Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 59


Entah setan atau malaikat yang sedang merasukiku kini. Yang jelas, aku masih belum bisa berpindah hati. Walau dikata perasaan ini hanyalah sekedar kehaluan diri, namun tidak ada manusia yang bisa membohongi suara hati. Kecuali ... dia berpura-pura lupa diri dan menafikan perasaan sendiri.


Dan aku ... tidak termasuk dalam jenis manusia seperti ini ...!


Langkah lebarku sedang terayun memasuki sebuah restoran yang berada di sekitar penginapan kami. Setelah meninggalkan Rona dengan segala romansa tadi, aku langsung bertandang ke sini karena Ibram sangat ingin bertemu denganku saat ini.


"Ijin, Komandan." Ia langsung berdiri tegap ketika melihatku berdiri di dekat kursi. Setelah menganggukinya, aku pun langsung bergabung bersamanya dan dua pria lagi.


"Kalian juga di sini?" tanyaku seraya berkerut dahi.


Nata dan Edi hanya tersenyum ringan untuk menanggapi. Sepertinya mereka sudah siap untuk mengejekku setelah ini. Aku hanya menghela napas panjang sekedar untuk menyiapkan amunisi.


"Ada apa, Bram?" Tatapanku kini berpindah pada polisi muda yang super berbakat ini.


"Menurut informasi yang saya dapatkan, ternyata Endar itu adalah mantan polisi," tutur Ibram seraya terus menatap monitor benda gepeng dengan layar sepuluh inchi.


DEG


Berarti si Gila itu tidak berbohong tadi ...!


"Dia diberhentikan secara tidak hormat karena kasus narkoba, dan beberapa bisnis ilegal lainnya, ketika masih menjabat sebagai anggota." Ibram sejenak berhenti. "Namun, rekam jejak karirnya itu seolah dihapuskan oleh kepolisian, sehingga membuat ia dengan mudahnya terlepas dari hukuman yang hanya dijalaninya selama tiga hari." Ibram lantas mendongakkan pandangan sekedar untuk memandangi kami silih berganti.


Edi dan Nata saling bertukar pandang, sementara aku masih menunggu Ibram menyampaikan kalimat selanjutnya agar segera menguak sisi lain dari sang tirani. "Lanjut!" Sungguh, kebungkaman Ibram semakin membuatku merasa penasaran level tinggi.


"Dia bukanlah putra kandung dari wali kota, Ndan. Melainkan hanya anak tiri," tambahnya lagi.


Pantas saja!


Akhlaknya tak seterpuji orang yang paling nomor satu di provinsi ini. Dan ... sampai di sini, aku menjadi semakin yakin, kalau mendiang Sidqia memang adik kandung dari Endar Riyahdi.


Berhubung selama ini terlalu banyak teka-teki dan rahasia yang tersembunyi, sebaiknya aku tidak memberitahu mereka tentang apa yang sudah dibicarakan oleh Endar tadi. Karena semakin ke sini, semua orang patut dicurigai, dan aku harus lebih mawas diri.


Bukan maksud untuk tidak mempercayai sahabat sendiri, namun aku hanya berusaha untuk lebih berhati-hati. Khawatirnya, jika salah melangkah lagi, aku bisa masuk ke dalam lubang yang sama untuk yang ketiga kali.


"Terima kasih untuk informasi berharga ini, Bram." Hanya itu kalimat yang bisa kuucapkan saat ini.


Edi dan Nata kembali bertukar pandang, seolah sedang merasa aneh dengan respon diri. Untuk beberapa detik suasana terasa hening, seolah kami sedang sibuk dengan pikiran masing-masing yang tak satu pun dari kami yang mengetahui.


"Sekarang sudah jelas!" Bisa kudengar kalimat pertama Edi. "Apa alasan Endar meninting Huda selama ini." Ibram dan Nata tampak sedang meresapi kata-kata Edi.


"Ya, benar. Sepertinya dia iri." Ibram menimpali. Namun, Nata masih tidak berbunyi. Ia terus menatapku intens seolah sedang menungguku untuk menanggapi.


"Bisa jadi, karena aku pernah menempati posisinya saat itu," tuturku seolah tidak ingin menguak banyak tentang hal ini.


"Aku tidak yakin." Tiba-tiba Nata menimpali. "Pasti ada alasan lain," tuturnya dengan penuh keyakinan diri.


Aku tidak mungkin membuka rahasia tadi. Namun, Nata terlalu cerdik untuk dibohongi. Apalagi, menginterogasi dan mengintimidasi seseorang adalah pekerjaannya saat ini. Ah, rasanya aku ingin angkat kaki.


"Ijin, Komandan!"


Syukurlah, Ibram menjadi penyelamatku lagi. Dengan begitu, Nata pun lantas mengakhiri kontak mata kami.


"Sprin (Surat Perintah) kita diperpanjang. Ada kasus berikutnya yang harus kita tangani."


DEG


Itu berarti ... aku akan semakin lama di kota ini.