Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 36


Langkahku digiring memasuki sebuah ruangan--seperti ruangan khusus untuk memeriksa penumpang yang berniat terbang membawa barang-barang berbahaya. Awalnya, aku berpikir kenapa pria ini bisa memasuki area bandara dengan mengantongi sebuah senjata? Namun, pikiranku langsung berputar arah ketika mengingat--begitu kejamnya hukum alam yang berlaku di dunia.


Yang kaya semakin berkuasa, dan yang miskin semakin sengsara. Saat ini aku menganggap orang yang sedang menyekapku adalah salah satu suruhan orang yang sangat berkuasa. Tidak kenal belas kasihan, tidak kenal pula dengan dosa. Yang terpenting mendapatkan bayaran setimpal, walaupun harus dengan melenyapkan jutaan nyawa.


Tidak sadarkah kita? Dalam kondisi bergelimang harta, bisa saja hati dan diri diperbudak oleh n-a-f-s-u, yang bisa menimbulkan angkara murka dari sang Pencipta? Mungkin saat ini kita merasa baik-baik saja, karena tidak adanya bentuk siksaan nyata dalam kehidupan kita semua. Tetapi, jangan salah, siksaan abadi sudah siap menanti sebagai bentuk pertanggung jawaban atas jiwa. Jiwa yang selama ini tertanam di dalam jasad, yang sebenarnya hanyalah titipan sementara.


Miris sekali ...!


Manusia terkadang bisa saja melakukan sesuatu, tanpa mengingat bahwa hidupnya di muka bumi ini tidaklah abadi. Saking rakus dan tergila-gilanya dengan perhiasan dunia, terkadang kita rela melakukan apa saja, demi mendapatkan kepuasan diri. Sebenarnya, apa yang sedang kita cari?


Pengakuan manusia di muka bumi ini?


Atau ridha sang Ilahi?


Entah kenapa, saat ini aku merasa tidak takut mati. Jika memang sekaranglah jatahnya aku pergi menemui sang Pencipta diri, maka aku ikhlas sepenuh hati.


...***...


Aku sudah lama duduk di sebuah kursi dengan satu meja di hadapan--untuk memangku kedua tanganku. Mungkin pesawat yang akan aku tumpangi tadi, sudah terbang aman menuju kota kecilku. Manusia yang menodongkan senjata padaku tadi, 'pun tak lagi berada di dekatku. Sepertinya ia pergi untuk menemui seseorang, yang aku yakini adalah pemeran utama dalam kasus penyekapanku.


Di saat aku sedang tertunduk, memaku kening di atas meja itu, tiba-tiba terdengar suara pintu.


CEKLEK


Spontan kuangkat wajah dari posisi awal, lalu mengarah pandang pada daun pintu. Dari celah pintu yang hanya terbuka sebagian, tampak dua orang lelaki bertubuh jumbo dan berambut panjang, masuk dan mendekat ke arahku tanpa ragu.


GEBRAAAK


Maksudku ... pria gondrong yang sudah menggebrak meja itu!


Wajahnya sontak memerah karena merasa tidak berhasil melayangkan gertakan pertamanya padaku. Tanpa ragu, ia mengeluarkan sebilah belati yang tingkat ketajamannya--aku pun tak tahu. Yang jelas, dalam pandanganku, senjata tajam yang terbuat dari alumunium itu, begitu berkilau sehingga sukses menyilaukan pandanganku.


"Dimana wanita itu?" Pertanyaan pembukanya sudah cukup membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang suruhannya putra sang wali kota. Tanpa perlu kuajukan pertanyaan senada, dia sendiri--dengan senang hati--sudah membuka kedoknya.


Suaranya terdengar begitu membahana, sehingga berhasil memekakkan telinga. Benar-benar, aku rasa ruangan ini dilengkapi dengan sistem kedap suara. Jika tidak, mana mungkin dia berani menciptakan keributan di dalam lingkungan bandara.


Emosinya tampak kembali tersulut dua kali lipat dari sebelumnya, setelah melihat ekspresiku yang tak berubah sama sekali. Tanpa membuka mulut, aku terus menatapnya datar tanpa rasa takut yang menghantui.


Oleh karena itu, ia langsung mendaratkan ujung belati tersebut ke bawah daguku dan menekannya, setelah itu. Rasanya sedikit perih, mungkin ujung benda tajam itu berhasil menembus kulitku.


"Jika kau masih menyayangi nyawamu, maka katakan padaku, dimana kau sedang menyembunyikan wanita itu?" gertaknya sekali lagi tanpa malu-malu.


Aku hanya tersenyum tipis dan mengambil alih peranku. "Kau benar-benar ingin tahu?" Dia mengernyit seraya menatap tajam kedua mataku. "Belahlah dadaku!" tuturku lantang tanpa ragu. Wajahnya sontak menggeram, lalu mengayunkan pukulannya ke wajahku.


"Kau berani bermain-main denganku?!" teriaknya kencang di dekat telingaku.


Wajahku yang masih berpaling karena tamparan telak darinya, sontak mendongak perlahan dan menantangnya, "Kalau iya, kenapa?"


"Kurang ajar!"


BUUUG