OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : JANJI DI ATAS INGKAR


Gilang rebah dengan nafas tersengal-sengal. Baru terasa agak lelah setelah mengudara menuju nirwana fana.


Mengambil tissue yang ada di nakas entah kapan ada di sana. Dengan lembut Gilang membersihkan kepala jaka, tersenyum puas dan sumringah melihat cairan kemerahan itu.


"Tadi sakit banget ya neng?" tanya Gilang sambil membersihkan permukaan si iting-iting pasangan jaka, tanpa malu.


"Banget. A'a kok ga bisa pelan." Gita mengambil bantal untuk menutup wajahnya sendiri.


Gilang meluruskan tubuhnya miring sejajar dengan Gita, lalu membuka bantal yang menutup wajah istrinya tersebut.


"Kalo ga kenceng ga bisa nembus vera one nya si iting-iting. Makasih ya... a'a dapat yang ori. Kirain bener second." Gilang mencium kening Gita lama-lama


"Kan emang second A...!!" seru Gita keukeh.


"Kalo second ... ini darah apa?" tanya Gilang mengangkat tissue yang tercemar tadi.


"Darah ayam jago kali A'a." kekeh Gita nakal ke arah Gilang.


"Neng..."


"Heemm."


"Lagi ya... si jaka masih berdiri niih."


"Hah??" ngapain lu jack masih bediri aja? sarangmu mampet masih kebanjiran." ledek Gita seolah ngobrol pada si jaka. Gilang sudah memilih memilin dan meraba daerah rawan geli untuk membangkitkan gelora Gita kembali.


"A.. masih sakit." rengek Gita yang malu-malu tapi mau.


"Janji lebih pelan neng. Udah ga nerobos portal lagi kok, segelnya udah rusak tadi, barusan." Rayu Gilang mengesek-gesek jaka kembali sekenanya.


Gita sebenarnya juga sudah mau, tapi malu bilang kalo mau di kasih ektra part, juga memang iting-itingnya masih terasa agak perih sedikit pegal.


Gilang sudah lihai berkelana, mereka pun masih tanpa busana. Jadi, cukup dengan meraba dan nyesap pucuk dada Gita, suasana kamar itu horor kembali.


Pengantin baru, sekali mana cukup hanya sekali putaran, bukannya Persatuan Indonesia itu sila ke tiga, ya... minimal 3 kali mungkin baru dapat kata puas. Biasa di dunia halu kan bebas mau berapa kali juga, jangan samakan dengan piaraan di rumah, cukuo di syukuri saja milik sendiri.πŸ€ͺ


Posisi keduanya sudah on fire kembali. Waaaw, Gita sudah bisa bikin tato bulan sabit tipis-tipis di atas hamparan roti sobek di dada Gilang. Mirip kismis, ga beraturan kuy.


Gilang senang bukan kepalang, mereka sama-sama anak playgroup yang satu masih perjaka dan yang satunya lagi masih perawan. Tapi jika di lihat dari hasil karyanya, jelas bukan masuk kategori tingkat dasar.


Jangan tanya dulu gaya apa yang mereka gunakan, tentu hanya bermain klasik. Juga tak pantas jika di bandingkan dengan Kevin si mantan cassanova bahkan Muna sudah ia wajibkan menuntaskan buku kamasutra agar permainan berimbang.


Kemesraan di putaran kedua tidak semulus yang pertama, sebab baru saja Gilang akan naik, suara di luar pintu sudah terdengar mengganggu. Memaksa Gilang memasang bathdrobe di tubuhnya untuk membuka pintu.


Gita gelagapan, memilih masuk ke dalam selimut menyembunyikan tubuh bu gilnya. Tiba-tiba cemas mungkin saja akan terjadi kunjungan dadakan dari Kevin misalnya.


Beberapa menit berlalu, Gilang kembali mendekat ke arah Gita dengan mendorong trolly berisi kudapan ringan juga beberapa porsi makanan berat beraneka menu.


Gita menyembulkan kepalanya, jiwa keponya melonjak penasaran dengan trolly yang di dorong tadi.


"Apa itu a'...?" tanya Gita.


Gilang menyodorkan dres pendek yang di ambilnya sembarang dari koper Gita. Yang kemudian Gita pasang tanpa pakaian dalam. Lalu berdiri dan melangkah ke dekat Gilang.


^^^"Lembur bikin ponakan boleh.^^^


^^^Tapi jangan lupa makan^^^


^^^dan sholat juga.^^^


^^^Nih... biar ga repot keluar kamar."^^^


Isi pesan pada secarik kertas dari Kevin yang sangat pengertian pada adik tirinya tersebut.


"Pak bos baik banget ya neng. Tau aja bentar lagi kita bakalan lemes karena lapar." Kekeh Gilang senang.


"Ya kan dia udah pengalaman banget a'a." Jawab Gita.


"Jadi gimana nih?"


"Apanya?"


"Kita makan ini dulu atau lanjut yang tadi aja?" Tanya Gilang usil. Hanya mulutnya yang bertanya, tidak dengan gerakkannya. Sebab, tubuh berbalut dres pendek tadi sudah di gendong Gilang ke atas sofa.


Semuanya bermulai dari bibir, sapuan organ kenyal indra perasa itu kunci dari semua petaka gelora naf su penuh hasrat kembali membara melingkupi keduanya.


Pergolakan kembali tercipta, Gita masih berada di atas sofa, di bawah tubuh Gilang. Tapi tidak dengan kakinya, hanya satu kaki yang terjuntai di bawah hampir menyentuh lantai. Tapi kaki satunya justru sejajar ke atas terulur dekat kepala Gilang.


Tap


Tap


Tap


Bagai suara tepuk tangan terdengar berirama, saat paha bertemu paha, pertanda jaka dan iting sudah sama-sama bertemu di dalam.


Tidak ada rasa seperih tadi. Sudah berganti dengan erangan nikmat dari tenggorokan Gita.


Mata Gilang kadang merem, kadang melek. Pinggulnya bergerak maju, mundur kadang cepat kadang lambat. Persis seperti gerakan mengompa ban yang selalu kurang angin, lama dan lumayan alot.


Tangan Gilang masih sampai menjangkau benda kenyal yang ikut terlonjak-lonjak naik turun karena hentakan, dorongan jaka di bawah sana. Pemandangan itu membuat Gilang makin terbawa suasana ero tis. Jaka makin mengamuk di bawah sana, menegang, mengeras makin ingin cepat muntah di dalam lagi.


"A..'aaaaa." rengek Gita.


Gilang mana peduli dengan panggilan itu. Dia benar benar sibuk berpacu dengan waktu terus menghajar santapan lezat di depannya.


"Aaaaa' aa kasih jeda kenapa?"


"Tanggung neng... dikit lagi." Balas Gilang yang sudah ngos-ngosan.


"Aaah... ooh. A'a." De sah Gita terdengar makin manja dan se ksi di telinga Gilang.


Satu tangan Gita berpegang pada punggung Gilang yang sibuk memacu, satunya lagi mencengkram sofa sedapat tangannya bisa berpegang. Agar bisa dalam posisi tetap untuk jadi sasaran lesatan panah si jaka.


"Neng... sama-sama ya..."


"A...a. Udah ga tahan. Mau pipis ini." Ucap Gita yang merasa tubuhnya makin di guncang hebat oleh Gilang.


"Aaakkkhh...."


Stamina Gilang oke juga, sampai keduanya bersimbah peluh sebesar biji jagung, penyatuan sempurna terjadi lagi. Erangan keduanya terdengar hampir bersamaan, karena sepertinya keduanya sama-sama sampai puncak.


Gilang limbung untuk kedua kalinya, tanpa malu dengan posisi jaka yang sudah menciut, nafas tersengal, seperti habis lari marathon 10 kali lintasan saja, memilih duduk bersandar di sebelah Gita, yang hanya sempat menurunkan kakinya agar semua sejajar kearah lantai.


"Enak neng...?" tanya Gilang meraih dres Gita tadi untuk mengusap jaka yang sudah bekerja dengan baik hari ini. Gita mengangguk sambil menjepit bibirnya sendiri.


"Tapi cape a'..." jawabnya pelan.


"Ga sesakit tadi kan?" tanya Gilang lagi, mengusap sisi lain dres tadi untuk membersihkan area pasangan si jaka.


"Ga seperih tadi sih, tapi hantamannya masih kuat. Janjinya pelan a' ...?"


"Masa?"


"Mau patah rasanya pinggang eneng a'..." kekeh Gita.


"Si eneng mah lebay. Kita mandi terus makan siang, setelah itu ada dua pilihan lagi kita ngapain."


"Mang mau ngapain?"


"Tidur atau lanjutkan."


"Busyeeeeet anda balas dendam ya jak?" kekeh Gita geleng-geleng kepala.


Bersambung...


Maaf ya readers jika unboxnya ga sesuai ekspektasi.


Hanya begini lah yang sanggup nyak tuliskan.


Timbang ga lulus sensor, jadi ambil yang aman saja.


Semoga berkenan


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ€—πŸ€ͺ