
Muna dan Kevin sudah sampai menuju IGD Hildimar Hospital. Wajah Muna bersimbah keringat dingin, sedikit pucat. Perawat segera mendoromg kursi roda dan mendudukannya di sana.
Dokter Agnes sudah siap di bilik ruangan itu, lengkap dengan sarung tangan sebab akan memulai pemeriksaannya.
"Suster bantu rebahkan di bed." Perintah dokter Agnes.
Kevin masih berdiri di sebelah Muna, tak ingin secenti pun jauh dari istrinya itu.
Dokter Agnes memberi kode pada perawat agar menarik selimut dan melepas atribut terakhir yang tentu saja akan menghalang jalannya pemeriksaan.
"Atur nafas ya bu, permisi saya periksa dalam dulu." Ijin dokter Agnes ramah.
Sementara Muna wajahnya mulai kecut-kecut masam ga jelas, sebab sakitnya mulai tak beraturan, dan terasa jaraknya makin dekat, lebih sering.
"Eeh...eh. Ga ada alat apa gitu? Selain pake tangan?" Hardik Kevin pada dokter Agnes yang mulai bingung akibat ke posesifannya pada Muna.
"Abang diem ah." Sarkas Muna pada Kevin yang terlihat ikut meringis melihat Muna semakin kesakitan. Dan dokter hanya tersenyum paham.
"Waaw, sudah pembukaan 7cm. Posisi bayi bagus, normal. Paling cepat 4 jam lagi. Jika masih kuat berjalan silahkan kalau mau jalan-jalan dulu."
"Jangan bercanda dokter, masa istri saya sudah kesakitan begini masih harus di suruh jalan. Ntar pinsan gimana?" bingung bercampur linglung meningkatkan emosi Kevin.
"Abang diem ga?" Dokter Agnes hanya tertawa melihat tingkah Kevin yang justru lebih panik dari Muna.
"Makan deh kalo masih ada selera makan, tenang. Bawa rilex saja. Santai. Keruangan mau pakai blankar, kursi roda atau jalan kaki?"
"Blankar!!!
"Jalan.!!!
Kevin dan Muna bersamaan menjawab tapi dengan jawaban yang berbeda.
"Mae... Pliiis. Tu perut sudah makin melorot saja yang. Abang gendong deh." tawar Kevin.
"Yang... Melorot itu yang di cari. Kan baby mau keluar."
"Ngaca deh Mae, muka mu itu udah kaya kapas putih pucet ga berdarah lagi. Pliiis yang... Jangan jalan lagi." Sungut Kevin membuat orang menggeleng melihat drama direktur rumah sakit mereka akan lahiran
"Ya sudah pake kursi roda." Muna memgalah. Dengan segera perawat menyodorkan kursi roda itu untuk Muna yang selanjutnya di dorong Kevin sesuai arahan mereka.
"Mau makan apa yang?" tanya Kevin sesampainya mereka di ruang rawat inap VVIP itu.
"Sop iga bakar, telor rebusnya 2 biji, minumnya es jeruk. Nasinya 1 porsi saja. Ga pake lama."
"Yakin habis Mae."
"Buat modal ngejan yang." Ucap Muna yang mengambil posisi duduk bersila di atas kasur khas rumah sakit tersebut.
Dadang terlihat tergopoh masuk ke ruangan VVIP itu, lalu pergi lagi untuk mencari makanan yang Muna inginkan.
"Vin, biar abah yang carikan. Kamu di sini saja dengan Muna. Mama juga sedang dalam perjalanan ke sini. Berdoa ya Vin, Muna yang kuat nak." abah Dadang menguatkan.
"Iya bah. Makasih. Doakan Muna juga." Jawab Muna sambil meringis.
Muna mencoba menenangkan dirinya, mengatur nafas, dan mencoba untuk terlihat kuat. Tapi keadaan perutnya semakin tidak bersahabat, sakit itu kian datang bertubi-tubi.
Muna berdiri, lalu beranjak akan ke toilet.
"Mau kemana?"
"Pipis yang."
"Abang temenin."
"Ga usah bisa sendiri."
"Nurut ah."
Muna pasrah saja saat Kevin benar mengantar bahkan menunggu sampai ia mengeluarkan air seninya.
"Biar abang yang siram."
"Lamaan bang."
"Kenapa?"
"Semriwing."
"Ah... Mae ada-ada saja. Jangan becanda, ini tuh gawat darurat siaga satu tau."
"Cih kayak ngerasa aja yang Muna rasa. Pernah melahirkan pa?" Muna masih sempat saja bercanda dalam kesakitannya.
Nyak Time dan babe yang langsung datang membawakan makanan pesanan Muna. Mereka berpapasan dengan Dadang di luar. Lalu meminta ijin untuk menjemput kakek Hildimar.
"Nyak suapin ya Mun." Kata nyak Time yang sudah siap membentang semua makanan pesanan Muna.
"Tong...elu juga harus makan yang banyak. Entuh anak kapan keluar kaga bisa di prediksi, mo di kira lama bisa sebentar. Di kira bentar taunya masih lama. Jadi, yang pasti-pasti aje kalian makan yang banyak. Kalian butuh tenaga ekstra." Perintah babe.
Muna sudah mulai makan, suapan demi suapan ia kunyah kadang dengan pelan, kada cepat, kadang terhenti karena kontraksinya datang lagi.
"Pegimane rasanya Mun?" penasaran nyak yang memang belum pernah ngalamin.
"Macem-macem nyak."
"Dimana sakitnye."
"Dari pinggang ampe kaki. Rasa ya tuh kaya mau lepas. Di di sini tuh mulesnya kayak mau B A B yang kueres banget." tunjuk Muna di bawah perut di atas mumun.
"Sabar ye nak. Babe ame nyak akan terus kasih dukungan buat lo." Usap babe asal di pinggang belakang Muna, ingin ikut merasakan yang Muna rasakan.
Sepiring sop iga bakar dan dua telor rebus sudah tandas oleh Muna. Tapi tanpa nasi. Muna mengaku sudah mugbang karena perutnya sudah sesak
Penunjuk waktu sudah mendekati tengah hari, itu artinya hampir 3 jam sudah Muna berada di rumah sakit.
"Bang... Muna udah siapin perlengkapan sholat. Abang zuhur sendiri ya. Muna udah kaga sanggup nih."
"Iya... Abang sholat di sini aja." jawab Kevin.
"Nyak babe ijin sholat di mushola aje ye. Sekalian makan deh." Pamit nyak babe.
"Sa ae kamu Mun. Pamit ya. Assalamulaikum."
"Walaikumsallam."
Muna semakin meringis tidak tahan, sakitnya semakin bertubi-tubi dan hebat, bahkan dalam jarak makin dekat, 5 menit sekali sakitnya datang, hilang, datang lagi. Muna memencet tombol panggil yang ada di kepalanya, sementara Kevin masih terlihat khusuk bermunajat, meminta, memohon agar persalinan istrinya berjalan lancar sehat dan selamat.
Baru saja Kevin melipat sajadah itu, rombongan dokter beserta perawatnya sudah datang membawa perlengkapan tempur. Seperti lampu sorot dan beberapa alat lainnya, seolah tau jika panggilan itu mengisyaratkan jika waktunya sudah dekat.
"Gimana?" tanya dokter Agnes
"Dokter... Ini tuh sakit banget." Tangis Muna pecah. Kevin kaget sebab memang jarang melihat istrinya menangis. Dan jika itu terjadi, artinya ia memamg sudah hampir tak sanggup mengjadapinya.
Kevin mendekat memegang tangan Muna, mengusap peluh yang makin mengembun di seluruh permukaan wajah istrinya. Mengecup dahinya, dan membisikan kata sayang di telinganya.
"Mae... yang kuat demi abang dan baby ya. Maaf membuatmu sesakit ini. Abang cinta Mae."
"Huaaa... Ini sakit banget bang hiks...hiks." tangis Muna makin kenceng.
"Pembukaan lengkap. Ibu tenang, jangan mengeluarkan emosi berlebihan, fokus ngejan, atur nafas. Nangis itu buang tenaga lho. Tuh, kepala ade bayi udah keliatan. Bantu dia cepet keluar ya bu. Pa... Tenangin ibu." Perintah dokter.
"Iiya siap." Jawab Kevin yang memilih melantunkan ayat-ayat suci al-quran di telinga Muna. Sedangkan mulut Muna sudah terbungkam dengan tangan kekar Kevin. Muna menggigit semau ia suka, yang penting menghindar pecah tangisnya lagi.
Kevin mencoba bersabar, so kuat saja menyandang gigitan Muna yang kadang terlepas, kadang terulang..
Sampai Muna melenguh panjang. Tarik napas, tiup-tipu sesuai aba-aba dari dokter Agnes.
"Tarik nafas... Tiup-tiup. Bagus. Nafas."
"Tarik nafas lebih panjang, dorong, tiup-tiup. Pinteer. Sedikit lagi.. tiup-tiup"
"Hua...hoowaa...howa."
Seketika rasa sakit yang mendera Muna lenyap bersama dengan suara tangis bayi merah yang telah lounching ke muka bumi.
"Selamat ya pa, bu. Bayinya lengkap sempurna. Oh... Kamu laki-laki nak. Selama ini tak pernah mau menunjukan jenis kelaminamu." Ternyata dokter Agnes pun penasaran dengan jenis kelamin bayi yang Muna kandung.
"Alhamdulilah. Makasih Mae, I love you more n more, sayang. Selamat ya, udah jadi mama dari anak kita." Kecupan Kevin bertubi-tubi di seluruh permukaan wajah yang masih basah dengan keringat itu.
Nyak babe masuk ruangan, dan betapa terkejutnya mereka, hanya di tinggal sholat dan makan siang, cucu mereka sudah nongol saja.
"Asalamualaikum, cucu babe dah lahir?"
"Walaikumsallam be. Iya... Suka yang cepet kayaknya si baby boy be."
"Cucu babe cowok."
"Iya be," ujar Kevin menghapus kaca-kaca pada pelupuk matanya.
"Alhamdulilah. Buruan kamu azani anakmu. Sudah punya nama?" Peluk babe pada Kevin.
"Siap sudah be." Jawab Kevin.
Sementara Muna masih menyelesaikan tugas lanjutan mengeluarkan ari-ari dan di rapikan daerah perumahan mumun agar segera di reparasi.
Giliran nyak yang menghapus keringatnya, melanjutkan ayat suci kembali di telinga Muna. Untuk sedikit membantu mengurangi dan mengalihkan rasa perih-perih asoy saat jarum dan benang yang terasa menusuk daging segar di bawah sana sedang beroperasi.
Kevin baru saja selesai mengazani anak lelaki pertamanya. Dan pintu terbuka, nampak kakek Hildimar di kursi roda datang dengan di dorong oleh Dadang, juga Rona.
"Maaf mama tidak mendampingimu Mun. Mama dan abah terkendala macet di jalan. Karena sudah terlanjur ke kantor ada dokumen yang harus mama tanda tangani."
"Ga papa ma." Jawab Muna
"Jangan liat aye di mari mama Muna. Nyak ame babe juga kaga liat secara lipe tuh cucu kita brojol."
"Lipe ape nyak?"
"Entuh secara langsung."
"Oh live."
"Ish Muna aah... Ya entuh maksut enyak. Jadi mama Muna, tuh cucu adil aje. Dia cuman mau di saksiin papanya doang."
"Vin... Ada luka?" tanya abah Dadang pada Kevin.
"Tangan bah." Jawab Kevin agak malu.
"Ngape Tong?" kepo babe.
"Muna gigit biar mingkem nahan sakit be." Jawab Muna yang sudah sadar akan perbuatannya saat berjuang melawan maut tadi.
"Siapa nama cucu buyutku?" tanya kakek Hildimar.
"Aydan Atthallah Hildimar. Aydan itu lelaki penuh semangat, Atthallah adalah karunia Allah. Jadi arti namanya adalah lelaki bersemangat, karunia Allah untuk keluarga Hildimar."
"Masyaallah... Nama yang bagus Vin. Terima kasih sudah menyambungkan nama Hildimar. Sesuai permintaan kakek. Terima kasih ya Allah." Jawab Kakek sangat bahagia mendengar namanya tersambung pada bayi laki-laki itu.
"Kalian jaga, rawat dan didik dia menjadi anak yang berahklak mulia, cerdas dan sehat jiwa serta raganya. Kakek titip rumah sakit ini sementara pada Muna, selanjutnya serahkan pada Aydan. Ini miliknya." Tegas kakek Hildimar.
"Papah... Kita besarkan bersama-sama saja buyut papa ya. Nanti saja kita bicara soal tampuk kekuasaan dan kepemilikan. Papa harus sehat terus, supaya bisa menimang cucu buyut papa." Usap Rona pada ayahnya.
"Kemarikan aku ingin memegang kepalanya saja, tidak berani menggendongnya." Pinta kakek Hildimar.
Perawat pun menyodorkan bayi yang ternyata mewarisi mata biru Hildimar tersebut, dengan rambut yang juga tidak hitam. Sepertinya gen Muna lebih turun pada bayi laki-laki tersebut.
Wajar saja namanya Aydan, sebab selama di kandungan sang ibu pun. Ia sudah tumbuh menjadi pribadi yang kuat, pantang menyerah penuh semangat. Di ajak ke kampus oke, di ajak bekerja pun oke. Sungguh diam-diam Kevin telah matang memikirkan nama anak pertamnya tersebut. Walau belum tau jenis kelaminnya selama waktu masih dalam kandungan.
Bersambung...
Yeee kita punya ponakan online nih.
Berasa ikut ngelahirin yaah, secara kita juga ikutan buat kan?
Nih nyak titip pic
Aydan Atthallah Hildimar ya.