
Untuk pertama kalinya Kevin tertohok dengan hardikan babe. Ia sungguh tidak bermaksud menyalahkan pria yang sangat dihormatinya bahkan telah di anggapnya seperti ayahnya sendiri.
Tetapi situasi ini sungguh membuatnya emosi dan berada dalam suasana hati yang ia sendiri sulit untuk menggambarkannya.
"Maaf be. Maafin Kevin. Kehilangan Muna sangat merusak seluruh hati dan pikiran Kevin be. Tolong ... Katakan pada Kevin... Harus apa sekarang?"
"Tong... Babe ngarti ame yang elu rasain. Tapi, apapun masalahnya. Emosi entuh kagak bakalan nyelesein masalah. Elu, kite berserah aje setelah elu udah usaha maksimal pan. Yakin, Tuhan akan pertemukan kite kembali. Dalam keadaan bae dan kagak kurang satu apepun. Elu udah doa belum? Tenangin diri lu. Minta Allah lindungi Muna di manepun dia berada sekarang. Elu tau Tong...? Entuh Allah kalo bisa ngomong, ude bosan babe panggil n babe mintain tolong mulu buat ketemu Muna. Enih aer liur babe kalo di kumpulin ude segalon aje keluar saat loncatan saat babe komat kamit minta Muna kembali." Seloroh babe agak lebay.
"Jadi... Kevin harus pasrah juga gitu?"
"Kalo elu mau terus usaha cari... Silahkan. Babe kagak ngelarang, juga kagak maksa lu harus dapet. Tapi babe mau ingetin. Dunia elu entuh bukan hanya tentang Muna. Masih banyak kerjaan dan masalah lain yang harus elu pikirin."
"Kenapa kesannya babe rela banget sih Muna hilang?"
"Bukan rela Tong. Hanya yakin saja, Allah pengatur segale. Misal... Misal Muna ketemu pun, ntar belom tentu bisa selalu ame babe n nyak."
"Maksud babe?"
"Laah... Pan kalian mau nikah Pin. Masa iye Muna ntar masih boleh tinggal ame babe n enyak."
Kevin makin gusar, lebih lebih teringat bahwa mestinya hari ini resmi menjadi suami Muna. Tetapi apalah daya manusia hanya bisa berencana, namun Tuhan juga yang menentukan.
"Nyaak... Gimana kalo Muna tidak akan pernah kembali?"
"Ya... Ape mau di kate. Segitu aje rejeki kite ame die."
"Nyak rela?"
"Pertanyaan lo kagak mutu Pin. Walau Muna bukan darah daging nyak, bukan berarti nyak kagak sedih. Elu kaga liat mata enyak ude kaya panda gini, siang malam cuma bisa nangis mikirin die."
"Bilangin ke enyak, orang tua mane yang kagak sedih di tinggal anak gadis tanpa jejak, saat suami juga kecelakaan. Cepet bilangin, nyak mau belajar jadi orang tegar."
Akhirnya Kevin menyadari kekeliruannya. Menyesal sempat curiga pada pasangan Betawi calon mertuanya itu. Mungkin hanya dia yang lebay, hingga pada orang tua Muna pun ia curiga, menyimpan sesuatu darinya.
"Tong... Orang sekarang bilangnye move on. Babe bener kagak? Banyak berdoa, dan isi hari elu ama sesuatu yang bae. Soal Muna, elu harus yakin. Kalo jodoh pasti ketemu." Lirih sekali suara itu, saat runggu Kevin menangkap.
Makin jelas baginya, kepasrahan babe dan nyak adalah akhir dari keputusasaan orang tua yang lebih merasa kehilangan darinya.
"Baiklah be, nyak. Maafkan atas keteledoran Kevin hari itu, yang tidak selalu mengawalnya dengan intens. Seperti yang pernah Kevin bilang ke nyak dan babe di awal kenal Muna. Dia menjadi istri Kevin atau tidak, bagi Kevin, nyak n babe adalah orang tua Kevin. Tolong perlakukan Kevin layaknya anak babe dan nyak mulai serkarang." Pinta Kevin dengan sungguh.
"Kagak lu minta juge, babe ame nyak ude anggep elu anak sendiri Pin." Usap babe pada punggung Kevin yang sudah mendekatkan dirinya pada babe.
Sementara Muna berputar-putar berkeliaran di Jakarta. Keluar masuk kantor yang berkaitan akan identitas, paspor bahkan visanya. Dalam waktu 12 jam semuanya selesai.
Semua data Muna berganti, menjadi Monalisa Hildimar. Bahkan kini ponsel dan momornya semua sudah berganti dengan yang baru.
Muna masih mengingat nomor ponsel Kevin. Dan menyimpannya dengan nama yang sama 'Abang'. Jaman memang canggih, bukan perkara sulit untuk menghubungi Kevin. Tetapi Muna sedang berada dalam mode tidak mau menghubungi Kevin, bukan karena tidak bisa, dua hal itu sangat berbeda bukan?.
Siapalah Muna hanya anak gadis yang belum genap 19 tahun, yang terkadang jiwa labilnya datang dan pergi sesuka hati. Kadang emosi dan egoispun merajai tindakannya.
Sesungguhnya Muna cukup trrguncang dengan identitas barunya, jika bukan babe yang memintanya untuk menerima pasangan yang katanya orang tua kandungnya ini, pasti Muna tidak akan melakukan hal ini.
Muna tidak sendiri berurusan. Selalu di kawal oleh Asep si cowok kasep. Yang memasang wajah cengegesan saat Dadang memilih ponsel untuk Muna.
Ikut sibuk memilih sebuah ponsel canggih dengan alasan ponselnya semalam terjatuh dan retak saat terburu-buru melayani keluarga itu mengantar Muna.
"A'a Sep. Elu kalo ganti hape sekalian aje ganti nomornye. Sebab kalo elu masih aktifin nomor entuh, Muna jamin elu bakalan di teror oleh seseorang yang sempat Muna hubungin semalem." Pinta Muna pada Asep yang benar ingin menghilangkan jejaknya dari Kevin.
Dadang tidak sempat mendengar Muna meminta, hanya baru mata Muna menatapnya saja, Dadang sudah langsung meminta Asep menunjukkan ponsel mana yang ia inginkan.
Pukul 8 malam lewat 45 menit, Muna, Rona dan Dadang sudah berada di dalam sebuah jet pribadi milik keluarga Hildimar untuk melakukan perjalanan reguler. Untuk menghemat waktu serta tak harus menunggu jadwal komersil yang kadang mengalami hambatan dalam urusan keberangkatan.
Muna tidak dapat menutupi kegelisahan dan kegugupannya.
Bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamanya melakukan perjalanan udara. Muna hanya di rawat oleh pasangan sederhana, yang tak punya dana juga kepentingan untuk pergi dengan alat tranfortasi ini.
Jangankan naik pesawat, menginjakkan kaki di bandar udara pun Muna tak pernah. Walau hanya sekedar untuk melihat-lihat.
Rona memberanikan diri mendekat dan menggenggam jemari Muna. Memberi suport untuk menenangkan hati anak yang pernah ia lahirkan itu.
"Ini pengalaman pertamamu sayang?" Ucapnya lembut sambil menyampir anak rambut Muna yang sedikit jatuh ke bagian wajahnya.
Muna mengangguk kecil. Ada kaca kaca di permukaan bola mata Muna. Terharu, dan tiba-tiba sudah rindu pada nyak dan babe.
"Kenapa sedih? Kamu mau kembali ke nyak dan babe mu? Atau lanjut bertemu kakekmu?" rangkaian pertanyaan itu justru meretakkan cetakan kaca tadi, menjadi puing airmata yang jatuh luruh.
Sambil menggeleng Muna berkata : "Ibu mau, Muna panggil apa?"
Sontak pertanyaan itu membuat Rona berlonjak memeluk tubuh Muna erat.
"Mama. Panggil aku mama Mona." Jawabnya histeris dengan tangis yang tak kalah pecah, betapa tidak. Satu-satunya impian yang ia kira tak akan pernah terwujud adalah di panggil mama oleh anaknya. Anak yang pernah ia kandung dan lahirkan.
"Boleh... Aye tetap di panggil Muna, mama?" Ucap Muna pelan dengan nada suara yang lembut pertanda benar ia telah dapat menerima kenyataan, jika kini memiliki orang tua lebih dari 1 pasang.
"Baiklah... Muna. Mama akan ikut memanggilmu dengan panggilan itu." Jawab Rona senang.
"Bagaimana dengan ayah Muna?" tanyanya lagi menyadari di dekat mereka juga ada seorang pria yang diam diam mengusap air mata yang tak sengaja luruh jatuh terbawa suasana.
"Abah... Itu cita-cita ayahmu. Jika memiliki seorang anak." Jawab Rona dengan senyum tersampir.
"Mama... Abah. Terima kasih sudah pertemukan Muna ame babe dan nyak. Selanjutnye... Apakah Muna boleh meminta sesuatu dari kalian?"
"Silahkan." jawab Dadang dengan segera.
"Setelah ketemu kakek, jangan paksa Muna untuk memilih di antara kalian. Jika boleh, biarkan Muna tetap menjadi anak babe dan nyak. Juga anak mama dan abah" pinta Muna yang sebenarnya masih sangat takut di pisahkan dengan orang tua angkatnya.
"Bertemu denganmu adalah keajaiban. Maka, mama tidak ingin melihatmu kecewa. Lakukan saja apapun yang membuatmu bahagia." Jawaban itu terdengar begitu manis dan bijak. Sungguh suatu penderitaan yang berkepanjangan baginya terpisah lama dengan anak mereka. Tetapi, tak ingin kehilangan dan di benci oleh anak sendiri adalah tujuan berikutnya. Maka segala ego untuk memiliki Muna sepenuhnya sudah ia tepis, asal Muna bahagia.
Kemudian mereka melanjutkan cerita keseharian Muna sejak kecil, remaja bahkan masa terakhir di perjumpaan mereka ini.
Banyak air mata terkuras saat indera dengar Rona dan Dadang saat menghayati kisah hidup seorang Muna. Yang ia jalani dengan penuh kesederhanaan. Bahkan harus tertunda kuliah, hanya karena biaya yang tidak memadai.
Muna akhirnya tertidur lelap di samping Rona sang mama. Di sebuah kamar mewah masih dalam perjalanan menuju Amesterdam.
Bersambung...
Pelan-pelan nyimaknya ya readers.
Dan cukup percaya, nyak otor adalah orang pertama yang bahagia saat kata SAH terucap untuk Kevin dan Muna.
Keep slow, keep stay n keep fav
Lop buay semua❤️