Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 58


...POV ARONA MAULIDA...


Aku memang dilarang jatuh cinta dalam menjalankan misi rahasia. Namun, aku bukanlah robot sungguhan yang bisa menafikan kodratku sebagai manusia biasa. Kenangan singkat yang aku rasakan selama bersama pria itu, cukup membekas dan sukses mengukir tato permanen di dalam pusat kepala.


Hari demi hari kucoba melupakan wajahnya, suaranya, aroma tubuhnya, bahkan gombalan receh namun menggemaskannya selalu terngiang-ngiang setiap saat di rongga telinga.


Bagaimana hal seindah itu bisa aku lupakan begitu saja? Karena memang pada dasarnya dia mencintaiku apa adanya. Menerima semua kekurangan dan aib yang kala itu aku buat-buat untuk sekedar menambah mode drama.


Namun, sungguh tak kusangka bahwa pria dengan sejuta pesona di bawah naungan siraman wibawa, tak berniat sedikit pun untuk melepaskanku sebagai istrinya.


Apakah benar dia mencintaiku sebegitu besarnya?


Padahal aku sendiri tidak mempunyai cukup keberanian untuk berharap lebih padanya. Karena memang kehadiranku di dalam hidupnya hanyalah merupakan alat penyadap yang bisa membongkar semua rahasia dan melumpuhkan pertahanannya.


Tidak!


Tidak akan aku biarkan dia terlalu lama merana. Aku harus mencegahnya untuk terus menautkan hati padaku, yang sangat tidak pantas untuk menerima cinta setulus itu darinya. Biarkan saja, semua yang sudah terjadi di antara kami berdua menjadi puing-puing kenangan yang terbang dan lenyap di angkasa.


...POV ARONA MAULIDA END...


Aku masih bergeming dalam tatapan tidak percaya dengan semua penuturan Rona. Cerita singkat sekaligus menyayat relung jiwa sudah pasti membuat batinku terluka. Terluka lagi untuk yang kesekian kalinya.


Sementara Endar, tampaknya ia tidak sedikit pun merasa iba akan kondisiku yang masih terkejut sempurna. Lelaki itu sontak menatapku dengan air muka yang tidak bisa terbaca, yang membuatku buyar dari lamunan sementara.


"Dimana kau menyembunyikan adikku, Huda?! Jika kau tidak juga mengatakannya, maka lihat saja, orang-orang terdekatmu akan menanggung akibatnya!" gertaknya setengah mengerang dengan wajah murka.


DEG


Apa maksudnya?


"Kau tidak ingin, bukan? Kedua orang tuamu mati sia-sia?!" Ia kembali menyeringai seolah dialah pemenangnya.


Aku yang tidak terima, lantas meraih kembali kerah jas yang ia pakai seraya menodongkan telunjukku di depan matanya. "Jika sedikit saja kau berani menyentuh kedua orang tuaku. Maka tak segan-segan akan kulenyapkan nyawamu!" Suaraku sampai bergetar saking geramnya.


Emosiku awalnya sudah memuncak setelah mendengar semua kejujuran Rona. Ditambah lagi, ocehan Endar yang membuatku naik darah seketika. "Sidqia sudah tiada, Endar. Bagaimana bisa aku mengembalikan nyawa seorang hamba yang sudah tiada?! Kau sudah gila!" tuturku dengan meninggikan nada bicara. Seraya menghempaskan tubuhnya ke wajah kursi, seraya menatap Rona sekilas yang sedang memasang ekspresi wajah terkesima.


Ah, aku ini, sempat-sempatnya!


Setelah itu aku bangkit dari peraduan, dengan niat untuk meninggalkan mereka berdua. Namun, baru saja aku melangkahkan kaki, Endar masih terdengar berkoar dalam berangnya.


"Aku akan tetap mengusik hidupmu, sampai kau mengembalikan adikku, Huda!" tuntutnya dengan suara membahana. Semua orang-orang yang berada di sana, sontak mengarahkan pandangan mereka kepada kami bertiga. Aku yang sudah kepalang melangkah, tak kuasa lagi untuk menjawab ocehannya.


Dasar orang gila!


***


"Huda, tunggu!"


Aku yang hampir saja memasuki mobil, sayup-sayup mendengar suara seorang wanita. Kuurungkan niat hati, lalu berdiri tegap di samping pintu mobil, tanpa ingin memutar pandanganku ke arahnya.


Rona!


Dia menyusulku dengan langkah tergesa-gesa, karena semua itu bisa kudengar dari suara sepatunya.


"Lupakan aku, Huda!"


DEG


"Kamu repot-repot mengejarku kemari, hanya untuk mengatakan hal itu?" tanyaku seraya mengenakan kacamata, lalu membalik pandang ke arahnya.


Ia tampak gerogi, kemudian mendekatkan diri begitu saja. "Aku tak pantas dicintai, Huda." Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Tampak sekali bahwa ia sudah menyesali keterlanjurannya.


"Dengar, Rona!" Mencondongkan posisi tubuhku agar lebih dekat dengannya. "Aku tidak pernah meminta untuk diberikan sebuah rasa. Namun, rasa itu datang begitu saja tanpa mengenal harta dan tahta. Aku juga tidak tahu, apa yang sudah membuatku begitu terpaut padamu. Karena aku sendiri tidak tahu, apa alasannya--kenapa aku bisa begitu mencintaimu," tuturku dengan tatapan tulus di balik kacamata.


"Tapi, aku yakin, suatu saat Tuhan akan menunjukkan rahasia apa yang sudah menjadi magnet, sehingga Ia belum juga mencabut rasa ini dari dalam dadaku." Dia terus menatap ke arahku, buliran sebening kristal menggelinding begitu saja menjamah pipinya.


"Aku masih orang yang sama, Rona. Yang akan terus mencintaimu walau harus meregang nyawa."