OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : KUNJUNGAN DIENDRA


Kabar kembalinya kesadaran Dadang atau ayah Muna bagai oasis di padang gurun oleh mereka yang menanti-nantikan kabar tentang kondisi terkini abah Muna tersebut. Tak terkecuali Diendra sang besan yang juga pernah memiliki pengalaman saat Indira mengalami hal serupa, namun Indira tak sempat mengalami koma seperti yang Dadang lewati. Namun mereka sama-sama berkeyakinan bahwa proses itu akan berhasil, mereka yakin Dadang akan berhasil sembuh.


Sepeninggalan Kevin dan Muna, saat Diendra dan Indira telah tiba di Bandung. Meraka pun segera menyambangi rumah sakit tempat ibu Gilang di rawat. Mereka harus memberi dukungan secara moral pada calon besan mereka tersebut.


“Maaf telah membuat bapak dan ibu repot-repot datang menjengguk ke sini.” Ujar ibu Gilang sedikit sungkan. Tentu saja ia merasa sangat semakin kecil dengan melihat tampilan pakaian pasangan itupun ia tau, bahwa kasta mereka sungguh sangat jauh berbeda. Ibu Gilang dulu juga pernah merasakan menjadi menantu orang mampu, tapi setelah ayah Gilang meninggal mereka di usir. Ibu Gilang di anggap wanita pembawa sial, sebab pernikahan mereka hanya berlangsung kurang lebih 7 tahun. Kemudian ayah Gilang meninggal dunia. Karena kanker otak. Apa hubunhgannya…?


Itulah manusia, tak perlu ada korelasi yang signifikan jika sejak awal sudah benci ya benci saja. Walau kamu sebaik apa di mata orang yang membencimu ya kamu tetap saja salah dan di benci oleh mereka. Namun, ibu Gilang sosok wanita tangguh. Tak pernah mengeluh apalagi mengemis hanya untuk meminta santunan untuk menghidupi dua anaknya.


Tak sekali nenek dan kakek Gilang datang ingin merebut kedua anaknya, tapi dia tetap keukeh menghidupi kedua anaknya dengan pekerjaan apapun, buruh cuci, pembantu, penjaga toko. Semua pernah ia jalani untuk mencukupi kebutuhan dan yang penting untuk biaya poendidikan Arum dan Gilang. Beruntung janda yang hidupnya tidak bergelimang harta namun berpasrah pada tiap sujud doanya, selalu di peluk dan rangkul oleh Allah SWT. Hingga Kedua anaknya pun dapat menamatkan sekolah seperti layaknya anak-anak lainnya.


Arum adalah lulusan Diploma komputer, dan saat mengeyam pendidikan di bangku kuliah itulah ia menemukan jodohnya yang notabene juga berasal dari keluarga lumayan berada. Sehingga dengan gampang Arum memutuskan untuk tidak melajutkan kuliahnya, melainkan memilih untuk menikah muda. Mengira manisnya janji saat pacaran itu bisa di aplikasikandalam hidup berumah tangga. Namun, kisah suram sang ibu justru terulang padanya, ia pun di depak dan di anggap hanya menjadi benalu dalam kelauarga suaminya saat gelar ALM sudah tersemat di atas nisan pada hamparan petakan tanah 2x1 itu.


Gilang cukup trauma dengan perjalan kisah rumnah tanga ibu dan kakak perempuannya. Tapi, Gilang sudah cukup menghindar untuk tidak jatuh cinta pada seorang putri konglomerat. Bukankah awalnya Gilang mengira, Gita hanya anak magang yang tinggal patungan dengan teman sekantornya. Bukan salah Gilang jatuh cinta bahkan justru dengan adik perempuan pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


Hai Gilang kamu tidak salah jatuh cinta dan di jatuhkan hati oleh Gita. Salahkan saja dirimu mengapa terlahir tampan dan berakklak mulai.


“Kami sama sekali tidak merasa di repotkan bu, sebagai sesama manusia terlebih kita akan menjadi besan. Sudah sewajarnya saling memberi dukungan seperti ini.” Ungkap Indira mendekati ibu Gilang.


Tak berapa lama Gilang dan Gita datang sebab waktu kerja mereka memang telah berakhir. Keduanya tampak menyalami dengan hormat pada Diendra dan Indira.


“Ah… Gilang. Mungkin kamu tidak merasa nyaman jika memulai pembicaraan ini. Tapi sebagai orang tua Gita, papi sendiri yang meminta pada kalian untuk menunda rencana akad yang mestinya senin depan dilaksanakan.” Diendra memulai pembicaraan mengingat mereka cukup hadir lengkap di dalam ruang rawat inap tersebut.


“Oh… sebenarnya saya yang harus meminta maaf pada bapak. Iya, dengan keadaan seperti ini. Kami berdua juga sudah saling sepakat untuk menunda rencana akad tersebut. Disamping kondisi kesehatan ibu. Kondisi mertuanya pa Kevin juga sedikit membuat kami agak resah dan belum siap untuk melaksanakan akad sesuai rencana. Walaupun yang menikah kami, tapi rasanya tetap saja tidak nyaman. Lagi pula tidak ada hal yang mendesak untuk kami segera melaksanakan pernikahan tersebut.” Urai Gilang dengan sopan.


“Nah… kami baru bersepakat untuk menunda saja. Tapi di tunda hingga kapan belum kami pastikan. Juga kami belum membicarakan apakah dilangsungkan dengan resepsi atau tidak.” Jawab Gilang lagi.


“Begini Gilang… ibu Gilang juga. Sebelumnya saya mohon maaf jika ini akan menyinggung perasaan kalian sebagai calon pihak laki-laki. Kalian mengetahui jika Gita adalah putri tunggal kami. Selayaknya orang tua lainnya, tentu kami ingin pernikahann ini adalah pernikahan sekali seumur hidup bagi putri kami. Dan selama ijab dan qobul belum di ikrarkan oleh pria manapun pada putri kami. Maka tanggung jawab itu masih menjadi beban kami. Maka dari itu, kami mohon jangan berkecil hati. Ijinkan kami saja yang akan mempersiapkan semuanya. Terutama dalam urusan biaya resepsi tersebut. Maaf bu, sekali lagi jangan tersinggung. Kami tidak ingin mengyingung atau meremehkan kemampuan keluarga ibu. Tapi ijinkan kami mempersembahkan kasih syang kami pada anak tunggal kami. Kami mohon di ijinkan bu.? Pinta Diendra sangat sopan.


“Maaf pa bu. Niat kalian memang sangat baik. Dan maksud kalianpun sangat saya pahami. Kami tidak menampik bahwa kami memang bukan orang berada, tapi apakah tidak sebaiknya urusan perhelatan tersebut kita serahkan pada mereka berdua yang akan menjalaninya. Saya selaku ibu Gilang sangat terima kasih jika bapak dan ibu ingin menunjukkan kasih sayang pada putri bapak dan ibu. Tapi… pernikahan bukan tentang siapa yang akan membiayai pestanya. Tetapi bagaimana mereka sepakat untuk menjalani yang mereka inginkan. Urusan mengunakan uang siapa, saya rasa mereka berani memutuskan untuk menikah tentu juga telah memiliki bayangan untuk besok pernikahan seperti apa? Dan tidak berhenti pada mewahnya pesta, tapi bagaimana kelanjutan hidup mereka setelah menikah, menurut saya itu yang lebuh penting pak, bu.” Ungkap ibu Gilang sesuai dengan yang ada dalam pikirannya.


“Iya… sekali lagi maafkan saya bu. Seperti yang saya sampaikann tadi, saya tidak bermaksud menyinggung. Kita sama-sama menaruh percaya pada mereka yang telah berani memutuskan untuk menikah, maka tentu telah memiliki rencana yang sesuai dengan kemampuan mereka.” Diendra merasa kalah, tadinya ia ingin mendikte besannya. Sebab mungkin saja dia akan malu pada koleganya jika pernikahan Gita nanti tidak spektakuler seperti layaknya pernikahan kolega yang menurutnya selevel dengannya. Tapi syukurlah Diendra bukan lagin Diendra yang otoriter dan ingin menang sendiri. Ia kini lebih bisa mendengar dan tak lagi rus di dengar. Keegoisannya tergerus oleh waktu dengan sendirinya.


Bersambung…


Hallo readers…


Nah.. betulkan nyak ga kemana-mana


Hanya mau lebih fokus tiap hari up tentang duo G di ekstra partnya


Makasih untuk readers yang masih betah di sini ya


Happy reading