OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : SURGANYA WANITA


Gita dan Gilang bekerja di ruangan yang berbeda sebab Gilang adalah wakil CEO dan Gita dinbagian sekretaris. Dan antara bidang tersebut hanya tersekat oleh kaca. Membuat keduanya bisa tetap terus saling pandang dan lirik lirikan.


Mereka pengantin baru tapi kelakuan mereka di kantor sama seperti pasangan yang baru kemarin jadian pacaran. Saling melempar pandang, berbalas senyum dari tempat masing-masing. Jika bukan Gilang yang tertangkap sedang bersandar di kursi megahnya, memandang istrinya, bisa juga terbalik. Gita yang terpaku memandang suami tampannya itu.


Siska merasa risih akan pemandangan tersebut. Ia resah untuk kelanjutan kinerja dua orang di mabuk cinta tersebut. Walau pun mereka tak pernah kontak fisik untuk memamerkan kemesraannya. Tapi curi curi pandang itu bagi Siska merupakan cikal bakal kekacauan kinerja mereka.


Hari itu berlalu terasa lama bagi Siska yang mengisi waktunya dengan rasa kesal. Beberapa kali memanggil Gita untuk urusan kerja, tapi yang di panggil hanya memandang Gilang di ruang sebelah. Huh menyebalkan.


Jika Siska merasa hari itu terasa lama tapi tidak dengan pasangan itu. Mereka berdua bahkan merasa setengah hari itu hanya bagai setengah jam. Karena waktu mereka banyak di habiskan untuk ber tukar simbol cinta dengan menempelkan ibu jari dan telujuk menyilang. Sarange... begitu bentuk mulut keduanya bergantian. Sekarang mereka bukan hanya pasangan dua gombal lagi, tapi duo bucin.


Waktu pulang bekerja bagi pasangan itu sama seperti masa penjajahan Belanda. Merasa tidak merdeka. Sebab ternyata keduanya walau berada di bawah atap yang sama, dan hanya terpisah dinding kaca memudahkan untuk saling pandang, tapi parahnya tetap merasa saling merindu, ah lebay.


Sehingga saat sudah berada di dalam mobil keduanya bagai kesurupan, berdulu duluan comot mencomot pipi satu dan lainnya, terakhir saling beradu manuver di bibir. Hah... kayak remaja labil saja.


Gilang sudah melepas jas dan dasinya, membuka beberapa kancing kemeja atasnya agar penampilannya tidak begitu formal. Sebab mereka akan mampir dulu di mall sesuai kesepakatan mereka sebelum berangkat tadi. Bahwa mereka akan pergi berbelanja keperluan dapur.


Keperluan dapur? harus di Mall?


"A'a... ini arahnya ke mall?" tanya Gita yang sesungguhnya girang banget di ajak suami ke pusat perbelanjaan terbesar di kota Bandung.


"Jam segini, pasar tradisional sudaj tutup kali neng?" jawab Gilang santai.


"Tau gitu kita pulang dulu kali A'..." jawabnya memandang pakaian yang sudah sejak pagi melekat di tubuhnya. Ya... setelan pakaian kerja casual dengan celana se mata kaki berwarna nude, dengan sepatu straapy heels 3 cm.


"Ngapain?"


"Mandi lah, ganti pakaian dulu gitu. Biar seger, rapi juga kan cantik." Jawab Gita sungguh sungguh.


"Ga usah. Istriku ga mandi 7 hari juga tetep cantik kok." Gilang meraih tangan kanan Gita lalu menciumnya lembut.


"Tapi ntar kalo ketemu orang kan malu a', udah kucel gini." Gita masih saja mengadu argumennya.


"Mau ketemu siapa sih, jalan sama suami ini. Tenang sayang, kemanapun eneng melangkah nanti di dalam, a'a akan selalu gandeng tangan eneng deh, sueeer." Canda Gilang pada Gita yang malu dengan tampangnya.


"Aaallllaaah.... selalu gandengan. Bilang aja takut eneng khilaf liat barang barang." Tebak Gita asal.


"Hahaahaa... ketahuan deh." Kekeh Gilang mencubit pipi Gita dengan gemas.


Keduanya pum sudah berputar putar di area bahan makanan. Dari sayuran, buah, daging, ayam hingga aneka jenis saos, dan kecap di buru oleh Gita.


Gilang speachlees di buatnya, istrinya itu juga membeli aneka tepung. Dari Maizena, tapioka, sagu, beras, hingga terigu dan tepung roti.


"Neng... itu banyak tepung mau di apa kan?" kepo Gilang tak biasa melihat beberapa merk tepung itu.


"Mau belajar bikin kue a'. Jawabnya enteng.


"Oh..."


Gita membuka catatan dari dalam tasnya. Rupanya istrinya itu memang sudah siap lahir bating saat suaminya bilang akan mengajaknya belanja. Di sela kesibukannya bekerja dan lirik melirik tado, rupanya ia sudah merancangkan hal apa saja yang adak ia beli.


"A..."


"Apa sayang..."


"Di rumah ada blender?"


"Ada."


"Itu apa?"


"Alat penghalus makanan dengan beraneka macam mata pisaunya."


"Ga ada."


"Boleh beli?"


"Boleh."


"Okehh." Girang Gita menarik tangan Gilang menuju area alat masak elektronik.


"Pemanggang roti ada?" tanya Gita lagi.


"Ga ada."


"Angkat a...?" tanya Gita dengan senyum manisnya. Setelah berhasil memasukan food procesor tadi dalam trolly belanjanya.


Gilang sudah janji mengajak istrinya berbelanja, apapun yang di inginkan Gita wajib ia beli. Apalagi Gita sebenarnya tidak berniat menghamburkan uangnya. Yang ia beli adalah alat rumah tangga yang memang belum lengkap. Dan bahan makanan yang juga akan mereka berdua nikmati di rumah.


Senyum simpul agak gemes Gita berikan pada suaminya yang memang tidak terlihat dongkol kali ini membayarkan belanjaan yang hampir sama nilainya dengan belanjaan bersama ibu kemarin.


"Okeeh udah semua niih?" tanya Gilang selesai membayar.


"Sudah." Jawab Gita kembali menggandeng lengan Gilang mesra.


"Yakin?"


"Mang mau belanja apa lagi?"


"Kali mau mampir atau melipir ke outlet tas atau sepatu."


"A...yank. Jangan menggoda. Kita belum pesta nikah kan." Gita berusaha tidak tergoda.


"Tapi waktu di Swiss kita beneran ga sempat belanja lho. A'a ga percaya eneng ga suka belanja."


"A'a pliiis jangan memancing di air keruh. Outlet yang a'a tawarkan tadi surganya wanita lho. Tapi bisa jadi nerakanya para suami." Kekeg Gita.


"Masaaaa....?" tanya Gilang yang benar sudah menarik tangan Gita ke etalse yang berjejer sepatu sepatu cantik, modis dan mahal tentunya.


"Hati hati, ntar nyesel lho a...." tawa Gita berderai menyadari tubuh mereka sudah semakin masuk dalam outlet sepatu sepatu yang harganya tidak sopan itu. Entah Gilang salah tarik atau memang label harga di siti semua salah tempel. Sehingga harga minimalnya rata rata jutaan.


Gilang so' tegar saja saat berani memegang salah satu sepatu yang di dekatnya. Mau ngajak keluar malu, ga belikan juga gengsi. Akhirnya memilih untuk berdoa dan berdzikir saja, agar Allah memberikan rejeki lebih untuknya jika nanti istrinya memilih salah satu, salah dua atau salah tiga dari sepatu yang berjejer di sana.


Gita anak sultan sejak lama, harga sepatu begituan tentu bukan hal yang membuatnya tercekat tentunya. Tapi dua tahun terakhir ia sudah menjelma jadi orang biasa. Ia tau bagaimana rasanya mengumpulkan uang 4jt dalam sebulan. Dan terlalu kejamlaj dia jika menghabiskan itu hanya untuk harga sepasang sepatu.


"Gimana? Eneng mau yang mana?" tanya Gilang memberanikan diri tetap menawarkan sepatu di dekat mereka.


"Yang itu, warna hitam. Lalu yang kanan di rak tingkat dua warna kuning, terus yang haknya kaca, juga itu yang atasnya ada pita. Bawa semua ke sini, di coba dulu."


Bersambung...


Maaf lama ya readers


Ga sengaja sibuk pake bingit๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™