
Dada Muna bergemuruh seketika, jantung Muna berdentum semaunya saat melihat posisi Kevin yang begitu rapat bahkan tangan yang tertempel nyata di permukaan kulit berlapis baju pada perut wanita cantik itu.
Hal serupa terjadi pada Kevin, refleks ia memundurkan kakinya membuat jarak dengan wanita yang tiba-tiba sudah nongkrong dalam ruangannya.
"Keviin." Setengah berteriak wanita itu sedikit terpental akibat doronga Kevin.
"Kevin, kamu hampir saja mencelakai bayi kita." Ujarnya tanpa malu walau ada Muna hadir di antara mereka.
"Ini pesanan jus alpukatnye, permisi." Ulang Muna setelah dapat menetralkan keterkejutan akibat hadirnya Kevin di ruangan itu, bahkan perkataan yang tentu sangat jelas di tangkap oleh indera pendengarannya. Muna meletakkan jus alpukat di atas meja, kemudian berbalik untuk meninggalkan dua insan berseteru didepannya.
"Bayi kita sembarangan.!!! itu bayimu bukan bayiku. Mae... Mae. Tetap di sini." Teriak Kevin sambil berlari mengejar Muna yang terlihat buru-buru kleluar ruangannya dan tidak memperdulikan panggilan Kevin.
"Mae, tetap saja di dalam bersama abang." Kevin berkata pada Muna setelah berhasil mencengkram pergelangan tangan Muna dengan kuat.
"Abang tolong lepasin!" Pinta Muna dengan suara datar dan tegas.
"Ikut abang kedalam!!!" Kevin tak mau kalah bersuara agak keras memerintah.
"Kagak!!!" tolak Muna meninggi.
"Kamu harus mendengar semuanya, abang akan selesaikan masalah kami di dalam."
"Kagak, abang selesein aje sendiri. Entuh masalah abang."
"Tidak mau!!!" Kevin ikutan keras kepala meminta Muna mendengarkan terus obrolan yang Muna sendiri tidak tau berakhir bagaimana nanti.
"Abang... bicara aje bae-bae ama dia. Muna kagak berhak ikut campur urusan abang."
"Tidak Mae, kamu calon istri abang. Kamu berhak tau kebaikan sampai keburukan abang sekalipun." Pinta Kevin dengan suara pelan dengan masih memengang pergelangan yang sudah melonggar agar Muna tidak kesakitan.
Praaaannngkkh
"APAAAAH CALON ISTRI...???"
Suara gelas kaca lolos terjatuh di ambang pintu ruangan Kevin. Beserta perkataan setengah berteriak, karena terkejut akan sebuah kenyataan tentang hubungan Kevin dan Muna. Rupanya wanita tadi menyusul kemana arah Kevin dan Muna keluar.
Kevin berbalik ke arah suara gelas pecah dan teriakkan wanita tadi.
"Iya... Muna ini calon istriku. Dan tolong katakann dengan jujur, siapa ayah bayi yang kamu kandung itu."
"Kevin Sebastian Mahesa. Kamu lah ayah dari bayi yang aku kandung sekarang ,Vin." Jawabnya dengan lantang ke arah Kevin dan Muna yang berdiri di hadapannya.
Muna tak sanggup mendengar pengakuan wanita itu, ia beringsut mundur bahkan ingin segera lenyap dari hadapan mereka bahkan jika mungkin, ia ingin lenyap saja dari muka bumi ini, agar tidak lagi mendengar apapun tentang sebuah kenyataan.
Cukuplah bagi Muna, matanya di perhadapkan dengan perbuatan buruk Kevin di masa awal perjumpaan mereka, janganlah pula kini ia harus menerima kenyataan bahwa pria yang diam-diam telah merasuki hatinya, pun harus menikahi wanita lain bahkan telah mengandung darah dagingnya. Muna tidak sanggup menerima tentang kebenaran ini.
Muna ingin pergi, tetapi tangan kekar Kevin masih mencengramnya bahkan lebih kuat dari semula.
"Katakan ini adalah kebohongan semata." Ucap Kevin dengan tenang ke arah wanita itu.
"Mungkin aku bukan satu-satunya wanita yang pernah kamu tiduri, tetapi kamu satu-satunya lelaki yang meniduriku tanpa pengaman dua bulan lalu, dan inilah hasilnya. Aku hamil anakmu." Wanita itu bahkan melemparkan sebuah foto hasil USG kehadapan Kevin dan jatuh ke bawah kaki Muna.
Muna menunduk meraih foto itu dan menyerahkan pada Kevin dengan tangan sebelah.
"Abang... bertanggung jawablah dengan perbuatanmu. Anak ini kagak berdosa bang. Ini tuh manusia, abang bahkan lebih kejem dari pembunuh jika kagak mau tanggung jawab. Lepasin Muna bang, permisi." Ucap Muna lirih dan perkataan itu melemahkan cengkraman Kevin, membuat Muna dapat dengan mudah lolos dan terlepas dari pegangan Kevin tadi.
Muna berjalan gontai menuju pantry lalu menarik trolly boxnya, untuk segera membersihkan pecahan gelas jus alpukat yang ia beli tadi.
"Kita bicarakan di dalam." Suara Kevin melemah dan mengajak wanita itu masuk kembali keruangannya.
Muna wanita yang tegar, bahkan saat peristiwa yang menyudutkan kekasihnya telah membuat hamil wanita lain pun ia tetap tampak tenang dan biasa saja dari luar.
Namun, siapa yang tau akan suasana hatinya sekarang. Porak poranda, bagai telah di amuk badai tsunami. Muna memang belum bulat mencintai Kevin, tetapi niatnya sudah kuat untuk segera menerima ajakan Kevin bahkan jika di ajak menikah sekalipun.
Tetapi, bagaimana hal itu terjadi. Mungkinkah Muna menerima Kevin, bahkan saat kini Kevin bukan hanya seorang cassanova tetapi ayah dari seorang cabang bayi.
Bekerja dengan setengah melamun, Muna pun menyelesaikan pekerjaannya membersihkan puing-puing pecahan gelas kaca yang berderai di depan pintu ruangan Kevin. Pecahan gelas itu, sama seperti hatinya, hancur luluh lantah bahkan sebelum waktunya berlayar.
Penunjuk waktu sudah berada pada pukul 4 sore, itu artinya waktu pulang kantor sudah tiba.
Siska dan Muna sudah selesai berkemas untuk segera kembali ke rumah mereka. Tetapi di ambang pintu pantry sudah ada Kevin menghadang.
"Siska, kamu pulang sendiri ya. Saya sudah telpon babe. Minta ijin, mungkin kami akan pulang malam." Perkataan Kevin bukanlah permintaan ijin pada Siska, tetapi lebih kepada pemberitahuan saja. Kemudian dengan cueknya dan wajah tak bersalahnya Kebin kembali menarik tangan Muna agar mengikutinya.
"Mae marah sama abang?" tanya Kevin saat mereka berdua berada di dalam lift berdua saja.
"Kenape Muna harus marah ame abang?"
"Ya kalii... Mae terpengaruh dengan pengakuan Helga tadi."
"Oh... nama nyoya itu Helga?"
"Kok panggilnya nyonya?"
"Die mintanye kayak gitu tadi ame Muna."
Kevin hanya mengangguk-angguk.
"Mae... percaya sama abang saja ya. Yang dia katakannya tadi semua tidak benar."
Muna hanya diam, tidak tau harus memilih percaya pada perkataan siapa.
Sepanjang keluar dari lift menuju mobilnya. Muna terlihat berjalan dekat di belakang tubuh kekar Kevin, untuk melindungi bahwa tangan Kevin sedang menggengam tangan Muna yang memang tidak ia lepaskan sejak tadi.
"Mae..."
"Ape...?"
"Kok diam saja?"
"Kagak ape-ape bang."
"Mae sakit...?"
"Kagak...! aye bae-bae aje bang."
"Kok jadi ga semangat gitu...?"
"Teruus aye harus koprol depan, kaprol belakang atau loncat indah gitu, setelah tau pacar aye buntingin cewek laen?" akhirnya Muna mengeluarkan lahar panas yang berkukus dalam hati dan otaknya sedari tadi. Rupanya sejak tadi Muna hanya menahan emosinya, menghindari kegaduhan saat mereka berada di kantor dan mungkin saja akan di dengar oleh orang lain.
"Tadi kita mau belanja, kira-kira sekarang kita tetap belanja atau kemana dulu untuk membicarakan masalah ini."
"GBK bang... biar kite adu karate sekalian bedua."
"Apees deh." Kevin tidak dapat menebak apa yang menjadi jalan pikiran gadis kecilnya. Yang ia tau, sepertinya memang sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Bersambung...
Naaah looo...
reader jangan ikutan baper donk
Ini resiko punya pacar cassanova ya gaes.
Serahkan ame nyak otor, konflik ini akan segera kita lewati dalam waktu 20 BAB... eh 2 BAB.
Bersabar dan bertahanlah, selalu ada kemesraan setelah keributan
Lopeh-lopeh buat semua
πππππππ€π€π€