
Rona masih menangis tersedu-sedu di bawah ranjang yang di atasnya terdapat Dadang masih lengkap dengan peralatan medis hampir di seluruh tubuhnya. Sedu sedan itu terhenti saat Rona merasakan tangannya seolah di elus oleh sesuatu.
Rona mendongak memastikan yang ia rasaka, apakah hanya halusinasinya saja. Rona yakin jika tangan suaminya yang bergerak mengelus tangan yang dari tadi saling genggam. Rona bagai kesetanan berdiri melihat mata suaminya sudah terbuka dengan sempurna.
“AKKAAAAANGG….!!!” Serunya lari keluar dan masuk lagi. Panik, hingga lupa bahwa ia hanya perlu melambai ke arah kaca di depan kaki Dadang untuk memanggil perawat atau dokter agar segera memeriksa keadaan suaminya.
Melihat respon penunggu pasien yang tidak biasa, perawatpun dengan gerak cepat merespon lalu masuk kedalam ruang rawat tersebut. Segera menghubungi dokter spesialis. Dan meminta agar Rona bias keluar agar mereka bias memeriksa dengan seksama keadaan pasien mereka tersebut.
Saat itu Muna dan Kevin baru saja selesai sholat magrib. Dan agak terkejut melihat Rona yang terduduk lunglai di depan pintu masuk ruang rawat Dadang.
“Mama… kenapa ?” Tanya Muna menarik tubuh Rona kedalam pelukannya.
“Abahmu sudah sadarkan diri. Sekarang sedang di periksa Mun.” Tangis Rona pecah tak mengerti rasa apa yang sekarang ia alami. Haru.
“Alhamdulilah.” Serempak Kevin dan Muna sungguh telah mengijabah doa mereka.
Pintu ruang rawat telah terbuka, tampak senyum tersimpul di wajah para dokter yang baru saja memeriksa keadaan abah.
“Selamat, pasien sudah melewati masa kristis. Selanjutnya pasien akan melewati proses pemulihan, dan itu perlu waktu sekitar 6 – 12 bulan untuk benar-benar sembuh. Tapi tidak selama itu harus terus di rawat di sini. Bisa dengan rawat jalan. Tapi, untuk pulang ke Indonesia tentu tidak besok.” Kekeh dokter yang sudah sangat kenal dengan keluarga pasiennya tersebut.
“Alhamdulilaah. Terima kasih dokter.” Tukas Rona.
“No… no. Bukan kami yang layak mendapat kata terima kasih itu. Tetapi Tuhan yang masih memberikan mukjizat kepada pasien dapat melewati masa kritisnya dengan baik. Hingga selamat.” Jawab dokter dengan kerendahan hatinya.
“ Ya tentu. Tentu saja dokter.” Jawab Rona yang tidak bias menyembunyikan kebahagiaannya.
“Silahkan jika ingin bertemu pasien. Atau mau menunggu di pindah ke ruanganyang baru?” tawar Dokter dengan nada sopan yang juga tak dapat menyembunyikan rasa bahagia mereka saat pasien telah sukses bertransplantasi organ.
“Tentu saja sekarang dokter.” Jawab Rona segera menerobos masuk.
“Akang…” panggil Rona yang sudah di dekat suaminya yang kini hanya di lengkapi satu alat yaitu selang infus di salah satu tangannya.
“Rona… maafkan membuatmu cemas.” Jawabnya mengelus tangan istrinya. Keduanya pun terbenam dalam pelukan haru bertukar tangis, tanpa dapat merangkai kata-kata lagi, selain bersyukur dan bersyukur jika suaminya telah selamat dari maut.
Setelah sholat isya pada waktu setempat, Dadang sudah berada di ruangan biasa. Bukan ruang steril. Bukan lagi ruangan yang di batasi berapa orang boleh memasukinya. Melainkan ruangan yang sudah lebih mirip dengan ruang president suite sebuah hotel bintang lima. Di sana sudah ada mama Leina dan suami, Kevin, Muna, juga rona dan Dadang tentunya.
“Apa yang terjadi selama kurang lebih 12 hari abah tak sadarkan diri?” Tanya Muna yang sudah bagai anak kecil menaiki ranjang ayahnya untuk menyuapi bubur untuk Dadang.
“Sepertinya abah sudah hampir berada di dunia lain. Abah sudah menggunkana pakaian seba putih ngambang di angkasa. Tanpa pijakkan namun tak jatuh, melangkah bahkan di atas udara.” Dadang mengingat-ingat kembali perjalanannya selama koma.
“Apa yang abah lihat?”
“Lorong cahaya menuju kearah lebih jauh semakin kecil tapi sangat terang.”
“Lalu…?”
“Abah tidak melihat rupa, hanya mendengar suara. Sebuah ajakan untuk pulang. Abah melihat kakek mu Hildimar di sana, ada ayah abah juga di sana. Mereka terdengar memanggil untuk segera berkumpul bersama mereka. Tapi, terkadang sayup-sayup abah juga mendengar suara memanggil abah dengan sebutan akang, Dadang juga abah. Suara itu lebih terdengar sedih dan putus asa. Berbeda dengan panggilan para kakek buyutmu. Yang begitu ceria mengajak abah ke arah cahaya kecil itu.” Kisah abah makin serius.
“Lalu ada sekelebat cahaya berwujud gumpalan asap namun tetap tak berupa, tak dapat dilihat sangat silau. Bertanya pada abah. ‘Apakah kamu ingin bersama mereka yang akan pulang ke surga? Atau kamu masih cinta dunia?’ Abah jawab. Aku tentu ingin masuk surga namun belum berarti aku tak cinta dunia. Hanya di dunia, aku masih di butuhkan untuk menghapus airmata mereka yang kini sangat menginginkan aku masih bersama mereka di dunia. Tapi, jika ini waktu yang tepat bagimu. Silahkan, ambillah, jemputlah aku, bawakah aku jika surga adalah tempatku sekarang.” Cerita Dadang.
“Lalu bah…?” Muna makin penasaran.
“Akhirnya abah hanya merasakan tangan abah seperti di tarik dari bawah, kadang tergoncang kuat, kadang melemah. Karang terdengar isakan, kadang kudengar suara permohonan dan apa saja, sepeti mengusik pendengaran abah. Yang membuat abah terpaksa membuka mata. Dan ternyata itu adalah tangan mamamu yang menarik abah dari bawah ranjang itu.”
“Hm… mestinya mama sejak hari pertama saja menarik tangan abah, agar tidak sampai 12 hari abah koma.” Muna persis anak kelas 2 SD berbicara saat itu. Seolah tak memiliki logika untuk berpikir lebih cerdas dari itu. Saking senangnya abah tak kembali ke hari baannya.
“Masa itu 12 hari…? Abah merasa baru 2 jam tertidur.” Kekeh abah yang sepertinya benar sudah Allah berikan kesempatan hidup untuk kedua kalinya.
Tiga hari berlalu, keadaan Dadang benar telah semakin stabil. Namun tetap belum di ijinkan untuk pulang kerumah apalagi ke Indonesia. Tetapi Muna dan Kevin sudah yakin sepenuhnya berani meninggalkan mama Rona dan Dadang tanpa pengawalan dari mereka lagi. Maka setelah berkonsultasi pada dokter, Muna dan Kevin lebih yakin lagi memilih untuk pulang ke Indonesia.
Maka tanpa beban dan kecemasan lagi, Muna dan Keviin, mama Leina dan suaminya pun. Kembali ketanah air. Untuk menata kehidupan yang sempat kacau karena goncangan ujian kehidupan. Jangan Tanya bagaimana bahagianya seluruh keluarga saat mendengar keberhasilan pengobatan Dadang. Terlebih-lebih ambu yang selama Dadang di rawat dan koma melakukan doa puasa, untuk keselamatan anaknya tersebut.
Sakit yang Dadang derita tidak hanya mengacaukan sistem kinerja rumah sakit yang Kevin tinggalkan, tapi juga berimbas pada rencana Siska dan Asep untuk melakukan preweding di Korea. Juga berefek pada rencana akad nikah Gilang dan Gita. Padahal operasi pemasagan ring pada jantung ibu Gilang sudah lebih dahulu di lakukan dengan sukses. Namun, baik pihak Gita maupun Gilang tidak berani mengambil kesimpiulan kapan akad nikah mereka di laksanakan sampai mendapat kabar selanjutnya dari Kevin.
Walaupun berkali-kali Kevin menyampaikan silahkan saja ingin melangsungkan niat baik tersebut tanpanya. Tapi, selain menunggu kesehatan ibu Gilang benar pulih. Gilang dan Gita sungguh tak bisa, seolah berbahagia di atas penderitaan Kevin dan Muna.
Maka, sepulangnya Kevin dan Muna di lakukanlah rembuk keluarga untuk melanjutkan segala rencana yang sempat tertunda. Sungguh peran Kevin sebagai putra pertama di keluarga Mahesa sekaligus menantu satu-satunya di keluarga Hildimar sangat berpengaruh besar dalam dua keluarga tersebut. Walaupun dulunya ia hampir tidak bisa di sebut sebagai manusia.Karena kelakuakn be jadnya.
Namun, sungguh waktu dapat menjawab semua misteri dan teka-teki hidup. Asalkan tetap di jalani dengan tekun, tabah dan percaya bahwa Allah maha mengetahui dan maha agung yang mampu membolak-baloikan kehidupan manusia. Maka berprasangka baiklah pada Allah.
Muna mana tau, dulu harus menabung sekuat tenaga sampai sempat ingin bekerja sebagai ojol yang akhirnya memutuskan menjadi OB. Justru mengantarkannya menjadi seorang istri seorang CEO yang penuh dengan lika liku yang tak terpikirkan oleh nalarnya.
Muna mana pernah tau mata birunya yang awalnya ia yakini hanya sebuah kebetulan akibat kesindiran waktu nyak hamil itu justru menyimpan identitas yang sebenarnya. Yang menghantarnya menjadi seorang direktur sebuah rumah sakit swasta tang sangat besar. Tapi Muna, tetaplah merasa dia bahwa ia adalah Muna Hidayatullah anak dari babe Rojak Baidilah dan nyak Fatime Rukhayah pasangan Betawi yang selalu menyayanginya dengan setulus hati. Namun, pula tak menampik bahwa ia adalah Monallisa Hildimar sang pewaris tunggal keluarga Hildimar.
Muna bahkan tak memiliki alasan untuk berhenti berbuat baik atas nikmat sehat, kelancaran rejeki yang mengalir atas keluarganya. Bahkan kini ia telah di karuniai dua orang anak yang tumbuh sehat, kuat dan cerdas. Terlebih Muna sangat beryukur telah di miliki oleh CEO yang dulu mesum, dingin dan arogan itu. Yang kini telah bermetamorfosis menjadi ksatria baja hitam. Tempatnya berlindung, bertukar pikiran, bermanja juga beribadah dalam waktu selama mungkin hingga maut memisahkan mereka.
OB MILIK CEO itu telah benar-benar di miliki tanpa syarat. Sebab, proses kepemilikan terjadi demikian alami tanpa paksaan walau di penuhi dengan adegan dramatis. Selalu bersyukur dan bertekunlah dengan apa yang menjadi bagianmu. Berusahalah semampu manusia, maka Allah akan menyempurnakan semuanya dengan indah. Berdamailah dengan masa lalu agar tidak menghalangi masa depan yang lebih cerah.
...TAMAT...
Dengan berat hati nyak sematkan kata END pada karya nyak ini.
Banyak tawa, tangis, geram, kesal, dan pelajaran selama karya ini di buat.
Nyak tak bisa selancar ini mengeluarkan inspirasi tanpa komen, like, gift bahkan vote para reader semua.
Kalian moodbosterku.
Jangan patah hati liat tanda oren di sisi kiri sampul ya...🤗
Sebab dengan tamatnya kisah OB MILIK CEO akan mempermudah nyak melanjutkan ektra part.
Nyak ga kemana-mana.
Hanya agar lebih relevan dengan isi cerita selanjutnya yang akan nyak hadirkan untuk memanjakan kalian.
Jangan Unfav🙏
Setelah ini nyak langsung gasspoll Gita dan Gilang.
Akhir kata…
Nyak minta maaf lahir batin jika dalam kisah ada kesamaan nama atau latarnya ya.
Juga misal alur kisah ini tidak sesuai dengan yang reader inginkan.
Nyak juga minta maaf jika komen nyak ada menyinggung perasaan para readers.
Minta ikhlasnya untuk suportnya selama ini.
Semoga terhibur dengan karya nyak.
LOPE se-INDONESIA RAYA
❤️❤️❤️❤️❤️