
Minggu telah menyapa, akhirnya pasangan pengantin baru ini pun benar berpisah. Di bandara Schiphol Belanda. Ya, Kevin memilih terbang dengan pesawat komersil menuju Singapura.
Kevin sudah menjelaskan pada istrinya, akan berusaha sedapat mungkin tidak menggunakan fasilitas keluarga Hildimar dengan semena-mena. Jika yang pulang dan pergi itu adalah Muna, maka mereka bersedia menggunakan jet milik kakek Hildimar.
Berbeda dengan urusan menuntaskan rindunya pada Muna, Kevin merasa harus merogoh koceknya sendiri. Sebab kuliah di Belanda adalah pilihan istrinya. Dan, sejak Muna sah menjadi miliknya, maka segala keperluan dari ujung kaki sampai puncak kepalanya adalah tanggung jawab Kevin selaku suami yang bertanggung jawab.
Sepekan berlalu, hubungan jarak jauh Singapura-Belanda aman terkendali. Mungkin karena keduanya sudah sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Sehingga keduanya tampak berhasil menepis rasa rindu yang kadang datang saat keduanya telah kembali ke tempat tidur masing-masing. Barulah teringat jika kini mereka kembali ke pengaturan awal, yaitu tidur berpelukan dengan guling saja.
Tetapi tidak dengan saat weekend, saat pekerjaan dan aktivitas keduanya telah sama-sama berkurang, maka rasa rindu itu menggeliat, seolah menggebu ingin lagi menikmati indahnya waktu bersama.
"Assalamualaikum... istriku."
"Walaikumsallam suamiku."
"Di sana subuh sayang udah sholat?"
"Muna halangan pap."
"Yaah... gagal dong usaha kita selama ini Mae."
"Abang sedih?"
"Dikit."
"Biar Allah yang nentukan kapan kita di kasih anak ya bang. Kan sebulan kemarin kita emang sibuk banget wara-wiri, terbang sana sini mungkin rontok di jalan."
"Iya... nanti kita buat lagi. Pulang dari sini abang mondok di situ lagi deh. Biar fokus bikinnya pas istriku kegiatannya cuma ngampus. Kali beneran bisa jadi." Harap Kevin.
"Yang maaf ya."
"Untuk apa?"
"Muna belom hamil ini."
"Ngomong apa sih, kaya udah nikah 10 tahun belum di kasih momongan aja. Kan kemarin baru tembus portal aja. Si mumun kan kadang mau terima tamu, kadang malu, kadang pura-pura ga mau. Bikinnya juga ga sering ini."
"Whaaat. Kagak sering pegimane tongtong. Aye hampir gempor kalo elu mainin." kekeh Muna mengingat kegilaan permainan suaminya dalam urusan memanjakan organ kesayangannya tersebut.
"Ha...ha...ha lain kali kudu ikhlas lagi mainnya. Biar bener jadi penerus keluarga."
"Hm... abang. Udahan yuk bahas itu."
"Kenapa?"
"Kebayang. Jadi tambah kangen abang."
Cup.
Kevin mencium layar pipih di depannya, seolah memberi kecupan seperti yang biasa ia lakukan pada Muna.
"Sabar ya Mae."
"Iye suamiku tersayang. Abang juga yang semangat selalu kerjanya. Jangan tinggalkan sholat ye bang. Muna sayang abang, love you my hubby."
"Love you more beibph. You my everyting."
"Walaikumsallam." tutup Kevin pada panggilan video call mereka yang tentu di di mulai dengan sapa, berisi canda dan berakhir dengan santun pula.
Sesungguhnya Muna sedih, melihat ekspresi yang Kevin tunjukkan tadi, saat tau jika istrinya ternyata datang bulan, artinya usaha mereka sebulan lalu belum berbuah. Muna sesungguhnya tak tau harus sedihkah, atau senang. Ia baru sebulan nikah, masih harus kuliah dan berpisah jarak dengan suami. Jujur Muna agak bingung bagaimana jika ia hamil?
Kehamilan tentu hal baru baginya, ia kini berusia 21 tahun. Yang sedang tinggal sendiri di negara asing. Hati mana yang tidak bimbang, membayangkannya saja membuat otaknya agak ribet. Apalagi jika benar terjadi.
Tetapi melihat raut wajah sang suami, Muna sadar ada kecewa di sana. Betapa wajah itu sangat menunjukkan jika ia sungguh telah ingin Muna segera hamil. Muna segera membrowsing akan hal apa saja tentang kehamilan, juga makanan apa saja sebagai penunjang yang mungkin akan mempercepat proses pembuahan dalam rahimnya selain susu pra hamil.
Janji untuk segera kembali ke Apeldoorn ternyata hanya isapan jempol. Nyatanya sepulang Kevin dari Singapur, ia justru ke Indonesia. Ke Bandung tepatnya. Menomor satukan Muna terdengar hanya sebuah wacana. Sebab bagaimanapun juga, Kevin tak dapat serta merta meninggalkan perusahaannya dalam waktu lama.
Tentu saja kepulangan Kevin ke Indonesia atas ijin dari Muna. Bohong saja Muna tak kesepian tanpa suami di sisi. Namun akal sehatnya selalu membuatnya sadar, jika ini adalah bagian dari resiko yang memang harus di tanggungnya.
Sesekali melakukan panggilan lewat video call, chat whatsapp yang hampir tak berjeda selalu membuat keduanya hanya terpisah raga namun tidak dengan jiwa mereka.
Tidak terdengar obrolan curiga dan cemburu di antara keduanya, hanya candaan ringan yang selalu mereka kedepankan dalam perbincangan jarak jauh tersebut.
Muna selalu enjoy menjalankan LRDan ini, tak ada pikirannya mengarah ke hal yang membuatnya terperangkap dalan dangkalnya bimbang akibat rindu.
Tak jauh beda dengan Kevin yang fokusnya pulang ke Indonesia hanya untuk lebih memastikan telah mengarahkan Tio dan Gilang bekerja dengan baik dan benar. Agar dapat kembali menyambangi sang istri yang tentu sangat bahkan semakin di rindukannya.
"Tong... babe kira elu bakalan lama mondok di Belanda. Ternyata kagak." Babe dan nyak sudah kembali tinggal di Bandung bersama Kevin.
"Ya... ternyata mau lama di sana tidak semudah liat kalender be. Wacananya mudah, jadwalnya terlihat kosong. Pas di jalani ternyata sulit." Curhat Kevin pada babe.
"Namenye juga hidup Tong. Mana bisa sesuai dengan rencana elu. Pan Tuhan juga yang nentukan apa yang akan terjadi." Jawab babe menanggapi curhatan Kevin.
"Iya be. Yang penting selalu mengedepankan percaya saja antara kami bahwa perpisahan jarak ini hanya sebagai ajang uji kesetiaan antara kami berdua."
"Waktu ngejalaninnye entuh Tong. Berasa elu aje yang paling tersiksa, seolah kayak rumah tangga elu aje yang nelangsa. Padahal elu aje yang kagak pernah survey, masih banyak pasangan menikah lainnya yang juga hidup terpisah karena memgejar kariernye, ngejar ilmu dan ambisi lainnya. Bahkan mungkin dengan keadaan perekonomian yang pas-pasan. Jadi, percaya saja semua ujian akan sesuai kemampuan kalian."
"Siap be. Kevin dan Muna selalu meyakini itu. Pilihan kuliah telah matang di pikirkan, menikah saat kuliah belum selesai pun telah terjadi. Maka tugas selanjutnya adalah menjalani dengan tetap percaya bahwa ini adalah bagian dari takdir yang wajib kami syukuri be."
"Alhamdulilah. Babe seneng dengernye kalo kalian selalu wasapada dan mawas diri. Pokoknya kuncinye komunikasi aje. Apapun itu jadikan pasanganmu adalah orang pertama yang mengetahuinya. Bahkan jika elu telah bosan padanya sekalipun. Elu tetep harus jujur ame die."
"Aaiiihh babe. Boro-boro bosan. Yang ada juga isinya selalu kangen anak babe. Mana PR Kevin belum selesai lagi."
"PR apaan?"
"Kasih cucu lah buat babe dan nyak."
"Ha...ha...ha. Sabar Tong. Bikinnye emang jangan kasih kendor, tapi waktunye kudu kasih jeda juga. Kalian bulan lalu pan wara wiri, umroh juga. Mungkin sulit nempel cebongnya, di ajak road show melulu."
"Hmm... iya juga ya be. Okeh, minggu ini kantor sudah aman. Mohon doa restunya be. Besok Kevin mau kerjakan PR lagi."
"Sue lu Tong. Ya udeh... baek-baeklah kalian kerjakan PR di sana. Doa terbaik babe buat kalian, Tong." Ujar babe mengusap sayang punggung mantunya.
Bersambung...
Tenang Kevin. Yang mau Muna cepet hamil bukan hanya babe. Tapi semua readers kesayangan nyak juga udah pada doa buat ponakan onlen biar segera nongol.
Lope buat semua❤️