Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 45


"CERAIKAN aku sekarang juga!" pekiknya ketika tubuhnya mensejajari tubuhku. Bisa kurasakan embusan napas hangatnya--membentur wajahku. Bak terkena terpaan angin p-u-t-i-n-g beliung, yang menggulung kencang pertahananku.


Bibirku kelu. Kedua manik matanya bertabrakan dengan kepunyaanku. Bergerak beriringan ke arah yang bersamaan dalam satu waktu. Pergerakan yang mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang sedang ia tahan dan tampak sekali kalau dia sedang berpura-pura di hadapanku. Lebih tepatnya adalah tatapan cinta yang meluap-luap di balik pupil matanya yang berwarna biru.


Eh, tunggu!


Sejak kapan pupil matanya berubah warna seperti itu? Kicauan batinku seolah sedang menemukan petunjuk baru.


Tak ingin membuatku menyadarinya lebih jauh, Rona langsung membalik badan, dan memunggungiku. Aku tahu, dia hanya ingin menyembunyikan ketidakberdayaannya, yang seakan sedang mendapatkan tekanan dari seseorang untuk melakukan hal itu. Aku yang mulai menyadari keanehan menurut pandanganku, lantas membalikkan badanku. Menyelipkan kedua tangan di dalam saku, dan merotasikan sebagian arah leherku.


"Aku tidak menginginkan perpisahan, Rona." Dengan suara bergetar kuutarakan isi hatiku. Bersamaan dengan posisi tubuh yang juga memunggunginya, kurasa ini bisa membuatnya lebih nyaman dan tidak membuat atmosfer di antara kami menjadi kaku.


"Tapi ... kamu harus tahu! Aku tidak pernah menganggap dirimu sebagai wanita pengganti dari kekasih masa laluku. Namun, hatiku sendiri yang mengatakan bahwa hanya kamulah yang bisa membawa kebahagiaan dalam hidupku. Maka dari itu, aku bertekad untuk memperjuangkanmu, walaupun harus mempertaruhkan nyawaku."


Mungkin saking terharunya, bisa kudengar irama jantungnya yang mulai tidak terkontrol dan napasnya semakin memburu. Seolah memberikan respon menggebu-gebu setelah mendengar penuturan tulus yang benar-benar keluar dari lubuk hatiku.


"Tetapi, jika kamu benar-benar ingin pergi dari sini dan menenangkan diri sejenak, aku akan memberikanmu waktu, namun ...." Suaraku terasa tercekat di pertengahan tenggorakanku.


Kuhela napas panjang seakan terpaksa untuk melanjutkan dialog yang akan menghukum total sisa waktu di dalam hidupku. "Aku memang tidak bisa memaksamu untuk tetap tinggal." Dia masih bergeming di posisinya tanpa sedikit pun pergerakan, bak seonggok manyat hidup yang sedang ditusuk-tusuk dengan jutaan sembilu.


"Tapi ... mohon maaf, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikanmu!" tekanku dengan napas memburu. Tekanan udara tidak beroksigen seakan memenuhi rongga dadaku. Terasa begitu panas dan berbuku-buku yang sukses membuat seluruh organ di dalam tubuhku terasa ngilu.


Sementara, Rona masih membatu. Mungkin merasa terkejut dengan untaian penuturan ajaibku yang terdengar memaksanya untuk terus terikat padaku.


Sampai kapan pun itu!


***


"Bagaimana ceritanya, Huda?" Ibu terdengar sangat mendesak dan menuntut penjelasanku. Ia dan ayah tampak begitu terkejut ketika Rona menyatakan untuk pamit dan meninggalkan istana kedua orang tuaku.


Aku hanya bisa menunjukkan figura foto Sidqia yang sudah menjadi penyebab kehancuran hubunganku. Namun, rasanya begitu lucu jika hanya karena hal itu Rona langsung memutuskan untuk berlalu.


Bukankah begitu?


Jangankan aku, ayah dan ibu pun merasakan sebuah kejanggalan yang tak bisa diterima begitu saja oleh logika. Peristiwa menyakitkan ini begitu tiba-tiba dan nyaris tidak terduga.


Malangnya!


Ibu mulai terisak setelah mengerti dengan situasinya, sedangkan ayah hanya bisa pasrah dengan menyilangkan kedua lengannya di depan dada.


Tiga puluh detik kemudian!


"Ayah yakin, kamu pasti sudah tahu harus bersikap seperti apa. Yang jelas jangan sampai masalah pribadimu bisa mengusik konsentrasi dalam menjalankan tugas negara."


Kalimat ayah seakan berhasil membangunkanku dari lamunan sementara. Pasalnya, aku sempat larut dalam zona memilukan dan meratapi nasibku yang merasa seolah-olah menjadi orang yang paling menderita di buana.