
Muna menatap agak tajam ke arah Sita. Tak tau kenapa jiwa bar-bar Muna tetiba naik saat melihat wanita itu makan bareng Gilang. Eh, bukan makan bereng ternyata, sebab yang makan cuma Sita.
"Pesan makan deh Sis, Git."
"Oke. Mau makan apa?" tanya Siska pada Muna."
"Steak Salmon ada ga? Aku mau itu, terus cah brokoli sama salad buah." Jawab Muna.
"Nasinya...? ada yang merah nih." Tawar Siska.
"Blaaas... aku hamil ade ga suka nasi apapun lho Sis." Jawab Muna.
"Okeh."
"Tapi steaknya dua porsi ya. Biar kenyang." Kekeh Muna.
"Gita?" tanya Siska.
"Sama deh, tambahin kentang rebusnya. Minumnya air jeruk hangat saja." Jawab Gita sambil membaca buku menu.
"Oke... ini mbak." Siska menyodorkan catatannya pada pelayan yang sudah menunggu.
"Sita sudah kenal sama ny. Kevin...?" tanya Gita berbasa-basi.
"Secara langsung baru ini. Kemarin pas syukuran kan ada liat dari jauh." Jawab Sita mengulurkan tangannya agak kikuk acara makan siangnya agak terganggu.
"Maaf ya... kami duduk di sini. Tadinya mengira bisa makan bareng kalian. Eh, Gilang malah ikut pergi." Senyum Muna sedikit horor.
"Ga papa bu, dari pada saya makan sendiri."
"Tadi bareng Gilang dari kantor?" telisik Muna.
"Oh tidak... kak Gilang mana pernah bisa di ajak jalan secara berencana. Ini tadi, aku bohong aja. Bilang sakit perut dan minta di tolongin sama dia."
"Terus...?"
"Ya ku kasih alamat jadi dia samperin ke sini."
"Makanya tadi dia pergi tanpa pamit ke Sita. Emang niat kayaknya ninggalin Sita." Curhatnya entah jujur atau ga.
"Kalian pacaran?" tanya Muna semakin mengorek informasi dari Sita.
"Maunya aku ya gitu. Tapi... ah. Gita juga pasti tau betapa gigihnya aku ngejar kak Gilang. Tapi tau... itu hati apa batu. Ramah doang, tapi ga peka. Ke semua cewek kayaknya selalu manis." Curhat Sita mendebarkan hati Gita. Nyeess gitu.
"Iya... ya Git? Sita gigih banget ya.. ?" Gita hanya senyum hambar.
"Dia udah punya calon kali, makanya cuek sama kamu Sita." Pancing Muna.
"Ga tau sih. Gita nih yang lebih deket sama kak Gilang mungkin tau siapa kekasih kak Gilang."
"Eh... aah.. Hm.. ga. Aku ga tau apa-apa juga." Gugu Gita.
"Atau saya perlu pindah bidang kali ya bu? jadi satu gitu sama kak Gilang biar pendekatanku makin lancar."
"Ke bagian sekretaris maksudmu?" tanya Gita.
"Iya... boleh bu?" tembak Sita.
"Cari mati ni anak." Batin Gita masih memasang wajah datarnya.
"Huum... bagian sekretaris kayaknya belum kurang deh. Manager pabrik sepertinya memerlukan penambahan, mau?" tawar Muna yang tentu ingin mengusir jauh calon hama wereng itu.
"Huummm tidak lah. Kalo ke pabrik bakalan ga bisa liat wajah kak Gilang lagi dong." Jawab Sita cepat mengambil kesimpulan.
Pesanan datang, merekapun segera melahap makanan tersebut dengan semangat. Dan Sita yang memang terlebih dahulu makan, tentu lebih cepat selesai dan mohon pamit terlebih dahulu.
"Siska... tolong bayarin." Ujar Muna menyodorkan dompetnya pada Siska.
"Siap nyonya Kevin."
"Siska iih... berat jalan tau."
"Iya bercanda." Kekeh Siska yang kemudian melangkah duluan ke meja kasir sebentar lalu berbalik menuju Muna dan Gita.
"Eh... kita udah di bayarin Sita lho ternyata." Info Siska pada keduanya.
"Waaaw... keren juga Sita berani bayarin makan siang istri bosnya." Kekeh Muna.
"Hmm... Allhamdulilah saja." Lanjut Muna mengelus perutnya.
"Gimana ceritanya sih Git, kamu sama Gilang. Deket saja ga jadian ya? Kok sampai Gilang bisa kecolongan makan sama Sita." Giliran Gita yang di intetogasi Muna saat mereka sudah di dalam perjalanan pulang.
"Iya gitu deh... Sita gencar mepet Agi. Gita jadi keder kan."
"Kamu ngalah?"
"Ga juga... posisi bertahan aja."
"Gilang tau ga kamu suka dia?"
"Ga tau kali."
"Kok kali...? sungai gitu. Dia perhatian ga sama kamu?"
"Selalu lah?"
"Ya... sering jalan berdua gitu."
"Masa iya... aku yang harus nanya Gilang kapan nembak kamu sih?"
"Ya masa aku yang nembak duluan siih?" tanya Gita balik.
"Ya ga papa. Aku sama oppa Asep juga... aku yang duluan bilang." Siska keceplosan.
"Siska... kamu makin banyak utang cerita dari aku. Mulai dari Ay 7 bulan di perut sampai sekarang ade Ay sudah 9 bulan di perut lho. Kisah cintamu masih misteri. Kapan mau di bayar?" tagih Muna pada Siska.
"Heemm... mana ada waktu cerita sama kamu sih. Kalo ga main sama Ay, kamunya selalu di kuasai pa Kevin. Nyadar ga sih?"
"Oke... weekend deh ke rumah. Papap Ay ada undangan ngegolf pagi. Akunya free."
"Aydan...?"
"Gita deh... Gita sama Gilang temenin Ay berenang ya..., nanti aku hubungi Gilang."
"Emang Gilang mau?" tanya Siska.
"Pasti mau... Gilang itu lebih nurut sama aku ketimbang abang."
"Masa...?"
"Udah sampai tuh kalian berdua. Kerja yang bener, ntar perusahaan laki aye bangkrut." Kekeh Muna menurunkan Siska dan Gita di depan pintu masuk perusahannya.
"Iyaaa deh ibu bos. Kami kerja dulu ya. Byee. Assalamualaikum." Pamit keduanya.
"Walaikumsallam." Sahut Muna.
Sesampai di rumah, Muna tidak bisa beristirahat. Ia langsung mengawas orang yang Kevin perintahkan ke rumah untuk mendekor kamar untuk ade Aydan.
Nyak, babe masih tinggal di sana. Sementara Aydan tampak tidak begitu tergantung lagi dengan Muna. Bukan karena telah lama tak bersama, tetapi dia memang lebih sibuk dengan mainannya. Dia lebih suka membongkar pasang lego nya membentuk sebuah kota yang sepertinya ada dalam khayalannya sendiri.
Malam datang, Aydan sudah terlelap setelah Muna menemaninya membaca buku cerita. Kevin tampak menjemput Muna dari kamar Aydan. Menutup selimut Aydan lalu mengecup kening anak pertamanya.
"Ay udah tidur, giliran papap yang di kelonin mamam." Bisik Kevin membuat Muna meremang. Ga tau kenapa, sudah punya anak hampir dua. Jantung Muna masih suka berdebar-debar jika Kevin membisikan sesuatu di telinganya.
Sampai di kamar mereka, Kevin sudah kasak kusuk di samping Muna.
"Abang kenapa siih?"
"Otong minta jatah Mae."
"Kaya ga pernah di kasih tiap malam aja?"
"Itu tadi waktu Mae ngelonin Ay. Abang ga sengaja ke buka film begituan. Jadi pengen deh, Mae." Ujar Kevin yang sudah melucuti pakaiannya dan Muna.
"Ga... pake pemanasan nih?" tanya Muna senyum.
"Udah panas duluan akunya."
"Ih... abang bohong." Curiga Muna tak biasa melihat tingkah aneh Kevin.
"Bohong apanya. Udah, cepet aja." Dorong Kevin yang tiba-tiba beringas kehilangan kelembutannya seperti biasa.
Muna hanya merem melek, melayani suaminya yang terlihat penuh gairah dan lumayan lama dari biasanya. Tapi aneh, Kevin tidak mau menciumnya, hanya mencumbu bagian leher dan dadanya saja, juga tidak meninggalkan bekas. Tapi Muna menangkap aroma sesuatu yang tidak biasa.
Muna berusaha duduk, Kevin masih menyerangnya. Muna beralih pindah ke atas, berharap permainan itu cepat selesai.
Kevin makin ketar ketir dan semakin ganas. Muna berusaha mengimbangi dengan susah payah, sampai akhirnya, Kevin selesai menyiram perumahan mumun hingga banjir.
Kevin buru-buru berdiri dan menuju kamar mandi. Mengecup kening Muna yang basah oleh keringat setelah usahaya melayani suaminya yang ganas malam itu.
"Makasih sayang." Ucapnya kemudian lama di dalam kamar mandi.
Muna pelan-pelan menyusul Kevin, dan mendapati suaminya berendam dalam jacuzzi mereka, seperti sedang merelaksasi dirinya.
Muna memilih diam saja, sambil menguyur dirinya di bawah shower untuk membersihkan dirinya.
Satu jam lamanya Kevin di dalam, baru keluar dengan handuk yang ia lilitkan di pinggangnya menyisakan pemandangam perut sixpack sempurnanya di depan Muna.
"Mau makan di luar yang?" tanya Kevin yang tampak lapar.
"Abang mau makan apa?"
"Sate." Jawabnya.
Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam. "Masih ada yang buka?"
"Kita cari sampai dapat." Jawab Kevin yang sudah menyodorkan pakaian untuk Muna berganti.
"Abang kenapa?" tanya Muna agak heran.
"Ga ada apa-apa. Abang baik-baik saja." Jawab Kevin yang sudah tampak siap dengan pakaian casualnya siap berburu sate malam itu.
Muna hanya menarik nafas dalam, belum sepenuhnya yakin jika suaminya sedang baik-baik saja.
Bersambung...
Ada afaaah yaah...?