Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 31


Kilas balik, beberapa tahun yang lalu!


Sidqia adalah adikku. Lebih tepatnya adalah adik angkatku. Ayah dan ibu menemukannya di dalam keranjang bayi yang terletak tepat di depan pintu. Di saat itu, usiaku juga masih belia--seingatku.


Kami semua tidak tahu, siapa yang sudah sengaja membuang darah dagingnya sendiri dengan cara seperti itu. Yang jelas, kedua orang tuaku sangat menyukuri hal itu. Karena ibu ... sudah tidak bisa memiliki keturunan lagi, setelah melahirkanku. Jadi, kehadiran bayi Sidqia merupakan anugerah terbesar di dalam hidup ibuku.


Sidqia tumbuh menjadi gadis kecil yang begitu cantik nan lucu. Setiap hari aku mengajaknya bermain, bersama anak-anak lain seusiaku. Namun, sepertinya dia tidak begitu nyaman dengan hal itu. Akhirnya, aku memutuskan untuk membawanya pulang, dan hanya bermain berdua denganku.


Benar kata orang; cinta itu tumbuh karena terbiasa. Ya, karena terbiasa bersama-sama, akhirnya aku tak bisa semenit pun jauh darinya. Saat itu, usianya sudah menginjak masa remaja. Dan aku ... sudah menginjak usia dewasa.


Perasaan yang timbul dari kebiasaan itu, lama-lama berubah menjadi cinta. Ya, katakan saja, bahwa aku sangat mencintainya. Bukan hanya sebagai adikku, namun sebagai gadis remaja seusianya.


Lama kelamaan, perasaanku ini seolah tidak bisa mangkir dari dalam kalbu. Aku tahu, dia adalah saudariku. Namun, ada perasaan lebih yang membuatku ingin sekali memilikinya sebagai pendamping hidup di masa depanku.


Apa menurut kalian perasaanku ini tidak lazim?


Aku rasa, sah-sah saja. Karena kami terlahir dari rahim yang berbeda. Dan ... ayah yang berbeda pula. Jadi, rasaku ini pasti bisa diterima oleh siapa saja, termasuk kedua orang tua.


Nah, beruntungnya adalah ... ayah dan ibu juga menginginkan hal yang sama. Menjadikan Sidqia sebagai anak sekaligus menantu di istana mereka. Namun, Sidqia belum sempat mengetahuinya.


Sejak saat itu pula, langsung kutekadkan diri untuk menjadi sosok pahlawan--seperti yang dikehendakinya. Maksudku, yang dikehendaki oleh Sidqia.


Ya, cita-cita kami memang sama. Sama-sama ingin menjadi aparat negara. Namun, impian itu punah setelah kami mengetahui bahwa ia mengidap sebuah penyakit berbahaya. Namun, mohon maaf, aku tidak bisa menyebutkannya.


...***...


Pengobatan demi pengobatan sudah dilakukan. Terapi sana-sini, pengobatan alternatif ke sana kemari, sampai-sampai keluar-masuk rumah sakit di dalam maupun di luar kenegaraan.


Namun, Tuhan berkehendak lain, dia ... tidak bisa diselamatkan. Hingga akhirnya, Sidqia meninggalkan kami semua dalam usia SMA menjelang kelulusan.


Namun, sebagai seorang hamba, apa yang bisa kulakukan selain berlapang dada dan menunggu?


Mungkin saat itu aku merasa bahwa akulah manusia yang paling malang sedunia. Sampai-sampai masa pendidikan kulewati dengan hati hancur, namun tetap harus ceria. Semangat dan pantang menyerah, demi menggapai cita dan impian almarhumah Sidqia.


Ya, aku masih mengecam pendidikan di akademi kepolisian, ketika Sidqia menghembuskan napas terakhirnya. Yang lebih sakitnya adalah aku bahkan tidak bisa menghadiri prosesi pemakamannya. Itulah mengapa, rasa perih di dalam dada tidak bisa hengkang begitu saja, hingga menahun lamanya.


Malangnya!


...***...


Mungkin, saat itu aku tidak sadar bahwa di balik ujian tersebut, Tuhan sedang membungkus kado terindah yang siap untuk dikirimkan padaku.


Tiga tahun kemudian, sosok pengganti berbeda tubuh--seorang Arona Maulida tiba-tiba datang layaknya membawa taburan bunga mawar untuk menghiasi hari-hariku.


Aku pernah menyangka bahwa Rona adalah Sidqia--adikku. Namun, jika dipikir lagi, mana mungkin orang yang sudah mati, bisa hidup kembali seperti itu?


Mungkin sebagian dari kalian ada yang berpikir bahwa aku mencintai Rona karena perawakannya yang hampir mirip dengan almarhumah Sidqia!


Jika memang demikian, maka jawaban awalku adalah ... YA. Anggap saja, kalau aku sudah jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Tanpa harus melalui proses yang sangat lama, seperti alur kisah cintanya para tokoh di dalam novel-novel ternama. Yang setiap titik perasaannya harus dimulai dari rasa benci yang kemudian berubah menjadi cinta.


Tidak, perasaanku sungguh berbeda!


Namun, di samping itu semua aku merasa, ada sisi lain di dalam diri seorang Rona, yang seolah terus mengikatku ketat padanya.


Jangan ditanya--apa?!


Karena sampai saat ini, aku pun belum mempunyai jawabannya.