OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 248 : PERKENALAN


Bus rombongan yang di tumpangi para pegawai PT. MK Farma sudah tiba di Bandung. Mereka di antar ke alamat masing-masing oleh supir bus.


Yang terakhir di antar adalah Gita dan Gilang. Tentu saja itu sengaja Gilang lakukan, sebab akan memenuhi janjinya akan memperkenalkan Gita pada ibu dan kaka perempuannya.


"Assalamualaikum." Sapa Gilang saat berdiri di depan bangunan sederhana, dengan pekarangan cukup luas dan di bagian depan terdapat kios jualan isi ulang air mineral.


"Walaikunsallam. Gilang... ibu telepon ga angkat terus sih nak. Bikin khawatir saja.


"Maaf hape Gilang teh di silent, bu. Sudah di jalan, sinyal juga susah." Jawab Gilang sambil mencium hormat tangan ibunya.


"Saha awewe geulis teh?"


"Iue calon minantu."


"Bener...Lang? Ulah ngahayal... ini teh bidadari, Gilang nemu di mana?"


"Gilang culik dari khayangan bu." canda Gilang riang.


"NengGi. Perkenalkan ini ibunya A Gilang. Ibu, ini temen deket yang insyaallah akan jadi teman hidup Gilang. Mohon di restui ya bu." Gilang menghentikan candaannya pada ibunya. Lalu keduanya bersalaman untuk yang pertama kali. Gita mencium punggung itangan ibunya Gilang.


"Eleuh... eluh. Ini teh bener ceweknya Gilang? Neng... bener?"


"Iya bu, A Gilang tidak bohong. Kami sudah 2 tahun saling kenal dan dekat."


"Ibu mah tidak punya alasan untuk tidak memberi restu. Kalo kalian sudah merasa saling cocok dan sudah saling tau status dan kebenaran satu sama lain. Ibu pasti mendukung.


" Terima kasih, bu."


"Ya... begini lah keadaan keluarga kami neng. Kalo cari pria yang kaya, bukan di sini. Tapi kalo mau yang setia, insyaallah, Gilang bisa di percaya." Ibunya Gilang berbicara berdua saja dengan Gita, sebab Gilang sudah memilih masuk kamarnya dan akan mandi.


"Maaf ya neng. Apa neng berasal dari keluarga yang mapan?"


"Kenapa bu?"


"Kami ini orang susah. Modal hidup kami hanya tekun dan jujur saja. Hidup mewah dan bergelimang harta itu sangat jauh dari kami. Jaei, misal neng cari yang begitu, dari sekarang mundur saja. Ibu tak mau kecewa dan di hinakan lagi."


"Gimana?"


"Mungkin Gilang belum cerita ke neng. Waktu masih kuliah, Gilang teh pernah dekat dengan cewek yang berasal dari keluarga yang mampu. Ibu tidak bisa melihat kedekatan mereka. Terutama cewek itu yang sering tidur di rumah ini. Padahal, Gilang waktu itu jarang di rumah. Sehab dia kerja sambil kuliah. Seorang ibu mana yang nyaman melihat, anak gadis orang datang dan pergi sesuka hati di tempat laki-laki. Jadi, ibu ingin Gilang melamar dia saja. Waktu itu ibu takut mereka kebablasan. Di halalkan segera menurut hemat ibu adalah pilihan terbaik."


"Lalu bu?" Gita pensaran, benar Giilang tidak pernah cerita tentang ini.


"Ya... niat kami baik. Ingin menyatukan hati yang katanya saling cinta. Tapi saat kami datang, kami di tolak, di hina bahkan dituduh mengguna-guna anak mereka supaya anaknya tergila-gila pada Gilang. Dan nempel gitu sama Gilang. Kami di usir neng."


"Lalu sekarang mereka benar putus?"


"Orang kaya mah bebas, si awewe teh kabarnya langsung di pindah ka luar negeri. Masalah putus mah, sekurang Gilang berusaha, ibu yang lebih banyak minta supaya Gilang melupakannya. Ibu juga selalu wanti-wanti supaya Gilang teh, hati-hati milih calon istri. Ibu makin tua, cuma mau bahagia. Liat Gilang besok punya keluarga sendiri, membina rumah tangganya demgan baik. Tidak perlu mewah yang sederhana saja, asal di ridhoi Allah SWT. Sebab menikah adalah ibadah." Panjang ibu Gilang bercerita dengan Gita. Membuat Gita tau, mengapa Gilang memiliki hati yang baik. Sebab ia punya ibu yang kuat dalam hal mendidiknya.


"Bicara apa sih... kok serius banget." Peluk Gilang dari belakang pada ibunya lalu mencium pipi dekat telinganya di hadapan Gita


"Ibu cerita tentang Risna, Lang."


"Masyaallah. Itu masa lalu bu. Ga usah di ungkit lagi."


"Bukan mengungkit. Hanya mau jujur saja sejak awal. Apa lagi Gilang bilang dia bukan pacar tapi calon mantu ibu. Dari sekarang saja dia harus tau, juga ibu tegas saja, ga mau di hina. Dan tidak mau Gilang kecewa."


"Hmm. Ibu, Gilang pamit antar eneng ke kostnya dulu ya. Kasian dia cape, belum istrirahat." Pamit Gilang pada ibunya. Lalu mengantar Gita ke kost. Ga usah tanya bagaimana posisi Gita di belakang Gilang ya. Belum jadian saja, tangan Gita sudaj sering di tarik Gilang ke perutnya dengan alasan dingin.


Tapi kali ini, tangan Gita tanpa di minta sudah erat saja melingkar di perut sixpactnya Gilang. Jadi, di depan Gilang tinggal melihat dari kaca spion betapa cantik wajah kekasihnya yang terlihat bahagia dengan senyum manisnya. Ya... Gilang sesekali mengelus tangan yang terkunci di atas perutnya saja, sebagai tanda betapa Gilangpun sangat menyayangi Gita.


"Kenapa Agi ga pernah cerita soal Risna?"


"Karena Baskoro udah cukup bikin neng bete." Jawan Gilang santai.


"Agi masih ada rasa dengan Risna?"


"Kalo masih, Agi mana bisa jatuh cinta sama eneng lagi."


"Agi bener serius sama eneng?"


"Ngapain?"


"Minta ijin nikah." Gita semakin mengeratkan pelukannya, sudah tidak peduli sama bantalan kembarnya yang jelas makin tertempel di belakang Gilang.


"Yakin..., hari ini ketemu kak Kevin. Di rumahnya juga ada kedua orang tuaku lho A." Ujar Gita saat sudah sampai depan kostnya.


"Nengnya yakin ga di ajak nikah cepet?"


"Kok cepet?"


"Kalo bisa cepet kenapa harus lambat?"


"Beneran udah yakin gitu sama Neng?"


"Hah... Neng kali yang ga yakin sama AGi. Apalah A'a neng hanya asisten pribadi yang berani jatuh cinta sama adik pemilik perusahaan."


"Tunggu Neng mandi sebentar ya. Kita ke sana sekarang." Jawab Gita yang sepertinya juga tidak mau menunda niat baik Gilang.


Kedekatan mereka dalam status pacaran memang bahkan belum seminggu. Tapi kebersamaan mereka yang bahkan lebih dari 730 hari sebagai teman satu bidang kerja, membuat mereka lebih kenal karakter masing-masing dengan alami.


Mereka sudah melewati masa bersama dalam menyelesaikan semua tugas kantor. Mereka pernah adu argumen saat berbeda pendapat, mereka pernah pergi nonton, jalan bersama seperti kebanyakan pasangan pacaran lainnya. Hanya memang tidak melakukan kontak fisik yang lebih dari memegang tangan satu sama lain. Sebab keduanya hanya terikat dalam sebuah konteks pertemanan.


Gita keluar dengan menjinjing tas lumayan besar dengan senyum berjalan ke arah Gilang dan siap menuju rumah Kevin.


"Kok bawa tas besar neng?"


"Besok Aqiqahnya Naya. Neng sekalian nginap deh, ada mama juga. Neng kangenlah tidur sama mama. Sekalian nego, supaya cepat dapat restu."


"Hm... neng."


"Apa?"


"Besok kalo nikah, Agi ga punya uang banyak buat bikin pesta yang besar-besaran lho?"


"Iya tau.... yang nikahin neng kan Gilang bukan Gibran anak presiden."


"Eneng maah... Agi serius ini."


"Lah... iya. Neng juga serius."


"Benernya Agi keder aja, kita biasa bikin persiapan pesta ala-ala pak bos. Nah, Agi ga mampu buat acara semewah itu neng."


"Yang mau begitu siapa?"


"Ya... gimana juga eneng tuh putri Mahesa. Mana mungkin nikahnya besok ijab kabul di KUA saja?"


"Ya klo gitu ga usah cepet. Kita kumpulin duit aja dulu biar bisa besar-besaran. Tapi kalo eneng sih, ga harus mewah. Yang pentingkan sah nya."


"Yaaah ini mah eneng yang udah kebelet."


"Eneng percaya Agi ga ingkar janji."


"Janji yang mana lagi?"


"Itu soal ciuman. Yang ga akan di ulang sampe halal. Lama dong neng bakalan di cip ok lagi." Kekeh Gita.


"Ha...ha... kalo urusan itu. Bisa kita atur ulang neng negonya. Yang penting sama-sama suka." Gita mencubit pinggang Gilang gemash.


Bersambung...


Hah... mereka ga tau aja ini reader dah panas dingin mau kepo MLnya 2G.


Ke part selanjutnya ya


Masih ada 25 Bab sebelum End.


Makasiih buat suport dari kalian semua❤️