
Selamat membaca
πππππππ
Setelah berteriak dengan tangisan yang mengundang orang lain yang mendengar mendekat Mentari hanya bisa sesenggukan didepan papa nya yang terbaring tidur .
"Papa,kau boleh membenci Tari boleh usir tari,tapi jangan sakit seperti ini Tari tidak bisa tidak bisa pa melihat nya hihkkksss."Lirih Mentari lagi mengecup telapak tangan Papa nya .
Dev mendekat dan mengusap-usap punggung istrinya untuk menenangkan agar tidak terlalu terbebani . Tak lama mama Marisa pun tiba dan masuk langsung kedalam ruangan Papa Herman
"Mentari kau."Ucap mama Marisa membuat semua orang melihat ke arah mama Marisa kecuali mentari yang masih menangis dengan menggengam tangan Papa nya .
"Papa, Mentari kadang tersenyum memperhatikan wajah sempurnamu. Kadang Tari tertawa bangga karena Tari mirip denganmu. Tapi papa, kenapa bibir yang mirip dengan bibir tari itu jarang sekali tersenyum kepada mentari?"Ucap nya lagi
"Dear papa, hati Tari memang kecewa. Tapi bukankah saling memaafkan itu lebih indah? Bukankah hidup ini akan lebih indah jika dijalani dengan kedamaian?Come on,Mentari sudah memaafkan papa,bangunlah."Lirih mentari sambil sesenggukan.
Tak lama papa Herman pun perlahan membuka matanya dan mendapati putri yang selama ini ia rindukan berada tepat dihadapannya bahkan menggengam erat tangan nya . "Me..Mentari."Panggil Papa Herman dengan terbata-bata membuat semua orang langsung mendekat kepada papa Herman yang sudah sadar .
"Papa sudah sadar,ini mama.Pa"Ucap mama Marisa memegang siku tangan suaminya
"Pa,Alina ada disini."Ucap Alina juga
Melihat papa nya sudah bangun Mentari langsung melepaskan pegangan tangannya kepada papa Herman namun secepat kilat papa Herman menahan tangan putri nya itu .
"Maaf kan aku nak."Ucap Papa Herman dengan suara serak nya
"Maafkan orang tua seperti ku ini nak,Maaf."Lirih papa Herman lagi,Bulir air mata terlihat jelas di ujung sudut matanya
"Hihkkssss....Hihkkssss..."Mentari hanya bisa mengeluarkan suara tangisan nya tanpa mengatakan satu katapun .
"Dengan penuh harap papa menunggumu, seperti gedung pencakar langit yang tak mampu menembus indahnya awan. Tetapi papa sadar, bahwa papa sedang menunggu sesuatu yang tak pasti dan tak akan tercapai."Ucap Papa Herman menahan tangan satunya didada miliknya yang sakit
"Hati papa telah hancur berkeping-keping sejak hari papa menyakitimu. Maafkan papa " Seru papa Herman lagi tak mau menatap manik mata putri nya itu
Mama Marisa ikut menangis dan menyesali perbuatannya. Sedang Dev hanya bisa diam dan kembali mengusap-usap punggung istrinya menguatkan Mentari karna dirinya selalu ada untuk Istri tercinta nya itu .
"Papa ingin kau kembali. Maafkan papa, Seharusnya papa tidak pernah membiarkanmu pergi. Apakah papa terlambat?" tanya papa Herman dan mentari hanya terisak-isak sambil menggelengkan kepalanya .
"Jika kehilanganmu adalah hukuman papa atas kesalahan yang papa lakukan, papa lebih baik mati daripada melihatnya."Ucap papa Herman hendak melepaskan selang infus ditangan nya namun dengan cepat Mentari menahannya .
"Hihkkssss....Mentari memaafkan mu pak hihkkssss Mentari memaafkan mu."Lirih Mentari menangis dihadapan papa nya .
"Jangan menyakiti dirimu jangan pa,Hihkkssss...Mentari memaafkan semuanya,."Ucap MentariΒ lagi membuat bibir pucat dan papa Herman mengukir senyum dengan gemetaran
"Kau yakin nak?kau memaafkan papa mu?"Papa Herman tidak percaya tangan keduanya memegang tangan Mentari meminta penjelasan dan semua orang disana ikut terharu melihat ayah dan anak itu .
Mentari menganggukkan kepalanya "Mentari memaafkan papa hihkkssss cepatlah sembuh pa."Ucap Mentari lagi
"Hihkkssss....Cepatlah sembuh pa,Papa akan menjadi kakek dari anak Mentari."Lirih mentari lagi membuat papa Herman kaget bukan maen
"Kakek.?"
"Iya, papa akan menjadi kakek karna istri ku sedang mengandung cucu mu pa."Dev ikut bersuara
"Ya tuhan terima kasih, ini hadiah terindah untuk diriku juga usia ku ini ."Ucap papa Herman menangis sambil menutupi wajahnya
"Boleh aku memelukmu sayang?Sekali ini saja,papa merindukan putri kecil papa."Ucap Papa Herman sedikit memohon
Mentari menengadahkan wajahnya menatap Dev , Dev pun mengangguk dan dengan cepat Mentari memeluk papanya yang terbaring diranjang rumah sakit itu
"Maafin papa nak maafin."Lirih papa Herman sambil mengusap punggung Mentari
"Papa aku memaafkan mu,,,aku memaafkan mu."Lirih Mentari
Mentari langsung melepaskan pelukannya dari papa Herman "Papa tidur?" Panggil Mentari dan semua orang mendekat
"Papa.?"Panggil Mentari dan Dev juga semua orang disana juga ikut menggoyangkan tubuh papa Herman
Mentari langsung memegang telapak tangan Papa nya "Dingin?tangan Papa dingin?Dev,mana dokter Dev...tangan Papa dingin."Ucap Mentari histeris dan Dev pun langsung berlarian keluar ruangan untuk mencari dokter .
Semua orang didalam ruangan menangis karna papa Herman tidak Bangun - bangun-bangun juga, dokter pun tiba
Setelah di periksa dokter " Tuan Herman sudah tidak ada."Ucap dokter dan dibantu suster melepaskan semua alat medis di tubuh papa Herman
"Papa."Teriak mama Marisa juga Alina
"No."
"No,Papa ku masih hidup dok,jangan berbohong."Ucap mentari menarik jas dokter tersebut
"No,Kau berbohong kan?"Pekik Mentari,Dev yang melihat itu semua langsung menarik tangan istrinya dan menjauh dari dokter itu
"Dev mereka berbohong Dev,Mereka berbohong.Papa ku masih hidup Dev..Papa akan menjadi kakek dari anak kita dev."Ucap Mentari tidak terima akan kenyataan itu
"Sayang,papa sudah ga ada jangan seperti itu."Ucap Dev lagi memberi pengertian
"Dev,papa ku masih hidup.dia bahagia karna akan menjadi kakek nantinya. "Teriak Mentari matanya memerah
Dev langsung memeluk istrinya dengan erat " Biarkan papa beristirahat dengan tenang sayang,jangan seperti ini."Ucap Dev lagi mengecup pucuk rambut Mentari
"Tapi,,Dev."
"Syuussssttt."Dev meletakan telunjuknya dibibir istrinya
"Ikhlaskan."Gumam Dev lagi dan Mentari hanya bisa pasrah .
Setelah proses memandikan papa Herman dan tiba lah saat papa Herman akan di kafan kan "Mentari,silahkan cium papanya nak,Kafannya sudah mau ditutup, air mata nya jangan sampai menetes ya ."Ucap seseorang kepada Mentari
Setelah sesi penguburan Mentari langsung pulang kerumah nya sendiri da banyak diam selama dua hari ini,wajah papa nya yang menahan sakit terlintas di benaknya
Dan selama dua hari ini juga Dev tidak bekerja karna kondisi istrinya yang belum memungkinkan untuk ditinggal sendirian dirumah "Sayang,ayo sarapan dulu."Dev mendekati Mentari yang duduk diam di ranjang mereka
"Aku belum lapar Dev."Ucap Mentari lagi
"Jangan bersedih lagi,suamimu selalu ada untuk mu hm...''Hibur Dev
Mentari menatap wajah suaminya lalu langsung memeluk tubuh Dev dengan erat mencium aroma kehangatan dari dalam tubuh Dev "Sayang kau tau ?Mentari,silahkan cium papa nya nak,Kafan nya sudah mau ditutup, air mata nya jangan sampai menetes ya,sejak saat
itulah,hari-hari ku tidak baik-baik saja Dev."Ucap mentari didalam pelukan suaminya .
"Ada suami mu,kita akan baik-baik saja,Apa kau mau memperbaiki semua nya dengan suami mu ini?" tanya Dev
Mentari pun menganggukan kepalanya "Terimakasih sayang."
Bersambung....
Support othor terus ya supaya rajin up. ππ
Nulis nya tengah malam πalias begadang
Salam sayang
~P