
Kehamilan Muna berangsur membaik bersama dengan semakin besarnya perut itu. Yang kimi sudah memasuki usia tujuh bulan.
Selama menjalani trimester kedua, keadaan Muna berangsur membaik, tidak ada lagi muntah, mual seperti di awal kehamilan. Selera makannya berangsur, pun sudah kembali.
Hal itu memudahkan Muna kembali beraktivitas terutama urusan menyelesaikan perkuliahan.
Muna sudah menjalani semua proses penyelesaian tugas akhirnya. Mulai dari revisi pasca sidang skripsi, bimbingan lanjutan, penjilidan, penjurnalan, penyerahan skripsi, yudisium dan akhinya mendapat jadwal Wisuda.
Jangan tanya betapa merengutnya wajah Muna saat Kevin menggodanya. Saat tubuhnya terbalut sembunyi dalam pakaian khas wisuda yang dengan perut besar itu. Gerah pasti, risih juga iya. Tapi justru pakaian itulah yang selama ini ia ingin kenakan. Sampai harus rela jauh-jauhan dengan yang tersayang.
Wisuda Muna di hadiri oleh abah Dadang, mama Rona dan Kevin saja. Yang lainnya pun turut berbahagia, namun memilih menunggu Muna pulang saja dalam hal perayaannya.
Acara Wisuda berlangsung khidmat, Muna memang tidak mampu mendapat nilai sempurna seperti yang pernah di inginkannya. Tetapi memperoleh IP 3,75 pun baginya cukup. Saat ia menengok betapa terjalnya jalan menuju gelar BBA atau Bachelors of Business Administration, jenis gelar sarjana yang berfokus pada pendidikan bisnis dan management perhotelan & hospital. Monalisa Hildimar, BBA begitu nama Muna sekarang.
Gelar yang sangat-sangat Muna idamkan membuktikan otaknya pun berisi, juga sebagai penyeimbangnya yang kini menjadi istri seorang CEO sekelas Kevin. Ya Muna adalah OB Milik CEO yang dulu sangat jompang namun secara pendidikan. Dan status secara kasat mata, ukuran manusia. Namun, kini telah hampir sepadan.
Tetapi, Muna mengaku kapok dan tidak ingin melanjutkan kuliah ke jenjang berikutnya lagi. Ia hanya ingin menikmati jadi ibu dari anak-anaknya saja. Toh, pekerjaannya pun sudah ia miliki pula.
Walau di awal seolah menabrak dinding, tanpa memiliki persiapan akademis yang ngumpuni, ketrampilan berbahasa yang jauh dari rata-rata, juga harus beradaptasi dengan lingkungan baru Semua itu adalah cobaan tersendiri bagi seorang Muna di awal berada di negeri kincir itu.
Belum lagi ajakan menikah dari sang kekasih turut meramaikan kancah lika-liku kisah mengapai cita-citanya yang seolah dramatis sekali.
Berjuang menimba ilmu serta menaklukkan rindu pada sang pujaan hati, sungguh pilu masa itu ia jalani. Tak sekali ia pernah ingin menyerah kalah dan memilih pulang, bahkan tanpa gelar dan tanpa keberhasilan. Namun, Kevin satu-satunya alasan untuknya tetap melanjutkan perjalanan meraih mimpinya.
Bermulai saat masih berstatus single, hingga di pertengahan sempat memilih break, demi keluarga. Lalu bangkit kembali, pun bahkan kini akan mengakhiri semuanya dengan perut yang menurut pemeriksaan adalah bayi perempuan itu.
Kevin benar ikhlas mengalah kali ini. Hanya pernah pulang selama 5 hari ke Indonesia karena pekerjaan dan penandatangan kontrak yang sungguj tidak dapat di wakilkan. Selanjutnya, ia bahkan lebih dari 6 bulan ngelonin Muna yang ?super manja pada kehamilannya ini.
"Cie... cieee yang wisuda hamil anak kedua... kejar setoran neng." Goda Kevin saat sesi foto pun selesai di laksanakan.
"Iih... sebel deh abang. Aaach." Muna yang gerah fisik, mendapat ledekan dari Kevin tentu saja kesal.
"Tetep cantik kok, bini abang. Sini peluk. Monalisa Hildimar, BBA."
"Ini tuh gegara abang lhoo yang ga pake sarung." Muna masih saja mengenang proses terjadinya kehamilan keduanya itu.
"Eeeh... siapa suruh ga sedia sarung." Kevin membela diri.
"Kan itu tugas abang yang siapin." Muna tak mau kalah.
"Kan udah abang bilang, itu... khilaf. Mae nya yang kalap, mau-mau aja di iya-iya. Pake bermacam gaya lagi, bilang aja emang pengen." Kekeh Kevin garing.
"Bisa diem ga...?" Muna mulai kehabisan ide untuk melawan Kevin.
"Eeh... abang kalem lho Mae."
"Kalem dari mana, tangannya aktif stadium lanjut gitu."
"Siapa suruh Mae selalu mempesona."
"Emang abangnya aja yang mesum."
"Karena abang mesum lah, Mae jatuh cinta... ngaku. Bener apa betul...?? Heem"
"Abbbaaang iiih."
"Toa aaah."
"Astagafirullaahalaziim. Kalian berdua kenapa sih. Kerjaannya ribut saja, anak sudah mau dua lho Mun." Mama Rona mendekati anak dan menantunya yang terlihat cekcok.
"Biasa mah, tanda cinta. Mae tuh suka pegel-pegel otot rahangnya kalo ga nyolot-nyoloy gitu." Kekeh Kevin.
"Abang tuh kebiasaan mah."
"Udaah.... ini tadi baru wisuda S1 apa TK Alquran siiih? Ribuut saja." Heran Rona pada keduanya.
"Akting bumbu cinta saja mah. Mae... sini abang bantu mandi, udah kegerahankan, kasian nih anak papap juga mau istirahat. Kami ke atas ya mah." Pamit Kevin pada mama Rona.
"Iya tiduran deh, besok kita sudah kembali. Jangan bikin Muna capek-cape ya Vin." Pesan mama Rona.
"Siap ma... tapi kalo Mae ajak berantam lagi, yaa... Kevin bisa apa?"
"Bisa diem ga siih...?" hardik Muna pada Kevin yang makin absurd.
Cup
Nyeeessh
Hati Muna langsung adem, kaya kesiram air es gitu.
"Pegel Mae, abang pijitin kakinya ya."
"Yakin pijit kaki doang bang."
"Yaa... rencananya gitu. Siniin lotionnya." Pinta Kevin yang sudah duduk di ujung kaki Muna setelah mereka telah sama-sama selesai mandi.
Kevin tau saja kalo seharian ini Muna lelah, tanpa di mintapun. Suaminya itu dengan penuh pengertian, telah mengacak-acak buah betisnya yang benar pegel.
"Cape yang...?"
"Banget pap."
"Enak pijitan abang?"
"Heem... hanya ada yang kurang."
"Di mana yang kurang?"
"Bukan letak pijitnya."
"Apaan dong?"
"Kacamata itemnya, cocok deh."
"Eh aseem. Kirain apaan. Udahan ah." Rajuk Kevin pura-pura.
"Ih... kok udah. Masih enak yang, lagi."
"Sayang... sesuatu yang berlebihan itu ga baik. Jatuhnya mubazir." Ujar Kevin yang sudah meratakan posisi kepalanya dengan kepala Muna.
Cup
Cup
Cup
Pipi, kedua mata,, hidung dan dahi Muna di serang Kevin.
"Selamat ya sudah di wisuda. Abang bangga punya istri seperti Mae. Bukan karena baru dapat gelarnya. Tapi, perjuanganmu untuk meraihnya itu, tidak semua orang bisa lewati." Serius Kevin.
"Bukan perjuanganku, tapi kita. Muna mana sanggup ngejalanin semuanya sendiri. Abang yang banyak korban di sini. Sampe ninggalin kerjaan juga. Maaf selalu bikin abang repot." Jawab Muna yang kepalanya sudah berbantal lengan tangan Kevin, telah masuk dalam pelukan suaminya.
"Kan dari awal abang sudah hilang, abang sangat mendukung Mae raih cita-cita. Eeh, saking ngedukung, malah suka ngungkung. Tekdung deh. Tapi, abang juga udah bilang akan tanggung jawab kan." Jelas Kevin mengelus rambut Muna dengan lenbut.
"Tapi bang, Muna hamil bukan karena abang..."
"Whaaat...? Mae selingkuh?" Sarkas Kevin agak kaget.
"Bukan, ih main sambar aja deh ini buaya. Maksud Muna... Muna hamil tuh kagak murni salah abang. Tapi atas ijin Allah. Semua sudah Allah aturkan untuk kita, gitu abang."
"Heemmm... hampir emosi abang. Iya, semua sudah di tetapkan untuk kita. Dan abang sangat bahagia, karena abang yang dapat peran jadi suami wanita sehebat kamu Mae. Terima kasih ya sayangku."
"Terima kasih juga suami kuatku." Muna membenam kepalanya di dada Kevin lama.
"Yang... sekali ya..." Ucap Kevin lembut dan tidak dapat jawaban.
"Yang... mo ngerasain layanan bini yang udah sarjana, kali beda." Kevin dalam mode merayu.
"Mae... yaah di ketiduran." Jawab Kevin sendiri, saat menyadari Muna sudah terlelap di bawah ke tek nya. Tau tidur apa pengsan siih.
Bersambung....
Mau klik tamat.
Tapi... masih suka nulis ini.
Ya udah... maaf ya. Cerita ini nyak buat ngalir aja. Semoga selalu betah dan greget nunggu up nyak di mari.
Sarange❤️❤️❤️