OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 259 : UNTUK CALON MAKMUM


Gilang dan Gita tiba-tiba terlibat obrolan tentang perasaan mereka masing-masing lebih intens.


Awalnya Gita hanya ingin memberikan surprise saja pada pada Gilang soal lamarannya sudah di terima. Tapi momen itu sekalian saja di manfaatkam Gita untuk menggali kembali rasa yang mereka punya lebih serius lagi.


"Bisa tolongin Agi Neng...?"


"Gimana?"


"Papinya neng dan dua kakak neng kan udah Agi hadepin. Gimana kalo mamanya eneng kita hadepin berdua?" ajak Gilang yang benar masih tampak keukeh ingin mendapat restu.


"Kapan?"


"Ntar malam bisa?"


"Telat.. mereka udah ke Jakarta tadi pagi A."


"Ya... weekend deh kita ke Jakartanya."


"Serius...? pake apa?" tanya Gita.


"Travel mau?" tanya Gilang sedikit meragu bercampur malu.


"Ga papa. Biar pulangnya bawa mobil eneng yang udah lama nganggur di sana." Jawab Gita santuy.


"Serius nih... setelah eneng punya mobil akhirnya Agi lamar ya? Perasaan dulu kita becanda aja deh neng."


"Makanya kata-kata adalah doa. Mulai sekarang hati-hati dalam hal bicara. Kejadian kan."


"Hum.... maaf ya. Tadi sempat ngajak putus." Ucap Gilang.


"Tau nih Agi. Cemen banget."


"Yu ngantor. Ntar jadi bahan gosip lagi. Oh iya. Ntar sore pulang kantir Agi mau ajak eneng ke suatu tempat ya."


"Kemana?"


"Ada deh." Ternyata bukan hanya Gita yang punya kejutan. Gilang juga.


Mereka kembali ke tempat kerja, sempat berpapasan dengan Sita yang sudah membawa kotak berisi beberapa dokumennya dengan wajah masam, cemberut dan tidak bersahabat tentunya.


"Pulang ke mana nih? Kost atau rumah pak bos?" tanya Gilang saat mereka akan pulang bersama setelah menyelesaika pekerjaan di jam kedua.


"Ke kost A." Jawab Gita dengan senyuman.


"Oke... sebelum ke kost. Kita mampir bentar ya." Gilang memasang helm ke kepala Gita pelan.


Gita mengangguk. Kemudian menaiki busa tipis memanjang di belakang Gilang. Ia tidak tau akan di bawa ke mana oleh Gilang. Nonton bioskop? sudah sering, pergi makan, nongkrong di cafe? juga sudah sering, dan ngajaknya ga begini juga. Tapi Gita memilih diam saja, berharap akan dapat kejutan indah dari lelaki pujaannya tersebut.


Motor yang di kendarai Gilang memasuki sebuah komplek perumahan rata-rata type 70/150 berlantai 2. Dengan kisaran harga mulai 700jt sampai 1 M dengan isinya. Sangat jelas jika itu adalah rumah yang di buat dengan sistem KPR. Terlihat dari kesamarataan model yang sudah di tentukan, bahkan warna bagian depannya.


Gilang berhenti di salah satu pintu rumah itu. Turun dan menggeser sendiri pagar yang tidak berkunci tersebut. Kembali ke motornya dan masuk ke garasi.


"Ini rumah siapa A...?"


"Masuk aja dulu... kita liat siapa yang ada di dalam." ujarnya mendekat ke pintu rumah tersebut. Gita mengikuti saja di belakang Gilang, sambil penasaran dengan siapa yang ada di dalam rumah itu.


Gilang memiliki akses sendiri untuk masuk ke dalam rumah itu. Bersih, wangi, memang terlihat baru jadi. Tapi interior di dalamnya sudah tampak tertata rapi juga lengkap.


"Gimana bagus neng?" tanya Gilang dengan senyum bangga dan tampannya.


"Bagus... apik, ciamik. Rumah siapa sih penasaran."


"Tadinya pas hunting, mau Agi jadikan rumah yang di tempati sendiri. Tapi kesininya pas udah jadi. Ternyata besar dan lumayan sepi jika di huni sendirian." Jawab Gilang membuat alis Gita berkerut tidak mengerti.


Gilang merogoh kantong celananya dan mengeluarkan kotak beludru merah, lalu membuka dan menyodorkannya ke arah Gita.


"NengGi mau jadi penghuni rumah ini bersama Agi dalam suka dan duka, berbagi bantal bersama, tidur di selimut yang sama, menjadi makmumnya Agi. Menapak hidup bersama, menerjang badai, menanti pelangi tiap habis hujan, juga jadi wanita yang akan melahirkan anak-anak Agi nanti?" Gilang berkata tanpa berkedip ke arah Gita yang speaclless dengan lamaran Gilang.


"A... A'a Gilang lamar NengGita...??" Gita sungguh terpana, atas manisnya perlakuan Gilang padanya.


"Neng... jangan lama bingungnya. Tangan Agi kesemutan kelamaan pegang kotak cincin ini. Berat sih ga Neng. Tapi hati A'a rusuh niih, pliis jangan tolak Agi neng. Serius, hanya eneng yang A'a mau jadiin istri." pinta Gilang merengek.


"Hahaaaa... Agi maksa nih. Pasangin lah A." Gita menjulurkan tangan kirinya pada Gilang. Tentu saja Gilang segera menyambar cincin bermata berlian kecil itu, lalu menyematkannya di jari manis kiri Gita.


"Iih... manis banget siih. Ini real lamaran kan A...?"


"Emang ada yang ga real gitu?"


"Kali cuma latihan mau ngelamar siapa gitu?"


"Jangan mengada-ngada. Jiwa dan raga Agi tuh dah singkron, maunya sama eneng aja."


"Neng... lamaran Agi neng terima kan?"


"Iya... di terima dengan senang hati A." Jawab Gita memandang Intens sorot mata Gilang yang sudah sarat akan cinta di sana.


Gilang pasrah jika nanti akan di cubit atau di dorong oleh Gita. Yang ingin ia lakukan sekarang adalah menikmati bibir wanita yang di depannya. Yang telah ia yakini menjadi istrinya itu.


Pelan dan dramatis sekali organ lembut kenyal itu, mendekat, menyentuh, menubrukkan pasangan di depannya. Hampir tanpa berasa, indera pengecap keduanya saling bertaut. Berbalas lilit, menyapu pelan deretan gigi dalam rongga mulut itu. Bertukar saliva dengan mata yang saling tertutup, saling menikmati pertautan tersebut. Tubuh Gilang semakin dempet menempel. Tangan kekarnya melingkar posesif di pinggang Gita. Sementara tangan Gita sibuk memilin tepian pakaian Gilang, sembari menikmati sensasi ciuman kedua mereka, di tempat yang lebih tenang, dengan durasi yang lebih lama.


Sepersekian menit, Gilang sendiri yang mengendurkan rekatan pertautan itu. Memandang sayang wajah wanita yang semakin membuatnya jatuh cinta itu. Menarik kepala Gita, menggecup keningnya.


"Maaf... terbawa suasana neng." ucapnya malu-malu.


"Sering-sering aja, A. Neng suka." kekeh Gita menahan malunya.


"Jangan nantang neng. Ntar candu lho." Gilang menarik tangan Gita dan mengajaknya keliling pada seisi rumah itu.


"Sejak kapan Agi buat ini?"


"Bukan Agi yang buat, tukang neng yang buat."


"Iya... maksudnya belinya."


"Huum... sejak Agi di hina Risna. Waktu Aa masih jadi tukang kebun di Perusahaan. Agi ga nyalahin orang tua Risna nolak dan hina Agi. Tapi justru itu cambuk buat Agi. Ya... orang tua mana yang rela ngelepas anak yang mereka rawat sejak kecil dengan kemewahan. Harus hidup dengan lelaki yang hanya modal cinta." Jelas Gilang sambil terus berjalan menyusuri bagian rumah itu dengan tangan masih melingkar di bahu Gita.


"Jadi dendam nih sama orang tua Risna."


"Bukan dendam. Hanya terbakar semangat saja. Risna masa lalu, saat membeli perumahan ini Agi yakin jodoh Agi ga akan dengan lelah Agi cari, tapi akan datang sendiri. Dan ternyata Agi salah."


"Kok salah?"


"Ya ternyata punya rumah saja ga cukup untuk modal ngelamar anak raja. Masih harus berjuang dapat restu."


"Kalo masih harus berjuang, kenapa nekat ngelamar tadi?"


"Supaya berjuangnya sama-sama. Pliiis neng temani Agi yakinkan mamanya neng buat kasih kita restu."


"Penting banget ya restu mama?"


"Penting dong neng. Surga itu di telapak kakinya."


"Tapi 3 lawan 1 menang siapa A?"


"Maksudnya?"


"Mama udah terima kok. Papi juga nitip tanya, mau tunangan dulu atau langsung nikah? Papi tunggu kesepakatan kita aja ini."


"Ya Allah neng. Segitunya ga langsung bilang ke A'a. Kapan tuh dapat jawabannya?"


"Ya kemarin malam lah, pas A'a pulang."


"Neng... jangan gitu lagi ya. Sumpah Neng. A ga fokus kerja lho, mikirnya. Takut di tolak."


"Kok ga percaya diri sih?"


"Ga percaya eneng juga, so oleng sih."


"Bukan oleng. Hanya ingin makin memastikan saja, Agi pilihan yang tepat buat eneng."


"Maaf jika Agi bikin neng ragu."


"Bukan meragu A. Hanya jika eneng boleh minta. Tolong nanti jangan khianati cinta eneng saja."


"Yang takut di khianati bukan hanya emeng, Agi juga. Kita punya Allah neng, yang selalu luar biasa kasih jalan terbaik bagi umatnya yang memohon dengan sungguh."


"Amiin. Jadi rumah ini di buat untuk siapa A?"


"Untuk calon makmumku. Gita Putri Mahesa." Lantang Gilang senang.


Bersambung....


Noooh readers sempet ikutan oleng kan waktu Gita oleng.


Jangan lupa nyak otor spesialis ngeprank reader kan.


Jadi waspadalah


✌️✌️✌️