandanganku masih tak luput darinya--dengan maksud mengantisipasi.


"Wajah ini ...!" Suara bariton Endar seketika saja membelah konsentrasi. Ia menunjukkan jari telunjuknya pada wanita ini.


"Kau pernah melihat wajah ini sebelumnya, bukan?" Lelaki tirani itu mengajukan pertanyaan pada diri.


Aku masih mencoba untuk mengerti kemana arah pembicaraannya saat ini. Namun, sejurus pikiran ini menyeretku kembali pada memori ketika aku masih berusia dini.


Sidqia? Batinku yang mulai menyadari. Bagaimana Endar bisa mengetahui semua ini?


"Kurasa otakmu lebih tajam lagi dari yang sudah kupikirkan, Pak Polisi. Tidak mungkin kau melupakannya begitu saja," sarkasnya sambil menampakkan seringai keji.


Kulirik sedikit ke arah wanita itu, lalu menghujam kedua mata Endar dengan tatapan yang tak kalah ngeri. "Apa hubunganmu dengan Sidqia?" Aku sudah terjepit, tak bisa lagi menyembunyikan rasa penasaran ini.


Di depan Arona Maulida, aku terpaksa menguak tirai abu-abu yang sempat menjadi penyebab runtuhnya keharmonisan keluarga kecil kami. Dia hanya menatapku dan Endar silih berganti. Aku tahu, ini hanya akal-akalan Endar saja untuk memperkeruh situasi.


Lelaki itu lantas menggiring wajahnya ke atas meja, menatapku lebih lekat lagi. "Dia adik kandungku, Huda!"


Bagai disambar petir untuk yang kedua kalinya, tubuhku mematung bak terkena efek mantra sihir yang berkekuatan tinggi.


Tidak mungkin!


Apakah takdir sedang mempermainkanku saat ini?


Dalam mode keterkejutanku, Endar malah dengan entengnya menyeringai kembali seolah sudah berhasil memukul telak relung hati dan mengalahkan pertahananku kali ini. Sehingga membuatnya mundur dan menyandarkan punggungnya ke wajah kursi.


"Kau pikir semua ini ... hanya kebetulan semata, Huda?"


Setelah Endar mengatakan itu semua, Rona tampak menundukkan kepalanya. Aku tidak tahu persis seperti apa perasaannya. Namun, yang jelas, ada semburat kekecewaan yang masih tersisa.


Ya, sekarang aku benar-benar yakin bahwa memang ada cinta yang tersembunyi di balik ekspresi sendunya.


"Kau masih belum mengerti juga, Huda?" Endar kembali bertanya. Mungkin karena melihat kebungkamanku ini, dia mengira aku sudah menjadi bodoh dan tak lagi berdaya.


"Baiklah, aku akan membantumu untuk memahami ini semua. Namun, melalui dia." Telunjuk Endar mengarah kepada Rona, yang kini masih setia dalam gemingnya.


Aku yang masih tak mengeluarkan suara, hanya bisa mengalihkan pandanganku pada Arona Maulida.


Tunggu!


Apakah benar itu nama aslinya?


Karena terlalu banyaknya rahasia, kepalaku malah terpengaruh dengan bisikan iblis yang mulai menggelitik di rongga telinga. Namun, aku tidak akan mendengarkan mereka. Suara hatiku masih mengatakan bahwa wanita ini tetaplah istriku, Arona.


Bayangkan saja!


Dalam keadaan genting seperti ini saja, aku masih bisa menyelipkan pemikiran gila. Ya, aku memang gila. Aku masih menggilainya. Terlepas kejadian tempo hari sudah cukup menyentak isi hati dan kepala, namun rasa ini tidak akan pernah berpindah raga.


"Aku akan memulainya," tutur Rona seketika.