
Pagi menyapa hari barupun tiba, Senin datang bersama sejuta harapan untuk memulai segala aktivitas baru di hari pertama pada minggu itu.
Sesuai kesepakatan juga undangan yang sudah beredar, bahwa hari itu di adakan acara pengajian Aqiqah Annaya Intan Mahesa. Acara itu di laksanakan di rumah kediaman Kevin dengan dekorasi dan sajian yang mirip hajatan pernikahan pada umumnya.
Belum lagi saat melihat para tetamu yang pulang. Masing-masing membawa kotak yang isinya clean robot vacuum cleaner otomatis-alat pembersih lantai & sedot debu.
Entah apa konsep yang di ambil oleh Asep dan Siska, sehingga mereka berdua bersepakat untuk mengadakan alat itu sebagai souvenir di acara baby Naya.
Muna tertawa saja saat ide itu muncul. Yang penting berguna dan bermanfaat untuk orang lain. Ia selalu saja setuju.
Acara berlangsung khidmat, tamu undangan tentu saja banyak yang hadir. Selain mengambil hari kerja juga di laksanakan di jam istirahat makan siang. Tidak hanya karyawan di perusahaan yang hadir, karyawan pabrik juga di siapkan bus besar untuk mengangkut mereka kebtemoat acara.
Gita tentu sudah ijin pada Kevin, agar di jam kedua saja akan masuk kerja. Sehingga saat acara ia terlihat menggunakan pakaian gamis yang senada dengan Muna dan Siska. Sepertinya ia sedikit ingin menunjukkan jati diri sebagai putri Mahesa
Daren dan Zahra datang bersama saat tamu pun masih terlihat santai menikmati hidangan yang ada.
Gita menyambut Daren dengan ceria, sembari berbisik. Kak Daren... Gita kangen." Manjanya Gita pada Daren.
"Heem... pacar mana pacar. Kata mama ada yang mau nyerobot kakak nih." Gita masih di pelukan Daren dan hidungnya di dusel-dusel oleh Daren.
Pemandangan kemesraaan adek dan kakak itu di lihat oleh beberapa teman kantor mereka. Tentu saja menimbulkan cemo'ohan beraroma fitnah.
"Hei... liat tuh Gita. Kemaren ciuman dengan Gilang. Hari ini udah pelukan mesra sama cowok lain. Kok kaya ganjen gitu ya?"
"Mungkin emang spesialis deketin cogan kali."
"Daren." Panggil Kevin saat melihat kedatangan Daren dan Zahra.
"Maaf terlambat kak." Pelukan Daren berpindah ke Kevin.
"Mestinya kamu datang sejak kemarin. Kamu tau Ren. Si bontot sudah ngebet nikah lho." Kevin memencet hidung Gita, secara tak sadar jika mereka masih di tengah khalayak ramai.
Para barisan pengghibah saling pandang, memastikan apa yang mereka dengar.
"Mama udah laporan kenegaraan tadi malam. Makanya wanti-wanti bilang Daren harus datang hari ini. Sebab katanya bakalan ada yang ngelanglahin aku, kak." seloroh Daren.
"Yang penting maharnya cocok kan Ren." Peluk Kevin antar kedua adik tirinya.
"Yang mana orangnya. Kalo oke, besok langsung kita sah kan saja gimana kak."
"Iih kakak. Ya ga besok juga kali." Gita membela diri.
Kemudian mereka pun masuk, sebab tujuan Daren yang utama adalah ingin bertemu Naya. Sementara itu, secara tidak sadar, obrolan tadi di dengar juga di artikan dengan penuh penasaran bagi beberapa karyawan perusahaan.
"Kenapa pa Kevin justru lebih terlihat akrab dengan Gita?"
"Apa selain menggoda asisten pribadi pak bos, Gita juga sudah berani menggoda CEO. Hellloooow... ini bahkan di rumah pa Kevin lho. Ga takut sama ny. Kevin." Obrolan absurd sesama karyawan yang tak paham. Juga ada Sita di dalam kerumunan itu.
"Ninik ... baru datang. Kok ga bareng Gita, kalian satu kost kan?" tanya Sita saat melihat Ninik yang baru akan masuk ke dalam area tempat makan.
"Oh... iya. Tapi sejak kemarin dia tidak nginap di kost. Mamanya datang jadi mau curhat katanya."
"Heemm... dia sudah di sini kok. Sejak kami datang dia juga sudah duluan datang. Kayaknya ga ke kantor juga, sebab dia pakai baju gamis, ikut pengajian juga mungkin." Ujar yang lain.
Gilang pun baru terlihat batang hidungnya di kediaman Kevin. Terlihat membawa tas berisi berkaa. Untuk memenuhi permintaan Kevin semalam, yaitu laporan kunker mereka, yang akan Kevin periksa di rumah saja.
"Kak Gilang kok baru datang?" Sita sudah nyelonong menempelkan diri bagai lintah di tubuh Gilang.
"Maaf Sita, permisi." Gilang segera melerai pelukan dari tangan Sita. Dan masuk ke dalam rumah untuk memyerahkan berkas pada Kevin.
"Pak.." Sapa Gilang pada Kevin.
"Sudah makan Lang?"
"Sudah pak."
"Iya... langsung antar ke ruang kerja saya ya Lang."
"Siap." Gilang melangkah ke ruang kerja Kevin. Dengan perasaan masih was-was. Mengerjakan laporanpun agak tergangu karena obrolannya semalam. Pun belum mendapat jawaban yang pasti, apakah tiba-tiba melamar itu di terima.
"Om Lang..." Teriak Aydan yang langsung berlari ke arahnya dengan dua tangan di arah Gilang minta di gendong.
"Kakak Ay. Sudah makan?"
"Lom..."
"Makan sama om mau?"
"Mau..." Jawab Aydan manja.
Gilang masuk sebentar ke ruang kerja, hanya meletakan tas berkas tadi. Lalu berpegangan tangan dengan Aydan untuk menuju meja prasamanan yang terbentang di halaman samping.
"Ka Ay mau yang mana?"
"Itu..." tunjuk Aydan pada rollade ayam. Dan Gilang mengambilkan untuk Aydan.
"Itu..." tunjuknya lagi pada mie tek-tek yang tersaji.
"Ada lagi...?"
"Udah om. Tapi... Ay di cuapin ya om."
"Yaaah... sudah punya ade masa di suapin. Om temani saja, oke?" Ujar Gilang kemudian memilih satu set meja tidak jauh dari meja prasaman tadi.
Dan benar saja, Gilang hanya menyiapkan air minum untuk Aydan. Merapikan bekas celemotan di sekitar mulut Aydan. Selebihnya Aydan sendiri yang berusaha makan sendiri.
"A'Gi. Sudah lama datang?" sapa Gita saat melihat Gilang dan Aydan duduk semeja.
"Ga juga Neng, baru mau antar berkas ke ruang kerja. Ketemu ka Ay nih. Minta di temenin makan."
"AGi sudah makan?"
"Sudah sebelum ke sini."
"Di sini belom makan dong. Neng ambilkan?"
"Ga usah masih kenyang, Neng."
"Ya udah... A' neng baru liat ternyata seviral itu berita yang di Lembang."
"Iya... maaf ya Neng. AGi ga mikir panjang. Efek ja ternyata bikin malu banget."
"Semalam di tanya apa oleh Kak Kevin?"
"Bukan di tanya sih, hanya di kasih peringatan kedua."
"Terus gimana?"
"Ga tau neng. Portalnya masih banyak. Agi kan baru bicara sama papinya eneng dan pak bos. Masih dua orang lagi."
"Siapa?"
"Kakak neng yang satunya sama mamanya Neng."
"Oh... sebentar." Gita meninggalkan Gilang dan Ayadan untuk mencari keberadaan Daren. Ingin mengenalkannya pada Gilang.
"AGi... ke ruang kerja."
"Ay...?"
"Ga papa tinggal aja."
"Ya ga bisa dong. Agi udah janjienani dia makan."
"Om ... Makannya abis."
"Mau tambah Ka?"
"Ku tenyang om."
"Oke... mau ke mana lagi?"
"Datang de Naya cama mamam." Jawab Aydan yang paham, Gilang akan ke ruang kerja.
"Kak Daren... ini Gilang. Teman dekatnya Gita." Ujar Gita memperkenalkan Gilang saat mereka sudah berada di dalam ruangan tertutup itu.
"Gilang."
"Daren" Keduanya berjabat tangan.
"Ini lelaki yang kamu pilih untuk hidup bersama Git?" tanya Daren langsung ke inti permasalahan.
"Insyaallah... iya kak."
"Kamu serius sama Gita?" tanya Daren pada Gilang.
"Insyaallah."
"Maaf... saya belum berpengalaman dalam hal berumah tangga, juga Cinta. Wanita yang membuat saya jatuh cinta hanya Zahra. Dan bulan depan akan kami resmikan dalam ikatan pernikahan. Jika serius dengan Gita, saya hanya minta jangan sakiti adik saya dalam bentuk apapun juga, fisik terlebih mentalnya. Jadilah pelindungnya, saat ia benar memilih kamu menjadi pendampingnya untuk menua bersama."
"Siap." Jawab Gilang lega.
"Gita... jangan menyakiti agar tidak di sakiti. Jangan berkhianat agar tidak di khianati. Jangan balas salahannya jika besok dia salah jalan atau menyimpang. Selalu ada bahu kakak untukmu menumpahkan sedihmu. Dan segera akhiri jika sudah berat kamu jalani." pesan Gilang pada Gita.
Entah itu sebuah ancaman, atau kecurigaan yang berlebihian terhadap Gilang. Tetapi sejak dulu, memang bahu Darenlah tempat Gita menangis, saat masa-masa mereka malu, menyadang gelar sebagai anak seorang pelakor, mereka berdua pernah di kucil sebab hidup memiliki ayah, namun seolah tak punya ayah. Di mana saat itu, Diendra tidak hanya milik mereka. Tapi milik mami Kevin dan wanita lain di luar sana. Setelah Beatrix meninggal pun, Indira harus terseok-seok merebut Diendra dari Yolanda bahkan wanita idaman lainnya. Hingga waktu yang benar menggiring Diendra untuk benar serius menjalani rumah tangga mereka itu sendiri.
Dan kini saat ada pria yang ingin melamar anak gadisnya, Diendra bagai saringan berlapis untuk memastikan nasib putrinya tidak akan bertemu pria sepertinya. Daren sudah kenyang melihat air mata sang mama, ia lebih trauma lagi jika airmata itu jatuh dari bola mata adik kesayangannya. Maka, dari awal saja dengan gamblang ia meminta, agar Gilang tidak mempermainkan adik semata wayangnya itu.
Bersambung...